Author name: Tim Edukator

Artikel, Investasi, Saham

Racikan East Ventures di Balik Suksesnya IPO Kopi FORE

Saham PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) melesat di harga 392 atau  mengalami auto reject atas  (ARA), Rabo (16/4/2025).  Ini merupakan ARA hari ketiga secara berturut-turut sejak listing kemarin, yang mana seremoni pencatatan saham FORE juga dihadiri oleh Franky Widjaja hingga Pandu Sjahrir. Pencatatan saham perdana PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE), Senin (15/4)   Lewat IPO, Fore Coffee menawarkan sebanyak 1,88 miliar lembar saham ke publik atau setara 21,08% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dengan skema ini, Fore Coffee meraup dana segar sekitar Rp 353,44 miliar.  Baca Juga : https://investhink.id/berani-beli-saham-juga-harus-berani-cut-loss-kenapa/ Listing FORE kemarin sempat mencuri perhatian karena dihadiri dua tokoh penting dalam dunia investasi dan bisnis nasional yaitu Pandu Sjahrir dan Franky Widjaja. Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara dan investor lama Fore, menyampaikan bahwa kehadirannya merupakan bentuk dukungan sebagai salah satu investor awal yang telah menanamkan modal secara pribadi sejak tujuh tahun lalu. “Saya investasi di Fore karena diajak Wilson Cuaca. Saya masuk sebagai investor pribadi, mendukung dari awal. Ini kapasitas saya sebagai liquidity provider,” ujarnya saat ditemui usai seremoni pencatatan, Senin (14/4/2025). Pandu menyebut bahwa IPO Fore merupakan bukti bahwa perusahaan lokal bisa tumbuh sehat dengan tata kelola yang baik. Ia menekankan pentingnya memberikan nilai tambah pada setiap investasi, termasuk di sektor riil seperti F&B.

Artikel, Investasi, Saham

Berani Beli Saham Juga Harus Berani Cut Loss, Kenapa?

Meski iklim investasi menunjukkan pertumbuhan signifikan, rupanya banyak calon investor yang dihadapi dilema untuk mulai berinvestasi. Salah satu petinggi disuatu perusahaan finance membagikan saran bagi para investor, khususnya investor yang baru saja memulai investasinya. Ilustrasi Cut loss ( Pinterest ) Dia memaparkan, dalam melakukan investasi, calon investor dipastikan memiliki disiplin terhadap diri sendiri. Dalam hal ini, cut loss atau kerugian menjadi bagian dari disiplin tersebut. “Kalau kita tidak disiplin cut loss, selesai kalau tiba-tiba marketnya drop panjang. Banyak drop 90% baru naik 5 tahun lagi,” Baca Juga : https://investhink.id/mengenal-sovereign-wealth-fund-swf-terbesar-di-dunia/ Dalam mendisiplinkan kerugian, beliau mengimbau, para investor untuk melakukan perbandingan antara profit dan kerugian, yaitu 1 banding 2. Artinya investor dapat menargetkan profit sebesar 100%, sedangkan kerugiannya 50%. “Di mana caranya stop loss? Ketika mau masuk investment, kita plan, kita harus juga plan kita punya risk and reward. Artinya, di mana kita mau take profit, di mana kita juga mau capt loss,” papar dia. Lebih lanjut, dia juga menegaskan bahwa calon investor tidak semata-mata mengharapkan untuk cepat mendapatkan keuntungan. Pasalnya, ada waktu ketika kondisi pasar mengalami kejatuhan. “Waktu market drop, kita bertendensi menunggu nanti suatu saat balik lagi kok. Mungkin pertama balik, iya. Tapi kalau pada kondisi ekonomi apa pun tidak mendukung dan market jatuh dan jatuh lagi, bertahun-bertahun sudah nunggu 5 tahun, market balik ke level yang kita masuk, untung sedikit kita take profit. Itu banyak yang seperti itu,” tegas beliau. Tak hanya disiplin terhadap kerugian, calon investor juga diwajibkan meningkatkan pemahaman mengenai investasi. Untuk hal ini, saat ini sudah bisa didapatkan dengan mudah melalui berbagai platform teknologi. “Artinya, fundamental di dalam knowledge kita mengenai keadaan pasar, mengenai keadaan produk, harus kita tingkatkan, supaya kita enggak ikut-ikutan.”

Artikel, Investasi, Saham

Alasan Kenapa Trader Saham Banyak Menyerah Ditahun Kedua

Bagi banyak trader saham pemula, tahun pertama mereka sering diwarnai dengan semangat tinggi, pembelajaran cepat, dan mungkin bahkan keberuntungan. Namun, tahun kedua dalam perjalanan trading bisa menjadi tantangan besar Ilustrasi seorang trader ( ChatGpt ) Tidak sedikit trader yang mengalami kegagalan setelah melewati tahun pertama mereka. Artikel ini akan mengulas beberapa alasan utama mengapa banyak trader saham mengalami kegagalan pada tahun kedua mereka. 1. Kehilangan Disiplin dalam Strategi TradingPada tahun pertama, trader seringkali fokus pada pembelajaran dan eksperimen dengan berbagai strategi. Banyak yang mencoba berbagai pendekatan, baik itu analisis teknikal, fundamental, atau bahkan trading berdasarkan sentimen pasar. Namun, pada tahun kedua, tanpa disiplin yang kuat dalam menerapkan strategi yang telah dipelajari, mereka mudah tergoda untuk mengambil keputusan impulsif. Baca Juga :  https://investhink.id/mengenal-george-soros-sang-maestro-investasi-risiko-tinggi/ 2. Kurangnya Pengelolaan Risiko yang TepatPada tahun pertama, banyak trader yang mungkin beruntung dan meraih keuntungan yang signifikan, namun mereka sering mengabaikan pengelolaan risiko yang tepat. Mereka mungkin merasa terlalu percaya diri setelah serangkaian transaksi yang menguntungkan. Namun, pada tahun kedua, pasar tidak selalu memberikan keuntungan yang sama, dan tanpa pengelolaan risiko yang solid, trader bisa kehilangan sebagian besar atau seluruh keuntungan mereka. 3. Overtrading dan Emosi yang Tidak TerkendaliPada tahun pertama, trader mungkin lebih fokus pada proses belajar dan mengenali pasar. Namun, pada tahun kedua, banyak trader yang merasa terburu-buru untuk “mempercepat” keuntungan mereka. Akibatnya, mereka terjebak dalam overtrading – yaitu melakukan terlalu banyak transaksi dalam waktu singkat, baik itu karena rasa ingin tahu, keserakahan, atau dorongan emosional lainnya. Overtrading sering kali dilakukan tanpa perhitungan matang, dan ini bisa menyebabkan trader terjebak dalam pola kehilangan modal. Emosi seperti ketakutan (fear) dan keserakahan (greed) yang tidak terkendali sering kali merusak pengambilan keputusan yang rasional, yang pada akhirnya mengarah pada kerugian. Trader yang tidak dapat mengelola emosi mereka dengan baik akan sangat berisiko gagal di tahun kedua. 4. Kurangnya Evaluasi dan Pembelajaran dari KesalahanSetiap trader pasti akan mengalami kekalahan. Namun, yang membedakan trader yang berhasil dari yang gagal adalah kemampuan untuk belajar dari kesalahan. Pada tahun kedua, beberapa trader mungkin gagal mengevaluasi kesalahan yang mereka buat pada tahun pertama. Mereka mungkin terlalu fokus pada hasil jangka pendek dan mengabaikan analisis terhadap kegagalan mereka. 5. Mengabaikan Psikologi TradingPsikologi trading adalah elemen penting yang sering diabaikan oleh trader pemula. Setelah mengalami keberhasilan pada tahun pertama, banyak trader yang merasa optimis dan terlalu percaya diri, sehingga mengabaikan pentingnya kesiapan mental dalam menghadapi pasar yang tidak selalu berpihak pada mereka. Pada tahun kedua, trader harus dapat mengelola ketakutan dan kegembiraan dengan lebih baik. Ketika pasar bergerak melawan mereka, trader harus tetap tenang dan rasional. Mengabaikan pengelolaan psikologi trading dapat memengaruhi pengambilan keputusan dan meningkatkan risiko kegagalan. KesimpulanTahun kedua adalah periode penting dalam perjalanan trading seorang trader saham. Banyak yang mulai kehilangan arah setelah melewati tahun pertama, dan tanpa pengelolaan disiplin, risiko, emosi, serta evaluasi yang baik, mereka cenderung gagal. Untuk menghindari kegagalan ini, penting bagi trader untuk fokus pada pengelolaan risiko, menghindari overtrading, menjaga psikologi trading yang sehat, serta terus belajar dari setiap pengalaman dan kesalahan yang terjadi. Perjalanan trading adalah proses panjang yang membutuhkan kedisiplinan, pembelajaran, dan pengelolaan risiko yang baik. Hanya dengan pendekatan yang matang dan konsisten, trader dapat bertahan dan sukses dalam jangka panjang.

Artikel, Investasi, Saham

Tau Gak Kenapa Warren Buffett Lebih Kaya dari Charlie Munger?

Warren Buffett dan Charlie Munger adalah dua tokoh legendaris dalam dunia investasi yang dikenal melalui kepemimpinan mereka di perusahaan Berkshire Hathaway. Meski keduanya sama-sama cemerlang dan telah bekerja sama selama puluhan tahun, Warren Buffett secara konsisten memiliki kekayaan yang jauh lebih besar dibandingkan Charlie Munger. Hal ini dapat dijelaskan melalui beberapa faktor utama berikut: 1. Titik Awal yang BerbedaWarren Buffett mulai berinvestasi sejak usia sangat muda dan membangun kekayaannya dari bawah. Ia mendirikan perusahaan investasinya sendiri, Buffett Partnership Ltd., pada usia 25 tahun. Di sisi lain, Charlie Munger memulai kariernya sebagai pengacara sebelum beralih ke dunia investasi secara penuh di usia yang lebih matang. Perbedaan waktu dalam membangun portofolio investasi membuat Buffett memiliki “head start” yang signifikan. 2. Strategi Investasi Lebih AgresifBuffett dikenal sebagai investor yang sangat disiplin dan oportunistik. Ia bersedia mengambil risiko besar di masa-masa awal kariernya, termasuk investasi dalam perusahaan kecil yang undervalued. Sementara itu, Munger lebih konservatif dan cenderung memilih investasi dengan margin keamanan yang sangat tinggi. Pendekatan Buffett yang lebih agresif membuahkan hasil besar dalam jangka panjang. 3. Kepemilikan Saham Berkshire HathawayWarren Buffett adalah pemegang saham terbesar Berkshire Hathaway. Ia secara konsisten menahan sahamnya dan tidak menjual, yang membuat nilai kekayaannya terus tumbuh seiring kenaikan nilai saham perusahaan. Munger memang memiliki saham, tetapi dalam jumlah yang jauh lebih kecil. Perbedaan proporsi kepemilikan ini menjelaskan jurang kekayaan di antara keduanya. Baca Juga : https://investhink.id/buffet-sudah-lama-cium-gejala-resesi/ 4. Fokus Utama dan Gaya HidupBuffett menjalani hidup yang sangat fokus pada akumulasi kekayaan melalui investasi dan akuisisi perusahaan. Ia hampir sepenuhnya mencurahkan hidupnya untuk Berkshire Hathaway. Munger, di sisi lain, menjalani kehidupan yang lebih seimbang, termasuk perannya dalam perusahaan lain dan kegiatan filantropis. Perbedaan fokus ini berpengaruh pada akumulasi kekayaan masing-masing. 5. Warisan dan Distribusi KekayaanCharlie Munger dikenal sebagai sosok dermawan yang banyak menyumbangkan kekayaannya untuk pendidikan dan amal, terutama kepada Universitas Stanford dan Universitas Michigan. Sumbangan ini tentu mengurangi jumlah kekayaan bersih yang tercatat, berbeda dengan Buffett yang lebih banyak menyimpan kekayaannya dalam bentuk saham hingga saat ini. KesimpulanWarren Buffett lebih kaya dari Charlie Munger bukan karena ia lebih cerdas atau lebih berbakat, tetapi karena perbedaan pendekatan hidup, strategi investasi, dan titik awal karier mereka. Meski berbeda dalam kekayaan, keduanya tetap menjadi simbol kebijaksanaan, kesederhanaan, dan etika tinggi dalam dunia investasi modern.

Artikel, Investasi, Saham

Apa dan Siapa Itu Liquidity Provider di Saham ?

Dalam dunia pasar modal, istilah liquidity provider semakin sering terdengar, terutama di tengah meningkatnya aktivitas perdagangan dan pertumbuhan investor ritel. Namun, siapa sebenarnya liquidity provider itu? Dan apa peran mereka dalam perdagangan saham? Ilustrasi Liquidity Provider ( Pinterest ) Pengertian Liquidity Provider Liquidity provider adalah pihak yang bertugas menyediakan likuiditas di pasar dengan cara terus-menerus memasang harga jual (ask) dan harga beli (bid) terhadap suatu saham. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa selalu ada penawaran dan permintaan, sehingga transaksi bisa terjadi kapan saja dengan spread yang wajar. Baca Juga : https://investhink.id/nahkoda-danantara-siapa-saja-berikut-ulasannya/ Dengan kata lain, mereka adalah “penjaga pasar” (market maker) yang menjembatani antara penjual dan pembeli agar perdagangan bisa berjalan lancar. Mereka mengambil keuntungan dari selisih harga jual dan beli (bid-ask spread). Peran Vital dalam Pasar Saham Peran liquidity provider sangat penting dalam menjaga efisiensi pasar. Tanpa mereka, saham-saham tertentu, khususnya saham dengan volume transaksi kecil (illiquid stocks), akan sulit diperjualbelikan karena tidak ada cukup permintaan atau penawaran. Hal ini bisa menyebabkan volatilitas harga yang tinggi dan risiko besar bagi investor. Dengan adanya liquidity provider, investor bisa lebih percaya diri untuk membeli atau menjual saham kapan saja karena tahu akan selalu ada pihak yang siap melakukan transaksi. Siapa Saja yang Bisa Menjadi Liquidity Provider? Di pasar saham Indonesia, liquidity provider umumnya adalah: Perusahaan Sekuritas (Broker)Banyak perusahaan sekuritas besar yang juga bertindak sebagai liquidity provider. Mereka memiliki sistem otomatis untuk memasang harga beli dan jual di berbagai saham. Bank atau Lembaga Keuangan BesarDi pasar global, bank investasi besar seperti JPMorgan atau Goldman Sachs juga berperan sebagai liquidity provider di berbagai instrumen keuangan, termasuk saham. Pelaku Khusus yang Ditunjuk BursaBursa Efek Indonesia (BEI) juga memiliki program Liquidity Provider (LP) yang menunjuk sekuritas tertentu untuk menjaga likuiditas saham-saham tertentu, terutama yang baru IPO atau saham dengan volume rendah.   Kesimpulan Liquidity provider adalah elemen penting dalam ekosistem pasar saham. Mereka memastikan bahwa perdagangan bisa berlangsung secara efisien dan berkesinambungan, bahkan untuk saham yang tidak begitu populer. Dengan memahami peran mereka, investor bisa lebih mengerti bagaimana pasar bekerja dan kenapa likuiditas menjadi faktor penting dalam memilih saham.

Artikel, Cryptocurrency, Investasi, Saham

Mengenal Tarif Resiprokal dalam Perang Dagang Antar Negara

Ketegangan dalam hubungan dagang antar negara sering kali memunculkan kebijakan balasan yang dikenal sebagai resiprokal. Istilah tersebut kembali mencuat seiring meningkatnya praktik proteksionisme yang dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menaikkan tarif impor terhadap sejumlah negara baru-baru ini. Foto: Infografis/ Tarif Dagang Trump/ Edward Ricardo Sianturi ( CNBC ) Namun, beberapa negara dikenai tarif jauh lebih tinggi, bahkan mencapai 104%. Trump menyebut tarif tinggi yang diterapkan terhadap negara-negara seperti China, Vietnam, dan Kamboja sebagai “tarif resiprokal”. Apa sebenarnya maksud dari istilah tersebut? Apa Tarif Resiprokal ? Tarif timbal balik atau resiprokal adalah pajak atau pembatasan perdagangan yang dikenakan oleh suatu negara terhadap negara lain sebagai respons terhadap tindakan serupa yang dilakukan oleh negara tersebut. Tujuan utama dari tarif timbal balik adalah untuk menciptakan keseimbangan dalam perdagangan antarnegara. Baca Juga : https://investhink.id/bikin-pasar-saham-naik-turun-apa-sebenarnya-perang-dagang-itu/ Tarif yang tinggi ini bisa memicu tarif balasan yang lebih tinggi dari negara yang bersangkutan. Banyak negara biasanya akan berunding demi mencapai kesepakatan dagang agar tarif bisa diperkecil.  Jika tidak tarif balasan atau resiprokal biasanya akan diberikan. Saling perang tarif terakhir yang paling ramai adalah pada 2018-2019 di mana China dan AS menjadi tokoh sentral di dalamnya. Meski disebut “tarif resiprokal”, penerapannya ternyata tidak sepenuhnya mencerminkan prinsip timbal balik. Beberapa negara dikenakan tarif tinggi berdasarkan besarnya defisit perdagangan AS dengan negara tersebut, bukan karena tarif atau hambatan yang negara tersebut terapkan pada AS. Sebagai contoh, produk dari Vietnam dikenakan tarif 46%, Kamboja 49%, dan Uni Eropa 20%. Sementara itu, hampir semua produk dari China sekarang dikenai tarif sebesar 104% setelah China menolak menurunkan tarif balasannya kepada AS.  

Artikel, Investasi, Management, Saham

Warren Buffet Timbun Cash, Sudah Lama Cium Gejala Resesi

Investor kawakan sekaligus CEO Berkshire Hathaway Warren Buffett diketahui menggenggam simpanan dalam bentuk kas sebesar US$334 miliar atau sekitar Rp5.529 triliun. Kini, langkah itu terbukti sebagai langkah strategis tepat di tengah ketidakpastian pasar saat ini. Warren Buffett pemilik perusahaan investasi Berkshire Hathaway Inc. (Bloomberg) Saat ini Nilai pasar di bursa saham Amerika Serikat telah menguap hanya dalam dua sesi perdagangan saja, sebesar US$ 5,4 triliun, setara dengan Rp89.456,4 triliun, terpicu ketakutan akan pecahnya resesi dan dampak buruk dari perang dagang yang disulut oleh Presiden AS Donald Trump.  Baca Juga : https://investhink.id/investor-misterius-djoni-terungkap-ternyata-pengusaha-asal-jambi/ Salah satu alasan utama mengapa Buffett menimbun uang tunai adalah kondisi pasar yang dinilainya tidak menarik. Saham-saham di AS telah mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan valuasi yang semakin mahal. Buffett sering mengatakan bahwa ia tidak ingin membeli saham dengan harga terlalu tinggi, karena itu dapat mengurangi potensi keuntungan jangka panjang. Selain itu, ketidakpastian ekonomi global juga menjadi faktor yang mempengaruhi keputusan Buffett. Inflasi yang masih tinggi, kebijakan moneter yang ketat dari Federal Reserve, serta ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia telah menciptakan lingkungan investasi yang penuh risiko. Dengan menyimpan lebih banyak uang tunai, Buffett memastikan bahwa Berkshire Hathaway memiliki fleksibilitas untuk menghadapi ketidakpastian ini. Di sisi lain, persaingan di sektor investasi semakin ketat. Banyak perusahaan investasi besar memiliki modal yang cukup untuk bersaing mendapatkan aset berkualitas tinggi. Dengan jumlah uang tunai yang sangat besar, Buffett bisa saja menunggu hingga pesaingnya mulai kehilangan daya beli akibat tingginya suku bunga dan ketidakstabilan pasar.

Artikel, Investasi, Saham

IHSG Rawan Trading Halt, Begini Mekanisme Ketika Terjadi Trading Halt

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG akan diperdagangkan hari ini setelah melewati libur panjang memeringati Nyepi dan Lebaran Idul Fitri 2025. IHSG hari ini ( 08/04/2025) diproyeksikan akan mengalami penurunan tajam, bahkan berpotensi dihentikan sementara atau suspend akibat tekanan global yang dipicu oleh kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.   BEI Image Photo by : Tasya Natalia Trading halt sendiri adalah pembekuan perdagangan untuk sementara dengan syarat seluruh pesanan yang belum dialokasikan tetap berada di JATS dan dapat ditarik oleh anggota bursa. Ketika terjadi kepanikan pasar dengan transaksi jual atau beli yang menyebabkan IHSG jatuh, maka BEI akan memberlakukan penghentian sementara keseluruhan perdagangan. Baca Juga : https://investhink.id/bikin-pasar-saham-naik-turun-apa-sebenarnya-perang-dagang-itu/ Dalam revisi aturan yang ditetapkan oleh BEI pada (08/04/2025)  trading halt dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu pertama, penghentian perdagangan sementara waktu selama 30 menit ketika IHSG turun 8 persen. Kemudian, trading halt kembali berlaku selama 30 menit saat indeks ambruk 15 persen dan jika apabila pasar mengalami koreksi sampai 20 % maka suspend akan diberlakukan sampai akhir hari. Trading halt tidak hanya terjadi di awal 2025, tetapi sempat beberapa kali diberlakukan ketika pandemi Covid-19 pada 2020. Saat itu, BEI sebagai pemangku kebijakan pasar saham langsung mengambil tindakan dengan melarang pelaku pasar melakukan praktik jual kosong (short selling). 

Artikel, Cryptocurrency, Investasi, Saham

Melemah, Rupiah Ambruk hingga Sentuh Level Rp16.700/USD

Pada libur Lebaran kali ini, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS justru terpuruk. Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (2/4) pukul 11:59 WIB, nilai tukar rupiah melemah 33,00 poin (0,20 persen) ke Rp 16.732 per dolar AS. Adapun pengumuman tarif impor terbaru dari Presiden AS, Donald Trump, juga dipercaya menjadi salah satu penyebabnya utamanya. Ilustrasi Rupiah terhadap Dollar US ( Pixabay ) Mengenai kebijakan tarif impor terbaru, Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan tarif timbal balik akan dikenakan pada negara-negara yang menggunakan bea masuk pada barang AS. Besaran tarifnya pun akan diumumkan lebih lanjut oleh Trump secara langsung. Kemudian menurut analis dari Panin Sekuritas, Felix Darmawan, pelemahan rupiah ini juga bisa mengecilkan surplus dagang kepada AS dan secara total terjadi di tengah perlambatan harga komoditas andalan seperti batu bara dan nikel. Baca Juga : https://investhink.id/bikin-pasar-saham-naik-turun-apa-sebenarnya-perang-dagang-itu/ “Sebagai contoh, selama libur Lebaran 2024, rupiah tertekan akibat ekspektasi penundaan pemangkasan suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik yang mendorong arus keluar modal asing. Rupiah melemah dari Rp 15.873 per USD pada 5 April menjadi Rp 16.176 per USD saat BI kembali beroperasi pada 16 April,” ujar Felix.

Artikel, Investasi, Saham

Tradisi Bagi-Bagi Uang saat Lebaran, Begini Sejarahnya

Salam Tempel adalah salah satu tradisi yang sering ditemui saat lebaran. Tradisi ini adalah tradisi orang tua memberikan uang kepada anak-anak ataupun sanak keluarga saat hari raya Lebaran. Namun, bagaimana asal usul membagikan uang saat Lebaran? Ilustrasi bagi bagi uang, Ternyata Begini Asal Usul Tradisi Bagi Uang saat Lebaran (Foto: istock) Ternyata, tradisi berbagi uang baru saat Lebaran sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Berawal dari kebiasaan kerajaan, berkembang menjadi bagian dari budaya masyarakat, bahkan sempat dilarang oleh penjajah. Kini, meskipun dunia semakin digital, tradisi ini tetap lestari. Berawal dari Zaman Kerajaan Mataram Islam Sejarah mencatat bahwa kebiasaan berbagi uang baru saat Lebaran sudah ada sejak abad ke-16. Pada masa Kerajaan Mataram Islam (abad ke-16 hingga ke-18), para raja dan bangsawan memberikan uang baru sebagai hadiah kepada anak-anak dan para pengikutnya saat Idul Fitri. Hadiah ini bukan sekadar pemberian biasa, melainkan simbol rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Para raja dan bangsawan biasa memberikan uang baru sebagai hadiah kepada anak-anak para pengikutnya saat Idul Fitri. Hadiah uang baru tersebut mereka bagikan sebagai bentuk rasa syukur. Pada masa itu, uang baru memiliki nilai lebih dibandingkan uang lama karena dianggap lebih bersih dan suci. Hal ini sejalan dengan makna Idul Fitri sebagai hari kemenangan dan kesucian setelah Ramadan.  Baca juga : https://investhink.id/belajar-investasi-dari-permainan-monopoli/  Seiring waktu, tradisi pemberian uang baru mengalami perubahan. Jika dahulu uang baru hanya diberikan kepada anak-anak, kini pemberian uang baru juga meluas ke orang dewasa, pembantu rumah tangga, hingga karyawan di berbagai perusahaan. Menurut catatan sejarah, konsep THR pertama kali muncul pada era kabinet Soekiman Wirjosandjojo dari Partai Masyumi. Pemerintah saat itu memberikan tunjangan bagi aparatur negara untuk meningkatkan kesejahteraan mereka saat Lebaran. Konsep ini kemudian berkembang luas dan menjadi tradisi yang terus dipertahankan hingga sekarang. Saat ini, selain memberikan uang tunai, banyak orang yang mulai menggunakan uang elektronik atau dompet digital untuk berbagi THR. Namun, meskipun teknologi berubah, makna dari tradisi ini tetap sama, yaitu sebagai simbol kebersihan, kesucian, dan rasa syukur.

Scroll to Top