Ekonomi China memang monster. Pabriknya memenuhi dunia, teknologi mereka melaju kencang, dan ratusan juta orang berhasil naik kelas dalam waktu yang relatif singkat. Namun, kalau Anda coba cari cerita warga biasa yang tiba-tiba jadi jutawan gara-gara saham, hasilnya hampir nihil.
Berbeda jauh dengan narasi di Amerika yang penuh kisah “garage to glory” atau bahkan cerita retail investor Indonesia yang sempat viral saat IHSG sedang bagus.
Lantas, apa sebenarnya yang terjadi?
Di lapangan, cerita seperti Li Wei (bukan nama sebenarnya) cukup umum. Li Wei, seorang karyawan kantoran di Shenzhen, ikut-ikutan masuk pasar saham tahun 2020 saat teknologi lagi booming. Dia beli saham Tencent dan beberapa perusahaan EV dengan harapan cepat kaya. Dalam beberapa bulan, portofolionya sempat naik hampir 80 persen. Teman-temannya iri, bahkan ada yang pinjam uang untuk ikut. Tapi ketika regulasi pemerintah mengeras terhadap sektor teknologi pada 2021-2022, saham-saham itu anjlok drastis. Li Wei yang panik akhirnya jual rugi besar. “Saya pikir ini kesempatan emas, ternyata lebih mirip jebakan,” katanya sambil tertawa getir saat bercerita.
Kasus serupa terjadi pada gelembung 2015. Ribuan orang China biasa masuk pasar karena melihat indeks naik gila-gilaan. Beberapa memang sempat meraup keuntungan fantastis dalam waktu singkat. Tapi ketika bubble pecah, triliunan dolar lenyap dalam hitungan bulan. Banyak keluarga kehilangan tabungan pensiun, bahkan ada yang terpaksa jual rumah untuk nutup kerugian. Sampai sekarang, trauma itu masih terasa di kalangan investor retail.
Mengapa Sulit Lahir Miliarder Baru dari Saham
Ada beberapa alasan mendasar. Pertama, pasar saham China didominasi retail investor yang tradingnya sangat spekulatif. Mereka lebih suka beli saat harga naik dan buru-buru jual saat turun. Kedua, intervensi pemerintah yang kuat membuat pergerakan pasar sulit diprediksi. Satu kebijakan saja bisa menggoyang indeks puluhan persen. Ketiga, budaya keuangan masyarakat China masih lebih condong ke properti. Rumah dianggap aset “pasti”, sementara saham lebih dilihat sebagai alat spekulasi jangka pendek.
Akibatnya, meski ekonomi China tumbuh pesat, kekayaan besar lebih banyak dihasilkan dari bisnis riil, properti, atau perusahaan teknologi yang dibangun dari nol — bukan dari trading saham harian. Investor retail kecil sering jadi “korban” volatilitas, sementara keuntungan besar lebih dinikmati oleh institusi dan investor besar.
Bagi kita di Indonesia, cerita dari China ini bisa jadi pelajaran berharga. Jangan mudah tergiur cerita untung besar di media sosial. Pasar saham memang bisa memberi return menarik, tapi jarang memberi kekayaan mendadak tanpa risiko besar. Lebih baik bangun portofolio secara perlahan dengan disiplin, diversifikasi, dan kesabaran.
Pada akhirnya, China mengingatkan kita bahwa ekonomi raksasa belum tentu melahirkan banyak miliarder retail dari saham. Kekayaan yang sejati biasanya lahir dari proses panjang, bukan dari keberuntungan sesaat di layar chart.



