AI Ternyata Memicu Pemanasan Global, dan Kita Ikut Membayarnya

Ada satu ironi besar dari ledakan artificial intelligence atau AI.

Kita menggunakan AI untuk membuat hidup lebih efisien. Menulis lebih cepat, menerjemahkan lebih mudah, membuat gambar dalam hitungan detik, bahkan membantu perusahaan menghemat energi.

Tetapi untuk menjalankan semua itu, ada sesuatu yang harus terus bekerja di belakang layar: listrik dalam jumlah sangat besar.

Dan di sinilah cerita AI menjadi sedikit kurang nyaman.

Kita sering membayangkan AI sebagai sesuatu yang “digital”. Tidak terlihat, tidak berasap, tidak punya cerobong asap. Tinggal mengetik pertanyaan di layar, lalu beberapa detik kemudian jawabannya muncul.

Padahal di belakang satu percakapan sederhana itu ada pusat data, server, chip berdaya tinggi, sistem pendingin, jaringan listrik, dan infrastruktur fisik yang ukurannya bisa sangat besar.

Jadi, AI sebenarnya tidak benar-benar “di awan”.

Ada gedungnya. Ada listriknya. Ada panasnya.

Dan semakin pintar AI, semakin besar pula kebutuhan komputasinya.

AI Tidak Gratis bagi Bumi

Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan konsumsi listrik pusat data secara global mencapai sekitar 415 TWh pada 2024, atau sekitar 1,5% konsumsi listrik dunia.

Angka itu diperkirakan meningkat menjadi sekitar 950 TWh pada 2030.

Dengan kata lain, konsumsi listrik pusat data secara global diperkirakan lebih dari dua kali lipat hanya dalam beberapa tahun. IEA menyebut AI sebagai pendorong terpenting di balik lonjakan tersebut.

Coba bayangkan skalanya.

950 TWh bukan angka yang mudah dibayangkan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi IEA mengatakan angka tersebut sedikit lebih tinggi daripada seluruh konsumsi listrik Jepang saat ini.

Dan ini baru sisi listrik.

Pertanyaannya kemudian menjadi:

Listrik sebanyak itu berasal dari mana?

Jawabannya tidak selalu panel surya.

Ada Batu Bara dan Gas di Balik AI

IEA memperkirakan sekitar setengah pertumbuhan kebutuhan listrik pusat data hingga 2030 akan dipenuhi energi terbarukan. Itu kabar baik.

Tetapi sisanya tidak otomatis bersih.

Gas alam dan batu bara tetap berperan besar dalam memasok kebutuhan tersebut, sementara energi nuklir juga diperkirakan semakin penting. Secara global, batu bara masih menyumbang sekitar 30% sumber listrik untuk pusat data dalam perhitungan IEA saat ini.

Artinya, ketika kita meminta AI membuat gambar, merangkum dokumen, atau menjawab pertanyaan yang sebenarnya bisa kita cari sendiri di Google, sebagian energi yang digunakan untuk proses itu mungkin masih bersumber dari sistem listrik yang memiliki emisi karbon.

Bukan berarti satu pertanyaan sederhana akan langsung membuat bumi mendidih.

Tentu tidak.

Justru masalahnya ada pada skalanya.

Satu permintaan mungkin kecil.

Jutaan atau miliaran permintaan setiap hari menjadi cerita yang berbeda.

AI Semakin Efisien, Tetapi Penggunanya Semakin Banyak

Di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Teknologi AI sebenarnya semakin efisien. IEA mencatat penggunaan energi per tugas AI telah turun sangat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Untuk pertanyaan teks sederhana, konsumsi listriknya bahkan biasanya lebih kecil daripada energi yang digunakan televisi dalam periode waktu yang sama.

Jadi, apakah kekhawatiran soal energi AI berlebihan?

Tidak juga.

Karena ketika biaya menjalankan AI menjadi semakin murah, orang justru menggunakan AI semakin banyak.

Ini fenomena yang sederhana: efisiensi membuat konsumsi bisa naik karena penggunaan ikut melonjak.

Dan sekarang AI bukan lagi cuma chatbot.

Ada pembuatan video, gambar resolusi tinggi, model reasoning, AI agent yang melakukan tugas berulang, hingga sistem yang bekerja secara terus-menerus.

IEA memperkirakan beberapa penggunaan AI yang lebih berat, seperti pembuatan video, reasoning, dan agentic tasks, dapat membutuhkan energi ratusan hingga ribuan kali lebih banyak dibandingkan generasi teks sederhana.

Jadi mungkin bukan masalah ketika kita bertanya:

“Tolong buatkan caption Instagram.”

Tetapi bayangkan ketika miliaran orang mulai meminta AI membuat video, menjalankan simulasi, menghasilkan gambar, menyelesaikan pekerjaan kompleks, dan melakukan berbagai tugas secara otomatis sepanjang hari.

Di situlah angkanya mulai berbicara.

Yang Menarik, Investor Juga Ikut Terlibat

Ledakan AI bukan hanya cerita teknologi.

Ini juga cerita bisnis.

IEA mencatat belanja modal lima perusahaan teknologi besar untuk kebutuhan data center dan teknologi terkait AI sudah mencapai lebih dari US$400 miliar pada 2025, dan diperkirakan meningkat lagi sekitar 75% pada 2026.

Artinya ada perlombaan besar untuk membangun kapasitas komputasi.

Chip dibeli.

Data center dibangun.

Pembangkit listrik dicari.

Jaringan listrik diperluas.

Perusahaan energi mulai mendapatkan pelanggan baru dari sektor teknologi.

Jadi AI menciptakan efek domino yang jauh lebih besar daripada sekadar aplikasi yang kita buka di ponsel.

Di satu sisi, ini bisa menjadi pendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, ada biaya lingkungan yang tidak boleh disembunyikan di balik kata “inovasi”.

Lalu, Apakah AI Harus Dihentikan?

Menurut saya, jelas bukan itu jawabannya.

AI justru punya potensi membantu mengurangi emisi. Teknologi ini dapat digunakan untuk mengoptimalkan jaringan listrik, memperkirakan permintaan energi, meningkatkan efisiensi industri, mendeteksi kebocoran, sampai membantu integrasi energi terbarukan. IEA sendiri melihat AI memiliki peluang besar untuk meningkatkan efisiensi sektor energi.

Masalahnya bukan AI.

Masalahnya adalah bagaimana AI mendapatkan energinya dan untuk apa energi tersebut digunakan.

Kalau teknologi semakin pintar tetapi listriknya masih banyak bergantung pada pembangkit beremisi tinggi, maka ada paradoks yang sulit diabaikan.

Kita menggunakan teknologi masa depan dengan sebagian infrastruktur energi masa lalu.

Mungkin Kita Perlu Berhenti Menganggap AI sebagai Sesuatu yang “Virtual”

Saya kira ini bagian yang paling penting.

Setiap kali kita membuka AI, ada biaya fisik yang kita tidak lihat.

Ada listrik.

Ada mesin.

Ada pendingin.

Ada air.

Ada infrastruktur.

Ada emisi.

Dan ada investasi raksasa yang terus dibangun untuk memenuhi permintaan tersebut.

IEA memperkirakan emisi CO₂ tidak langsung dari konsumsi listrik pusat data sekitar 180 juta ton pada 2024, atau sekitar 0,5% emisi CO₂ dari pembakaran bahan bakar global. Dalam skenario dasar, angka tersebut hampir 80% lebih tinggi pada 2030.

Angka itu memang belum membuat data center menjadi penyumbang emisi terbesar dunia.

Tetapi pertumbuhannya yang cepat justru patut diperhatikan.

Karena AI baru mulai memasuki kehidupan kita secara massal.

Dan mungkin pertanyaan yang lebih relevan bukan:

“Apakah AI akan mengubah dunia?”

Itu sudah terjadi.

Pertanyaan yang lebih sulit adalah:

“Berapa biaya yang harus dibayar dunia untuk perubahan tersebut?”

Kita mungkin sedang membangun salah satu teknologi paling revolusioner dalam sejarah.

Tetapi jangan sampai karena terlalu sibuk membuat mesin semakin pintar, kita lupa memastikan planet tempat mesin itu bekerja masih cukup nyaman untuk dihuni.

Karena pada akhirnya, AI boleh menjadi semakin cerdas.

Tetapi listriknya tetap harus dibayar.

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Threads

Baca Juga :

AI Ternyata Memicu Pemanasan Global, dan Kita Ikut Membayarnya

Ada satu ironi besar dari ledakan artificial intelligence atau AI.

Kita menggunakan AI untuk membuat hidup lebih efisien. Menulis lebih cepat, menerjemahkan lebih mudah, membuat gambar dalam hitungan detik, bahkan membantu perusahaan menghemat energi.

Tetapi untuk menjalankan semua itu, ada sesuatu yang harus terus bekerja di belakang layar: listrik dalam jumlah sangat besar.

Dan di sinilah cerita AI menjadi sedikit kurang nyaman.

Kita sering membayangkan AI sebagai sesuatu yang “digital”. Tidak terlihat, tidak berasap, tidak punya cerobong asap. Tinggal mengetik pertanyaan di layar, lalu beberapa detik kemudian jawabannya muncul.

Padahal di belakang satu percakapan sederhana itu ada pusat data, server, chip berdaya tinggi, sistem pendingin, jaringan listrik, dan infrastruktur fisik yang ukurannya bisa sangat besar.

Jadi, AI sebenarnya tidak benar-benar “di awan”.

Ada gedungnya. Ada listriknya. Ada panasnya.

Dan semakin pintar AI, semakin besar pula kebutuhan komputasinya.

AI Tidak Gratis bagi Bumi

Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan konsumsi listrik pusat data secara global mencapai sekitar 415 TWh pada 2024, atau sekitar 1,5% konsumsi listrik dunia.

Angka itu diperkirakan meningkat menjadi sekitar 950 TWh pada 2030.

Dengan kata lain, konsumsi listrik pusat data secara global diperkirakan lebih dari dua kali lipat hanya dalam beberapa tahun. IEA menyebut AI sebagai pendorong terpenting di balik lonjakan tersebut.

Coba bayangkan skalanya.

950 TWh bukan angka yang mudah dibayangkan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi IEA mengatakan angka tersebut sedikit lebih tinggi daripada seluruh konsumsi listrik Jepang saat ini.

Dan ini baru sisi listrik.

Pertanyaannya kemudian menjadi:

Listrik sebanyak itu berasal dari mana?

Jawabannya tidak selalu panel surya.

Ada Batu Bara dan Gas di Balik AI

IEA memperkirakan sekitar setengah pertumbuhan kebutuhan listrik pusat data hingga 2030 akan dipenuhi energi terbarukan. Itu kabar baik.

Tetapi sisanya tidak otomatis bersih.

Gas alam dan batu bara tetap berperan besar dalam memasok kebutuhan tersebut, sementara energi nuklir juga diperkirakan semakin penting. Secara global, batu bara masih menyumbang sekitar 30% sumber listrik untuk pusat data dalam perhitungan IEA saat ini.

Artinya, ketika kita meminta AI membuat gambar, merangkum dokumen, atau menjawab pertanyaan yang sebenarnya bisa kita cari sendiri di Google, sebagian energi yang digunakan untuk proses itu mungkin masih bersumber dari sistem listrik yang memiliki emisi karbon.

Bukan berarti satu pertanyaan sederhana akan langsung membuat bumi mendidih.

Tentu tidak.

Justru masalahnya ada pada skalanya.

Satu permintaan mungkin kecil.

Jutaan atau miliaran permintaan setiap hari menjadi cerita yang berbeda.

AI Semakin Efisien, Tetapi Penggunanya Semakin Banyak

Di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Teknologi AI sebenarnya semakin efisien. IEA mencatat penggunaan energi per tugas AI telah turun sangat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Untuk pertanyaan teks sederhana, konsumsi listriknya bahkan biasanya lebih kecil daripada energi yang digunakan televisi dalam periode waktu yang sama.

Jadi, apakah kekhawatiran soal energi AI berlebihan?

Tidak juga.

Karena ketika biaya menjalankan AI menjadi semakin murah, orang justru menggunakan AI semakin banyak.

Ini fenomena yang sederhana: efisiensi membuat konsumsi bisa naik karena penggunaan ikut melonjak.

Dan sekarang AI bukan lagi cuma chatbot.

Ada pembuatan video, gambar resolusi tinggi, model reasoning, AI agent yang melakukan tugas berulang, hingga sistem yang bekerja secara terus-menerus.

IEA memperkirakan beberapa penggunaan AI yang lebih berat, seperti pembuatan video, reasoning, dan agentic tasks, dapat membutuhkan energi ratusan hingga ribuan kali lebih banyak dibandingkan generasi teks sederhana.

Jadi mungkin bukan masalah ketika kita bertanya:

“Tolong buatkan caption Instagram.”

Tetapi bayangkan ketika miliaran orang mulai meminta AI membuat video, menjalankan simulasi, menghasilkan gambar, menyelesaikan pekerjaan kompleks, dan melakukan berbagai tugas secara otomatis sepanjang hari.

Di situlah angkanya mulai berbicara.

Yang Menarik, Investor Juga Ikut Terlibat

Ledakan AI bukan hanya cerita teknologi.

Ini juga cerita bisnis.

IEA mencatat belanja modal lima perusahaan teknologi besar untuk kebutuhan data center dan teknologi terkait AI sudah mencapai lebih dari US$400 miliar pada 2025, dan diperkirakan meningkat lagi sekitar 75% pada 2026.

Artinya ada perlombaan besar untuk membangun kapasitas komputasi.

Chip dibeli.

Data center dibangun.

Pembangkit listrik dicari.

Jaringan listrik diperluas.

Perusahaan energi mulai mendapatkan pelanggan baru dari sektor teknologi.

Jadi AI menciptakan efek domino yang jauh lebih besar daripada sekadar aplikasi yang kita buka di ponsel.

Di satu sisi, ini bisa menjadi pendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, ada biaya lingkungan yang tidak boleh disembunyikan di balik kata “inovasi”.

Lalu, Apakah AI Harus Dihentikan?

Menurut saya, jelas bukan itu jawabannya.

AI justru punya potensi membantu mengurangi emisi. Teknologi ini dapat digunakan untuk mengoptimalkan jaringan listrik, memperkirakan permintaan energi, meningkatkan efisiensi industri, mendeteksi kebocoran, sampai membantu integrasi energi terbarukan. IEA sendiri melihat AI memiliki peluang besar untuk meningkatkan efisiensi sektor energi.

Masalahnya bukan AI.

Masalahnya adalah bagaimana AI mendapatkan energinya dan untuk apa energi tersebut digunakan.

Kalau teknologi semakin pintar tetapi listriknya masih banyak bergantung pada pembangkit beremisi tinggi, maka ada paradoks yang sulit diabaikan.

Kita menggunakan teknologi masa depan dengan sebagian infrastruktur energi masa lalu.

Mungkin Kita Perlu Berhenti Menganggap AI sebagai Sesuatu yang “Virtual”

Saya kira ini bagian yang paling penting.

Setiap kali kita membuka AI, ada biaya fisik yang kita tidak lihat.

Ada listrik.

Ada mesin.

Ada pendingin.

Ada air.

Ada infrastruktur.

Ada emisi.

Dan ada investasi raksasa yang terus dibangun untuk memenuhi permintaan tersebut.

IEA memperkirakan emisi CO₂ tidak langsung dari konsumsi listrik pusat data sekitar 180 juta ton pada 2024, atau sekitar 0,5% emisi CO₂ dari pembakaran bahan bakar global. Dalam skenario dasar, angka tersebut hampir 80% lebih tinggi pada 2030.

Angka itu memang belum membuat data center menjadi penyumbang emisi terbesar dunia.

Tetapi pertumbuhannya yang cepat justru patut diperhatikan.

Karena AI baru mulai memasuki kehidupan kita secara massal.

Dan mungkin pertanyaan yang lebih relevan bukan:

“Apakah AI akan mengubah dunia?”

Itu sudah terjadi.

Pertanyaan yang lebih sulit adalah:

“Berapa biaya yang harus dibayar dunia untuk perubahan tersebut?”

Kita mungkin sedang membangun salah satu teknologi paling revolusioner dalam sejarah.

Tetapi jangan sampai karena terlalu sibuk membuat mesin semakin pintar, kita lupa memastikan planet tempat mesin itu bekerja masih cukup nyaman untuk dihuni.

Karena pada akhirnya, AI boleh menjadi semakin cerdas.

Tetapi listriknya tetap harus dibayar.

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Threads
Scroll to Top