Di sebuah desa di lereng Gunung Merapi, Yogyakarta, Pak Sardi duduk di teras rumah bambunya sambil mengeluh. Pagi tadi ia kembali ke warung untuk membeli pupuk, tapi harganya naik lagi. “Dulu cukup 50 ribu buat satu karung, sekarang hampir 70 ribu. Hasil panen padi nggak naik-naik, malah susah dijual,” katanya sambil menggeleng.
Pak Sardi, seperti jutaan warga desa lain di Indonesia, tak pernah memegang dolar AS seumur hidupnya. Tapi setiap kali nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar, ia dan keluarganya yang paling merasakan getirnya.
Bagaimana bisa? Mari kita bahas dengan bahasa sehari-hari. Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk banyak kebutuhan dasar. Ketika dolar menguat—seperti baru-baru ini mendekati Rp18.000 per dolar—barang-barang yang dibeli dari luar negeri jadi lebih mahal dalam rupiah. Pemerintah dan perusahaan harus mengeluarkan lebih banyak uang rupiah untuk membayar impor tersebut. Biaya itu kemudian dialihkan ke konsumen, termasuk warga desa.
Pertama, harga BBM. Solar dan bensin menjadi lebih mahal karena minyak mentah diimpor dengan dolar. Truk pengangkut hasil panen petani atau nelayan harus mengeluarkan ongkos lebih besar. Akibatnya, biaya distribusi naik, dan harga beras, sayur, atau ikan di pasar desa pun ikut terdorong naik.
Kedua, pupuk dan pakan ternak. Sebagian besar pupuk nonsubsidi dan bahan baku pakan ternak mengandung komponen impor. Peternak ayam atau sapi di desa harus membayar lebih mahal untuk memberi makan ternaknya. “Kalau pakan mahal, telur dan daging juga ikut naik. Tapi penghasilan kami tetap,” ujar seorang peternak kecil di Jawa Tengah yang saya temui beberapa waktu lalu.
Ketiga, obat-obatan dan barang kebutuhan sehari-hari. Dari obat untuk ternak hingga obat batuk anak, banyak yang bergantung pada bahan baku impor. Bahkan kedelai untuk tahu dan tempe, serta gandum untuk mie instan, sebagian besar datang dari luar. Harga-harga ini naik perlahan tapi pasti, mencuri daya beli tanpa terasa.
Kelompok berpenghasilan rendah di desa memang paling rentan. Mereka tak punya tabungan cadangan, akses kredit terbatas, dan pendapatan tak stabil. Petani harus keluar modal lebih besar untuk tanam padi atau jagung, tapi harga jual hasil panen sering tak ikut naik secepat biaya produksi. Nelayan kesulitan isi solar untuk melaut. Pedagang kecil di pasar desa melihat pelanggan semakin jarang membeli karena uang mereka habis untuk kebutuhan pokok. Buruh harian tani yang upahnya Rp70.000–Rp100.000 per hari merasa semakin sulit memenuhi kebutuhan keluarga.
Efek ini bukan kebetulan. Ekonomi global seperti jaring laba-laba yang sangat halus. Keputusan suku bunga di Amerika Serikat, perang dagang, atau gejolak geopolitik bisa membuat dolar menguat. Gelombang itu merembes hingga ke pelosok desa melalui rantai pasok yang panjang. Pemerintah memang memberikan subsidi pupuk dan BBM, tapi kapasitasnya terbatas, terutama saat rupiah terus tertekan.
Pak Sardi dan jutaan orang seperti dia mengajarkan kita satu hal penting: ekonomi bukan hanya soal angka di layar televisi atau transaksi orang kota. Ia soal beras di dapur, pupuk di sawah, dan harapan anak-anak untuk sekolah. Saat rupiah melemah, yang paling menderita bukan yang bermain valuta asing, melainkan mereka yang paling dekat dengan tanah dan laut.
Kita perlu kebijakan yang lebih tangguh, mulai dari mendorong produksi dalam negeri hingga perlindungan bagi petani kecil. Karena pada akhirnya, kemakmuran desa adalah fondasi kemakmuran Indonesia. Jika mereka terpuruk, seluruh bangsa ikut merasakan getarnya.






