Pernah nggak Anda lihat teman atau saudara yang baru saja dapat bonus, langsung tergiur ikut tren saham yang lagi naik daun? Dua bulan kemudian, pasar koreksi sedikit, langsung panik jual rugi. Rasanya seperti dejavu, ya? Padahal sudah ada aplikasi investasi yang canggih, robot advisor, bahkan AI yang bisa analisis pasar. Tapi tetap saja, perilaku kita nyaris tak berubah.
Seolah-olah ada sesuatu yang tertanam dalam-dalam di otak manusia, sesuatu yang membuat kita tetap melihat investasi dengan cara yang sama dari generasi ke generasi.
Mengapa Pola Pikir Kita Begitu Sulit Berubah
Manusia memang makhluk yang cepat beradaptasi dengan teknologi, tapi lambat sekali mengubah naluri dasar. Otak kita masih dibentuk oleh masa lalu yang penuh ketidakpastian — di mana keputusan cepat soal “ambil atau tinggalkan” lebih penting daripada perencanaan jangka panjang.
Di Indonesia, fenomena ini terlihat jelas. Generasi Z yang mendominasi pasar modal sering terjebak dalam pola yang sama: FOMO saat harga naik, lalu herding behavior ikut-ikutan kawanan. Studi terkini tentang behavioral finance di kalangan investor retail Indonesia menunjukkan bahwa bias-bias seperti overconfidence dan loss aversion masih sangat kuat, terutama di kalangan muda yang baru mulai berinvestasi.
Bukan karena kurang informasi. Literasi keuangan kita sudah naik menjadi 66,46% menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK 2025.
Inklusi keuangan bahkan mencapai 80,51%. Tapi gap antara pengetahuan dan perilaku nyata masih lebar. Banyak yang tahu teori, tapi saat uang sendiri yang dipertaruhkan, emosi tetap mengambil alih.
Bias-Bias Abadi yang Selalu Muncul
Herding behavior mungkin yang paling kentara. Kita cenderung mengikuti apa yang dilakukan orang banyak. Lihat saja saat crypto atau saham teknologi lagi ramai dibicarakan di grup WhatsApp kantor atau TikTok. Semua orang beli, kita ikut beli. Padahal, seperti yang sering dialami pekerja kantoran di Jakarta atau Surabaya, keputusan ikut-ikutan itu jarang berakhir manis.
Kemudian ada overconfidence. Banyak investor pemula merasa “kali ini beda”, “saya lebih pintar”, setelah dapat untung sekali atau dua kali. Rasanya seperti pemain judi yang baru menang besar — lupa bahwa keberuntungan bukan strategi.
Loss aversion juga tak pernah hilang. Rasa sakit kehilangan uang jauh lebih menyakitkan daripada senangnya mendapat keuntungan yang sama besar. Makanya orang lebih suka hold saham rugi terlalu lama, berharap balik modal, daripada merealisasikan kerugian dan pindah ke instrumen yang lebih baik.
Analoginya sederhana: seperti kita yang masih sulit menolak makanan enak di warung padang meski sudah kenyang. Naluri purba untuk “ambil sebanyak mungkin” masih aktif, padahal di dunia investasi, keserakahan itu justru berbahaya.
Tantangan di Tengah Kemajuan Teknologi
Teknologi memang membantu — notifikasi, grafik real-time, edukasi gratis di mana-mana. Tapi justru kadang membuat masalah semakin rumit. Informasi berlebih malah memperkuat bias kita. Setiap hari ada berita, ada influencer, ada promo yang memicu emosi.
Tantangan terbesarnya adalah kita sendiri. Sampai kapan pun, selama manusia masih punya emosi, ketakutan, dan harapan, cara melihat investasi sulit benar-benar berubah. Yang bisa kita lakukan adalah mengelola, bukan menghilangkan.
Solusi praktisnya?
- Buat aturan pribadi yang ketat, seperti dollar-cost averaging setiap bulan tanpa peduli pasar lagi naik atau turun.
- Batasi waktu cek portofolio, misalnya hanya dua kali sebulan, supaya tidak terpancing fluktuasi harian.
- Cari komunitas atau mentor yang mendorong disiplin, bukan FOMO.
- Ingat selalu tujuan jangka panjang — untuk anak sekolah, pensiun, atau kebebasan finansial — bukan sensasi untung cepat.
Kadang, humorisnya, cara terbaik adalah “menipu” diri sendiri dengan membuat proses investasi menjadi sebiasa mungkin, seperti bayar listrik bulanan.
Menjadi Investor yang Lebih Bijak, Bukan Lebih Pintar
Pada akhirnya, investasi bukan soal mengalahkan pasar atau mengubah kodrat manusia. Lebih ke soal memahami diri kita sendiri dan bekerja dengan keterbatasan itu.
Kita tidak akan pernah melihat investasi dengan mata robot yang dingin dan rasional sepenuhnya. Tapi justru dengan menerima itu, kita bisa mengambil langkah yang lebih tenang dan berkelanjutan.
Mulai dari sekarang, coba renungkan pola investasi Anda selama ini. Apa yang selalu berulang? Sadari, lalu perlahan ubah kebiasaannya. Karena meski cara pandang manusia sulit berubah, kita tetap bisa belajar menjadi versi yang lebih bijak dari diri kita sendiri.




