Banyak orang salah memahami konsep jam terbang. Mereka berpikir bahwa melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun otomatis membuat seseorang menjadi ahli. Namun menurut Anders Ericsson, peneliti yang dikenal luas lewat riset tentang keahlian dan deliberate practice, asumsi itu keliru.
Ericsson menegaskan bahwa mengulang aktivitas yang sama selama 10 tahun tidak serta-merta menghasilkan kepakaran. Jika tidak ada peningkatan standar, tidak ada evaluasi, dan tidak ada koreksi, yang terjadi hanyalah stagnasi. Seseorang bisa saja memiliki “10 tahun pengalaman”, tetapi sebenarnya hanya mengulang 1 tahun pengalaman sebanyak 10 kali.
Dalam risetnya, Ericsson menemukan bahwa perbedaan antara profesional biasa dan ahli kelas dunia bukan terletak pada lamanya waktu bekerja, melainkan pada kualitas latihannya. Ia menyebut pendekatan ini sebagai deliberate practice — latihan yang terstruktur, penuh kesadaran, dan dirancang untuk mendorong batas kemampuan.
Baca juga : https://investhink.id/pernah-denger-causal-effect-ini-penjelasannya/
Ambil contoh seorang pemain musik. Jika ia hanya memainkan lagu yang sudah dikuasai selama bertahun-tahun, kemampuannya tidak akan berkembang signifikan. Namun ketika ia melatih bagian tersulit secara berulang, merekam permainannya, menerima kritik dari pelatih, lalu memperbaiki tekniknya — di situlah kemajuan terjadi.
Hal yang sama berlaku dalam bisnis, olahraga, investasi, maupun profesi apa pun. Tanpa evaluasi, kita hanya membangun kenyamanan. Tanpa koreksi, kesalahan menjadi kebiasaan. Tanpa tantangan baru, kemampuan berhenti bertumbuh.
Intinya jelas: waktu bukan faktor utama pembentuk keahlian. Yang menentukan adalah bagaimana waktu itu digunakan. Apakah kita sekadar hadir dan mengulang rutinitas, atau secara sengaja menekan batas kemampuan kita setiap hari?
Berhenti sekedar sibuk, mulailah berlatih. Tanpa feedback 10.000 jam hanyalah sampah waktu.