Pernahkah Anda membayangkan sebuah toko sepatu bermerek yang tiba-tiba memasang tulisan “Diskon 70%” di depan pintunya? Apa yang akan terjadi? Hampir pasti, orang-orang akan berkerumun, mengantre panjang, bahkan berebut untuk masuk ke dalam toko tersebut.

Logikanya sederhana barang berkualitas tinggi kini bisa didapatkan dengan harga jauh lebih murah. Kita merasa sangat beruntung jika berhasil membeli barang saat harganya sedang miring. Inilah perilaku wajar manusia dalam kehidupan sehari-hari, kita mencintai diskon.

 

Namun, ada sebuah tempat unik di dunia ini di mana logika tersebut seolah-olah tidak berlaku, yaitu pasar modal atau bursa saham. Di pasar modal, terjadi sebuah anomali psikologis yang sangat menarik: ketika harga aset-aset bagus sedang turun drastis atau sedang “diskon besar-besaran”, orang-orang bukannya datang mendekat untuk membeli, melainkan justru lari ketakutan. Pasar modal adalah satu-satunya tempat di mana saat label “Sale” dipasang, para pelanggannya justru panik dan ingin segera keluar.

Baca juga : https://investhink.id/sampai-kapan-indeks-harga-saham-gabungan-ihsg-terkoreksi/

Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya adalah karena rasa takut dan ketidakpastian. Saat harga saham turun, layar aplikasi investasi akan berwarna merah. Bagi orang awam, warna merah ini sering diartikan sebagai “bahaya” atau “kerugian”, bukan sebagai “peluang”. Mereka takut bahwa harga yang sudah turun akan terus turun sampai nol. Padahal, jika kita berbicara tentang perusahaan yang sehat, punya keuntungan besar, dan manajemen yang baik, penurunan harga hanyalah fluktuasi pasar sesaat yang menciptakan peluang emas untuk belanja di harga murah.

Contoh Penerapan Nyata

Mari kita ambil contoh sederhana pada saham sebuah perusahaan perbankan besar di Indonesia yang sudah sangat mapan. Katakanlah harga normal saham “Bank Biru” adalah Rp10.000 per lembar. Karena kinerja bank ini sangat bagus, banyak orang berebut membelinya di harga tersebut. Tiba-tiba, terjadi krisis ekonomi global yang sebenarnya tidak merusak kesehatan bank tersebut secara langsung, namun membuat harga sahamnya anjlok menjadi Rp7.000 per lembar.

Di sinilah letak perbedaannya. Orang awam yang melihat investasinya turun dari Rp10.000 ke Rp7.000 biasanya akan panik. Mereka berpikir, “Duh, uang saya hilang 30%! Lebih baik saya jual sekarang sebelum habis!” Mereka pun lari dan menjual sahamnya di harga rugi. Sebaliknya, investor yang cerdas akan berpikir seperti pemburu diskon di mall. Ia akan berkata, “Kemarin di harga Rp10.000 saja saya mau beli, sekarang barang yang sama harganya cuma Rp7.000. Ini saatnya saya borong!”

Ketika badai krisis berlalu dan kondisi ekonomi membaik, harga saham bank tersebut biasanya akan kembali ke level normal, bahkan naik lebih tinggi lagi ke angka Rp12.000. Investor yang berani membeli saat “diskon” di harga Rp7.000 tadi kini menikmati keuntungan yang sangat besar, sementara mereka yang lari ketakutan hanya bisa menyesal melihat kesempatan emas yang terlewat. Kekayaan di pasar modal bukan dibangun dengan mengikuti kepanikan massa, melainkan dengan keberanian untuk tetap menggunakan logika “beli murah, jual mahal” di saat semua orang sedang lari.

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Threads
Scroll to Top