Dalam dunia investasi, tidak semua pembelian aset dilakukan berdasarkan analisis fundamental atau nilai intrinsik suatu aset. Salah satu pendekatan yang sering kali memicu gelembung spekulatif di pasar adalah konsep Greater Fool Theory atau Teori Orang Bodoh yang Lebih Besar.

Teori ini menjadi sorotan ketika harga aset naik jauh melampaui nilai wajarnya karena dorongan spekulasi dan ekspektasi akan adanya pembeli selanjutnya yang bersedia membeli dengan harga lebih tinggi.

Illustrative art created by the author

Pendahuluan
Dalam dunia investasi, tidak semua pembelian aset dilakukan berdasarkan analisis fundamental atau nilai intrinsik suatu aset. Salah satu pendekatan yang sering kali memicu gelembung spekulatif di pasar adalah konsep Greater Fool Theory atau Teori Orang Bodoh yang Lebih Besar. Teori ini menjadi sorotan ketika harga aset naik jauh melampaui nilai wajarnya karena dorongan spekulasi dan ekspektasi akan adanya pembeli selanjutnya yang bersedia membeli dengan harga lebih tinggi.

Apa Itu Greater Fool Theory?
Greater Fool Theory adalah gagasan bahwa seseorang dapat membeli aset yang dinilai terlalu mahal (overvalued), dan tetap mendapat untung selama ada “orang bodoh yang lebih besar” yang bersedia membeli aset tersebut dengan harga yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, “kebodohan” bukan berarti bodoh secara intelektual, melainkan menggambarkan perilaku irasional dalam mengejar keuntungan jangka pendek tanpa memperhatikan risiko jangka panjang.

Contoh dalam Dunia Nyata
Teori ini sering terlihat dalam gelembung spekulatif seperti dot-com bubble di akhir 1990-an, gelembung properti tahun 2008, hingga fenomena NFT dan memecoin pada tahun-tahun terakhir. Investor membeli aset bukan karena percaya pada nilai jangka panjangnya, tetapi karena yakin akan ada orang lain yang lebih optimis dan kurang rasional untuk membeli aset tersebut dengan harga lebih tinggi.

Risiko dan Dampaknya
Pendekatan ini sangat berisiko. Ketika pasar mulai sadar bahwa harga tidak mencerminkan nilai nyata, kepercayaan akan runtuh, dan para “greater fool” akan kesulitan menjual asetnya. Akibatnya, harga jatuh tajam dan banyak investor merugi. Teori ini tidak dapat bertahan dalam jangka panjang karena pada akhirnya, “orang bodoh terakhir” akan terjebak dengan aset yang kehilangan nilainya.

Mengapa Teori Ini Terus Terjadi?
Faktor psikologis seperti keserakahan, FOMO (fear of missing out), dan euforia pasar sering mendorong investor untuk mengabaikan logika dasar investasi. Dalam situasi ini, banyak orang lebih fokus pada keuntungan cepat daripada risiko yang mungkin terjadi. Media sosial, rumor pasar, dan tren sesaat juga mempercepat penyebaran sentimen irasional ini.

Kesimpulan
Greater Fool Theory mengingatkan kita bahwa tidak semua kenaikan harga mencerminkan nilai sebenarnya. Sebagai investor bijak, penting untuk menghindari jebakan spekulatif dan tetap berpegang pada prinsip investasi yang solid, seperti analisis fundamental dan manajemen risiko. Meskipun menggoda, menjadi bagian dari lingkaran “greater fool” bisa membawa kerugian besar jika pasar berbalik arah.

Scroll to Top