Author name: Tim Edukator

Artikel, Cryptocurrency, Investasi, Saham

Mengenal Logical Fallacy yang Sering Terjadi dalam Berinvestasi

Dalam dunia investasi, keputusan yang diambil seharusnya didasarkan pada data, analisis, dan pertimbangan rasional. Namun pada kenyataannya, banyak investor – baik pemula maupun berpengalaman – sering kali terjebak dalam kesalahan berpikir atau logical fallacy. Logical fallacy adalah pola berpikir yang tampak logis tapi sebenarnya menyesatkan. Jika tidak disadari, kesalahan logika ini bisa berdampak buruk pada keputusan investasi dan bahkan menyebabkan kerugian finansial yang besar. Ilustrasi gambar dari istock Adakalanya kita ingin memenangkan perdebatan dengan telak dan tanpa disadari telah mengatakan hal-hal yang personal tentang lawan. Dalam berinvestasi juga, kita merasa apa yang kita pilih adalah yang paling benar, hingga dalam situasi yang terbalik, kita tetap merasa membenarkan pilihan tersebut walaupun kenyataannya salah. Berikut ini beberapa jenis logical fallacy yang paling sering terjadi dalam aktivitas berinvestasi: 1. Gambler’s Fallacy (Kekeliruan Penjudi) Investor menganggap bahwa setelah sebuah aset turun selama beberapa waktu, maka “sudah waktunya” naik kembali. Contoh:“Saham ini sudah turun terus selama seminggu. Besok pasti naik.”→ Padahal, pergerakan harga saham tidak bergantung pada tren masa lalu, melainkan pada kondisi pasar dan faktor fundamental. 2. Sunk Cost Fallacy (Kesalahan Biaya Hangus) Ketika seseorang tetap mempertahankan investasinya karena merasa sudah terlanjur rugi, padahal seharusnya investasi tersebut dihentikan. Contoh:“Saya sudah rugi 10 juta, kalau saya jual sekarang berarti rugi beneran.”→ Padahal, mempertahankan investasi buruk hanya karena sudah rugi malah bisa memperbesar kerugian. 3. Herd Mentality (Ikut-ikutan Mayoritas) Banyak investor terbawa arus dan melakukan apa yang orang lain lakukan tanpa riset atau analisis sendiri. Contoh:“Banyak yang beli saham ini, pasti bagus!”→ Padahal, popularitas tidak selalu berarti kualitas. Tren pasar bisa berubah cepat. 4. Confirmation Bias (Bias Konfirmasi) Mencari informasi yang hanya mendukung keyakinan pribadi, dan mengabaikan informasi yang bertentangan. Contoh:“Menurut saya saham ini bagus, jadi saya hanya baca artikel yang mendukung.”→ Ini bisa membuat penilaian menjadi tidak objektif dan menutup mata terhadap risiko yang nyata. 5. Overconfidence Bias (Terlalu Percaya Diri) Merasa yakin bahwa keputusan yang diambil pasti benar, sering kali karena pengalaman untung sebelumnya. Contoh:“Saya pernah untung besar di saham ini, saya yakin akan terulang.”→ Pasar bersifat dinamis, dan keberhasilan masa lalu tidak menjamin keberhasilan masa depan. 6. Recency Bias (Bias Kejadian Terbaru) Menganggap bahwa kejadian yang baru terjadi akan terus berlangsung di masa depan. Contoh:“Dalam 2 minggu ini harga terus naik, pasti masih akan naik.”→ Keputusan investasi tidak boleh hanya berdasarkan tren jangka pendek, karena bisa menyesatkan. 7. Anchoring Bias (Bias Patokan) Mengandalkan harga atau data awal sebagai patokan tetap, meskipun sudah tidak relevan. Contoh:“Saham ini dulu pernah 20.000, sekarang 10.000 berarti murah.”→ Harga murah harus dibandingkan dengan kondisi fundamental saat ini, bukan sekadar masa lalu. Kesimpulan  Logical fallacy dalam investasi bisa menggiring investor pada keputusan yang tidak logis, bahkan merugikan. Menyadari adanya kesalahan berpikir ini adalah langkah awal untuk menjadi investor yang lebih bijak dan rasional. Alih-alih mengikuti emosi atau asumsi yang menyesatkan, penting untuk selalu kembali ke data, riset, dan logika yang sehat. Dengan menghindari fallacy dalam berpikir, kamu bisa mengambil keputusan investasi yang lebih matang dan terukur — dan itu adalah kunci utama menuju kesuksesan finansial jangka panjang.

Artikel, Investasi, Saham

Apa Itu Standar Deviasi dalam Investasi Saham ?

Dalam dunia investasi, memahami risiko adalah kunci untuk membuat keputusan yang bijak. Salah satu cara paling umum dan penting untuk mengukur risiko adalah melalui standar deviasi. Tapi, apa sebenarnya standar deviasi itu dan mengapa penting bagi investor? Ilustrasi Standar Deviasi  Standar deviasi adalah ukuran statistik yang menunjukkan seberapa besar fluktuasi (variabilitas) return (keuntungan) suatu investasi dari rata-ratanya. Dalam konteks investasi, standar deviasi membantu mengukur tingkat risiko atau ketidakpastian dari hasil investasi tersebut. Jika return suatu investasi memiliki standar deviasi yang tinggi, artinya nilai investasinya sering berubah secara ekstrem, baik naik maupun turun. Sebaliknya, jika standar deviasi rendah, maka fluktuasi return-nya relatif stabil dan konsisten. Misalnya, dua saham memiliki rata-rata return tahunan 10%: Saham A memiliki standar deviasi 3% → artinya return biasanya bergerak antara 7% hingga 13%. Saham B memiliki standar deviasi 15% → artinya return bisa bergerak liar antara -5% hingga 25%. Dari sini, kita tahu bahwa Saham B lebih berisiko meskipun rata-rata keuntungannya sama dengan Saham A. Mengapa standar deviasi penting dalam investasi ? Mengukur Risiko Investasi:Investor bisa membandingkan risiko antar aset, misalnya saham vs obligasi. Menentukan Toleransi Risiko:Investor konservatif cenderung memilih aset dengan standar deviasi rendah. Sementara investor agresif bisa lebih toleran terhadap volatilitas tinggi. Membentuk Portofolio Seimbang:Dengan mengetahui standar deviasi masing-masing aset, investor bisa mengkombinasikan aset yang saling melengkapi (diversifikasi) agar risiko total portofolio lebih terkendali. Hubungan dengan Diversifikasi ? Menambahkan berbagai jenis aset dalam portofolio (diversifikasi) dapat mengurangi standar deviasi total portofolio, selama aset-aset tersebut tidak berkorelasi sempurna. Grafik hubungan antara jumlah saham dalam portofolio dengan standar deviasi menunjukkan bahwa risiko bisa diturunkan secara signifikan hingga titik tertentu (sekitar 15–20 saham). Kesimpulan Standar deviasi dalam investasi bukan hanya angka statistik, tetapi merupakan alat penting untuk memahami dan mengelola risiko. Dengan memahami standar deviasi, investor dapat membuat keputusan yang lebih tepat sesuai dengan tujuan keuangan dan profil risiko mereka. Ingat, return yang tinggi sering kali datang bersama risiko yang tinggi, dan standar deviasi membantu Anda melihat sejauh mana risiko itu dapat diterima.

Artikel, Investasi, Saham

Greater Fool Theory: Ketika Harga Tidak Lagi Mencerminkan Nilai

Dalam dunia investasi, tidak semua pembelian aset dilakukan berdasarkan analisis fundamental atau nilai intrinsik suatu aset. Salah satu pendekatan yang sering kali memicu gelembung spekulatif di pasar adalah konsep Greater Fool Theory atau Teori Orang Bodoh yang Lebih Besar. Teori ini menjadi sorotan ketika harga aset naik jauh melampaui nilai wajarnya karena dorongan spekulasi dan ekspektasi akan adanya pembeli selanjutnya yang bersedia membeli dengan harga lebih tinggi. Illustrative art created by the author PendahuluanDalam dunia investasi, tidak semua pembelian aset dilakukan berdasarkan analisis fundamental atau nilai intrinsik suatu aset. Salah satu pendekatan yang sering kali memicu gelembung spekulatif di pasar adalah konsep Greater Fool Theory atau Teori Orang Bodoh yang Lebih Besar. Teori ini menjadi sorotan ketika harga aset naik jauh melampaui nilai wajarnya karena dorongan spekulasi dan ekspektasi akan adanya pembeli selanjutnya yang bersedia membeli dengan harga lebih tinggi. Apa Itu Greater Fool Theory?Greater Fool Theory adalah gagasan bahwa seseorang dapat membeli aset yang dinilai terlalu mahal (overvalued), dan tetap mendapat untung selama ada “orang bodoh yang lebih besar” yang bersedia membeli aset tersebut dengan harga yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, “kebodohan” bukan berarti bodoh secara intelektual, melainkan menggambarkan perilaku irasional dalam mengejar keuntungan jangka pendek tanpa memperhatikan risiko jangka panjang. Contoh dalam Dunia NyataTeori ini sering terlihat dalam gelembung spekulatif seperti dot-com bubble di akhir 1990-an, gelembung properti tahun 2008, hingga fenomena NFT dan memecoin pada tahun-tahun terakhir. Investor membeli aset bukan karena percaya pada nilai jangka panjangnya, tetapi karena yakin akan ada orang lain yang lebih optimis dan kurang rasional untuk membeli aset tersebut dengan harga lebih tinggi. Risiko dan DampaknyaPendekatan ini sangat berisiko. Ketika pasar mulai sadar bahwa harga tidak mencerminkan nilai nyata, kepercayaan akan runtuh, dan para “greater fool” akan kesulitan menjual asetnya. Akibatnya, harga jatuh tajam dan banyak investor merugi. Teori ini tidak dapat bertahan dalam jangka panjang karena pada akhirnya, “orang bodoh terakhir” akan terjebak dengan aset yang kehilangan nilainya. Mengapa Teori Ini Terus Terjadi?Faktor psikologis seperti keserakahan, FOMO (fear of missing out), dan euforia pasar sering mendorong investor untuk mengabaikan logika dasar investasi. Dalam situasi ini, banyak orang lebih fokus pada keuntungan cepat daripada risiko yang mungkin terjadi. Media sosial, rumor pasar, dan tren sesaat juga mempercepat penyebaran sentimen irasional ini. KesimpulanGreater Fool Theory mengingatkan kita bahwa tidak semua kenaikan harga mencerminkan nilai sebenarnya. Sebagai investor bijak, penting untuk menghindari jebakan spekulatif dan tetap berpegang pada prinsip investasi yang solid, seperti analisis fundamental dan manajemen risiko. Meskipun menggoda, menjadi bagian dari lingkaran “greater fool” bisa membawa kerugian besar jika pasar berbalik arah.

Artikel, Investasi, Management, Saham

Apa Itu Buy with the Rumor, Sell with the News? Investor Wajib Tahu

Dalam dunia investasi dan perdagangan saham, ada banyak strategi yang digunakan oleh pelaku pasar untuk memaksimalkan keuntungan. Salah satu prinsip yang cukup populer, meski sering disalahartikan, adalah istilah “Buy with the rumor, sell with the news” atau dalam bahasa Indonesia, “Beli saat rumor, jual saat berita keluar.” Lalu, apa sebenarnya makna di balik ungkapan ini? shutterstock.com Image Pengertian “Buy with the Rumor, Sell with the News” Secara sederhana, prinsip ini menggambarkan perilaku pasar yang didorong oleh ekspektasi dan sentimen, bukan hanya oleh fakta yang sudah terjadi. Ketika sebuah rumor atau kabar yang belum dikonfirmasi beredar (misalnya tentang potensi merger, peluncuran produk baru, atau laporan keuangan yang kuat), banyak investor mulai membeli saham terkait karena mereka berharap nilai saham tersebut akan naik begitu kabar itu menjadi kenyataan. Namun, begitu berita tersebut benar-benar diumumkan ke publik, harga saham yang sebelumnya telah naik sering kali mengalami koreksi atau bahkan penurunan. Mengapa? Karena harapan pasar sudah “dipricing in” — artinya ekspektasi positif sudah tercermin dalam harga saham sebelum berita itu resmi keluar. Akibatnya, setelah berita dirilis, banyak investor justru mengambil untung (profit taking), yang mendorong harga saham turun. Contoh KasusBayangkan sebuah perusahaan teknologi besar dikabarkan akan meluncurkan inovasi produk baru. Saat rumor ini menyebar: Para trader dan investor mulai membeli saham perusahaan itu, mendorong harga naik. Ketika produk benar-benar diluncurkan dan berita resmi keluar, harga saham malah turun karena: Produk tidak memenuhi ekspektasi setinggi rumor. Investor yang sudah untung sejak awal rumor memutuskan menjual untuk mengunci keuntungan. Pasar merasa tidak ada lagi kejutan baru yang bisa mendorong harga lebih tinggi.   Mengapa Ini Terjadi?Ada beberapa alasan psikologis dan teknis di balik fenomena ini: Ekspektasi Pasar: Harga saham mencerminkan harapan masa depan. Ketika rumor beredar, harapan tersebut mendorong permintaan. Realitas vs Harapan: Setelah berita nyata keluar, terkadang realitas tidak sebaik ekspektasi yang dibentuk oleh rumor. Profit Taking: Trader profesional sering menggunakan momen berita resmi untuk menjual dan merealisasikan keuntungan. Mekanisme “Sell the News”: Bahkan berita yang sebenarnya positif bisa menyebabkan penurunan harga jika pasar sudah mengantisipasinya sebelumnya.   Strategi Menghadapi Fenomena Ini Bagi investor, memahami prinsip ini sangat penting untuk mengelola risiko. Berikut beberapa tips: Jangan hanya membeli saham berdasarkan rumor tanpa analisis yang kuat. Waspadai potensi pembalikan harga setelah berita besar diumumkan. Gunakan manajemen risiko seperti stop-loss untuk melindungi modal. Jika memanfaatkan rumor, pastikan Anda juga punya rencana exit yang jelas begitu berita keluar.   Kesimpulan“Buy with the rumor, sell with the news” adalah gambaran klasik tentang bagaimana pasar bereaksi lebih terhadap ekspektasi daripada fakta aktual. Ini adalah pengingat bahwa dalam dunia investasi, emosi, sentimen, dan ekspektasi bisa memainkan peran yang lebih besar daripada realitas itu sendiri. Memahami dinamika ini dapat membantu investor membuat keputusan yang lebih rasional dan menghindari jebakan pasar berbasis euforia sesaat.

Artikel, Investasi, Saham

Sell In May and Go Away : Apa itu Sebenarnya?

Dalam dunia investasi saham, ada banyak pepatah atau prinsip lama yang sering dibicarakan para investor. Salah satu yang paling terkenal adalah “Sell in May and Go Away”. Tapi, apa sebenarnya maksud dari ungkapan ini? Apakah ini hanya mitos, atau ada fakta di baliknya? Mari kita bahas lebih dalam. Apa Itu “Sell In May and Go Away”? “Sell in May and Go Away” adalah sebuah strategi pasar saham yang berasal dari observasi historis bahwa performa pasar cenderung melemah pada periode Mei hingga Oktober, dibandingkan dengan November hingga April. Dengan kata lain, para investor disarankan untuk menjual saham mereka pada bulan Mei, dan “menghilang” dari pasar sampai akhir tahun, untuk menghindari potensi penurunan kinerja. Strategi ini terutama populer di pasar saham Amerika Serikat dan Eropa, tetapi belakangan ini konsepnya juga mulai diperbincangkan di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Apakah ” Sell in may and go away ” ? berlaku untuk pasar saham Indonesia ?? Meskipun fenomena sell in may and go away berasal dari luar negeri, tapi dampaknya juga seringkali dapat berimbas pada bursa saham di Indonesia. Pertanyaannya adalah seberapa besar pengaruh sentimen sell in may terhadap kinerja pasar saham Indonesia? Untuk mengetahui jawabannya, kita perlu mengecek terlebih dulu bagaimana kinerja historis IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) selama periode Mei – Oktober dalam beberapa tahun belakangan.  Setelah itu, kita dapat membandingkan jumlah periode dimana IHSG terbukti berkinerja buruk terhadap jumlah periode data keseluruhan untuk mengetahui seberapa akurat pengaruh sentimen sell in may and go away terhadap kinerja IHSG. Pada contoh ini, kami menggunakan data kinerja bulanan IHSG selama 20 tahun terakhir (2002 – 2021). Data ini menggunakan fitur Seasonality dari Stockbit. ( Fitur Seasonality Stockbit ) Setelah mengolah data di atas, kami mendapatkan hasil bahwa selama 20 tahun terakhir, ternyata hanya ada 7 kali saja dimana IHSG berkinerja buruk pada periode Mei – Oktober. Sisanya sebanyak 13 kali IHSG justru mampu membukukan kinerja positif, bahkan pada beberapa periode IHSG sempat menorehkan kinerja yang cukup impresif dengan tingkat pengembalian mencapai lebih dari 30%.  Kesimpulan Jika dihitung secara persentase, diperoleh tingkat akurasi “Sell in May and Go Away” di pasar saham Indonesia adalah sebesar 35%. Dengan kata lain, kita bisa menyimpulkan bahwa sentimen Sell in May and Go Away tidak begitu berpengaruh signifikan terhadap kinerja IHSG. “Sell in May and Go Away” adalah salah satu fenomena menarik dalam dunia investasi yang mencerminkan bagaimana psikologi dan pola musiman bisa mempengaruhi pasar. Namun, sebagai investor cerdas, kita perlu memahami bahwa strategi investasi yang baik adalah yang berdasarkan analisis mendalam, bukan hanya pada mitos atau pola masa lalu. Pasar saham adalah tentang kesabaran, konsistensi, dan keputusan rasional — bukan sekadar mengikuti pepatah lama.

Artikel, Investasi, Saham

Mengenal Price Earning Ratio ( PER ) dalam Investasi Saham

Dalam dunia investasi saham, salah satu indikator paling populer dan sering digunakan oleh investor untuk menilai kelayakan sebuah saham adalah Price Earning Ratio atau disingkat PER. Memahami konsep dan cara menghitung PER bisa membantu kita membuat keputusan investasi yang lebih cerdas dan terinformasi. Yuk, kita bahas satu per satu! Investopaper image Apa Itu Price Earning Ratio (PER)? Price Earning Ratio (PER) adalah rasio yang membandingkan harga saham sebuah perusahaan dengan laba bersih per saham (Earnings Per Share/EPS) perusahaan tersebut.Secara sederhana, PER menunjukkan berapa tahun dibutuhkan untuk mendapatkan kembali modal investasi kita jika laba perusahaan tetap konstan. Fungsi PER dalam Investasi Mengukur apakah harga saham terlalu mahal, terlalu murah, atau wajar. Membandingkan valuasi antar perusahaan dalam industri yang sama. Memberikan gambaran ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan laba perusahaan ke depan.   Rumus Menghitung PER PER dapat dihitung dengan rumus sederhana berikut: Keterangan: Harga Saham = Harga pasar satu lembar saham. EPS = Laba bersih perusahaan dibagi jumlah saham yang beredar. Cara Mengitung EPS :  Contoh Perhitungan Misalkan: Harga saham PT XYZ = Rp 2.000 Laba bersih PT XYZ = Rp 100 miliar Jumlah saham beredar = 500 juta lembar Maka:   Selanjutnya Artinya, PER PT XYZ adalah 10. Ini menunjukkan bahwa dibutuhkan 10 tahun laba bersih perusahaan untuk mengembalikan harga saham saat ini, jika laba tetap konstan. Interpretasi Price Earning RatioPER Rendah: Bisa menandakan saham undervalued (murah) atau justru mengindikasikan masalah dalam perusahaan (misalnya pertumbuhan laba yang stagnan). PER Tinggi: Bisa menunjukkan bahwa pasar optimis terhadap pertumbuhan laba perusahaan di masa depan, namun juga bisa berarti saham overvalued (terlalu mahal). Catatan: PER sebaiknya tidak dilihat sendirian. Bandingkan PER perusahaan dengan: PER rata-rata industri sejenis. PER historis perusahaan itu sendiri. Kondisi pasar dan ekonomi secara umum.   Kapan PER Lebih Relevan Digunakan? PER lebih tepat digunakan untuk: Perusahaan yang sudah mapan dan memiliki laba stabil. Membandingkan saham-saham dalam industri yang mirip karakteristiknya. Investor yang mencari investasi jangka menengah hingga panjang.   Sebaliknya, PER kurang relevan untuk perusahaan baru, perusahaan yang masih merugi, atau bisnis dengan pendapatan sangat fluktuatif. KesimpulanPrice Earning Ratio adalah alat sederhana namun sangat berguna dalam menilai apakah sebuah saham layak dibeli atau tidak. Dengan memahami cara menghitung dan menginterpretasikan PER, kita bisa membuat keputusan investasi yang lebih objektif dan terhindar dari jebakan emosi pasar. Namun ingat, PER hanyalah salah satu dari banyak alat analisis. Selalu kombinasikan dengan indikator lain dan pertimbangkan aspek fundamental perusahaan secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi. Selamat berinvestasi cerdas!

Artikel, Investasi, Saham

Jumlah Investor Pasar Modal di Indonesia Tembus 15 Juta Lebih

Pada tahun 2025, pasar modal Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan dalam jumlah investor saham. Hingga 8 April 2025, jumlah investor pasar modal mencapai 15.888.836 Single Investor Identification (SID), meningkat sekitar 1 juta sejak awal tahun. Dari jumlah tersebut, investor saham tercatat sebanyak 6.744.128 SID, tumbuh 362.684 investor dibandingkan awal tahun. Photo BEI : Mentri Keuangan dan para pemangku jabatan Pasar Modal Indonesia Pertumbuhan ini mencerminkan peningkatan literasi keuangan dan minat masyarakat terhadap investasi di pasar modal. Faktor pendorongnya antara lain kemudahan akses melalui platform digital, edukasi yang masif oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), dan dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menariknya, selama periode libur Idulfitri 2025 (28 Maret–7 April), terjadi penambahan 38.676 SID saham baru, menyumbang 10,7% dari total penambahan SID saham sepanjang tahun. Hal ini menunjukkan bahwa minat investasi tetap tinggi meski di tengah libur panjang . Mayoritas investor di pasar modal Indonesia adalah individu, mencapai 99,7% dari total SID. Selain itu, sekitar 79% investor berusia di bawah 40 tahun, menunjukkan dominasi generasi muda dalam ekosistem investasi. Baca Juga : https://investhink.id/investor-misterius-djoni-terungkap-ternyata-pengusaha-asal-jambi/ Dengan jumlah penduduk Indonesia yang melebihi 280 juta jiwa, potensi pertumbuhan investor saham masih sangat besar. BEI dan OJK terus berupaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan melalui berbagai program edukasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak . Secara keseluruhan, tahun 2025 menjadi tonggak penting bagi perkembangan pasar modal Indonesia, dengan pertumbuhan jumlah investor saham yang signifikan dan partisipasi aktif dari generasi muda. Hal ini memberikan optimisme terhadap masa depan investasi di Indonesia.

Artikel, Investasi, Saham

Mengenal Sharpe Ratio, Cara Kontrol Risiko Investasi Kita

Dalam dunia investasi, salah satu tantangan terbesar adalah mengevaluasi kinerja suatu aset atau portofolio investasi secara objektif. Banyak investor yang hanya melihat hasil pengembalian (return) yang diperoleh tanpa mempertimbangkan risiko yang diambil untuk mencapai pengembalian tersebut. Untuk itu, ada alat yang sangat penting dalam analisis keuangan yaitu Sharpe Ratio. Risk and Reward image ( Pinterst ) Sharpe Ratio merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kinerja investasi dengan memperhitungkan risiko yang terlibat. Dengan menggunakan Sharpe Ratio, investor dapat mengetahui apakah pengembalian yang diperoleh dari suatu investasi sebanding dengan risiko yang diambil. Baca Juga : https://investhink.id/hukum-investasi-saham-menurut-pandangan-islam/ Definisi Sharpe Ratio Sharpe Ratio pertama kali diperkenalkan oleh ekonom William F. Sharpe pada tahun 1966. Sharpe Ratio mengukur pengembalian yang diperoleh dari suatu investasi relatif terhadap risiko yang ditanggung oleh investor. Dengan kata lain, Sharpe Ratio memungkinkan investor untuk mengevaluasi apakah investasi tersebut memberikan pengembalian yang lebih tinggi dibandingkan dengan risikonya. Rumus Sharpe Ratio :    Sharpe Ratio mengukur perbedaan antara pengembalian investasi dengan tingkat pengembalian bebas risiko, kemudian membagi perbedaan tersebut dengan tingkat volatilitas (risiko) dari investasi tersebut. Dalam hal ini, semakin tinggi Sharpe Ratio, semakin baik kinerja investasi yang bersangkutan dalam mengelola risiko. Sebaliknya, jika Sharpe Ratio rendah, itu menandakan bahwa investasi tersebut mungkin menghasilkan pengembalian yang kurang optimal dibandingkan dengan risiko yang ditanggung. Contoh Sharpe Ratio dalam Investasi Saham Misalkan Anda seorang investor yang tertarik untuk menilai kinerja dua saham, yaitu Saham A dan Saham B, dengan menggunakan Sharpe Ratio. Di bawah ini adalah data yang Anda miliki: Saham A: Pengembalian tahunan (Return) = 15% Volatilitas (Deviasi standar) = 20% Saham B: Pengembalian tahunan (Return) = 10% Volatilitas (Deviasi standar) = 12% Tingkat pengembalian bebas risiko (Risk-Free Rate): 3% (misalnya, pengembalian dari obligasi pemerintah) Dengan data ini, kita dapat menghitung Sharpe Ratio untuk masing-masing saham menggunakan rumus:   1. Perhitungan Sharpe Ratio untuk Saham AUntuk Saham A, kita dapat menghitung Sharpe Ratio sebagai berikut: 2. Perhitungan Sharpe Ratio untuk Saham BUntuk Saham B, kita dapat menghitung Sharpe Ratio sebagai berikut: Interpretasi HasilSharpe Ratio Saham A: 0.6 Sharpe Ratio Saham B: 0.583 Berdasarkan perhitungan ini, Saham A memiliki Sharpe Ratio yang lebih tinggi (0.6) dibandingkan dengan Saham B (0.583). Ini berarti bahwa meskipun pengembalian yang diperoleh dari Saham A lebih tinggi, Saham A memberikan pengembalian yang lebih besar relatif terhadap risiko yang diambil jika dibandingkan dengan Saham B. Oleh karena itu, meskipun kedua saham memiliki tingkat pengembalian yang baik, Saham A lebih efisien dalam mengelola risiko berdasarkan Sharpe Ratio. Namun, perlu dicatat bahwa Sharpe Ratio bukan satu-satunya indikator dalam membuat keputusan investasi. Investor juga perlu mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti tujuan investasi, profil risiko, dan faktor fundamental dari perusahaan yang bersangkutan.

Artikel, Investasi, Saham

Hukum Investasi Saham Menurut Pandangan Islam?

Berinvestasi saham bisa menjadi cara untuk menambah pemasukan atau passive income tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama. Namun untuk para investor muslim, tidak semua investasi di pasar modal itu sesuai dengan syariat Islam. Lalu, bagaimana hukum investasi saham menurut Islam? Apakah diperbolehkan atau tidak? Begini Ulasanya Menurut hukum Islam, investasi saham dianggap halal kecuali investasi tersebut melanggar aturan agama. Ada sejumlah Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) yang membolehkan umat Islam berinvestasi saham. Fatwa MUI ini merupakan koridor atau aturan bagi kaum muslim dalam berinvestasi. Berikut fatwa MUI terkait investasi di pasar modal/saham: Fatwa No. 40/DSN-MUI/X/2003: Tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal. Fatwa ini menjelaskan bahwa investasi di Pasar Modal Syariah diperbolehkan selama tidak melanggar prinsip Islam. Fatwa No. 20/DSN-MUI/IV/2001: Tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah. Fatwa No. 80/DSN-MUI/III/2011: Tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek. Fatwa No. 138/DSN-MUI/V/2020: Tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Kliring, dan Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa atas Efek Bersifat Ekuitas di Bursa Efek. Fatwa No. 135/DSN-MUI/V/2020: Tentang Saham   Singkatnya, investasi saham dibolehkan dalam Islam selama dilakukan dengan cara yang halal dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Hal ini memastikan bahwa investasi tidak hanya memberikan keuntungan finansial, tetapi juga berkontribusi pada kebaikan dan keberkahan.   

Artikel, Cryptocurrency, Investasi, Saham

Tetap Hati-hati, Harga Emas Pernah Turun Tajam

Harga emas dunia terus menanjak hingga menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah di level US$3.354 per troy ons pada Senin (21/4). Rally kenaikan harga emas makin tak terbendung. Di pasar dunia, harga emas sudah diperdagangkan memecahkan rekor tertinggi baru, yang serta merta diikuti oleh lonjakan harga emas di dalam negeri.   Harga emas dunia terus menanjak hingga menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah di level US$3.354 per troy ons pada Selasa (9/4). Ilustrasi. Kenaikan luar biasa harga emas di luar negeri itu, memicu pula kenaikan harga emas di pasar lokal. Harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatat kenaikan harga sampai tiga kali dalam 24 jam terakhir. salah satu penyebab harga emas mengalami peningkatakan yakni karena pengumuman tarif Trump. Hal itu membuat ketidakpastian tinggi dalam ekonomi global dan meningkatkan risiko resesi, terutama di Amerika Serikat (AS). Baca juga : https://investhink.id/bikin-pasar-saham-naik-turun-apa-sebenarnya-perang-dagang-itu/ Melihat lonjakan harga emas baik di pasar mancanegara maupun domestik yang luar biasa dan mungkin sebentar lagi menjebol Rp2 juta per gram, mungkin membuat banyak orang mulai ‘gentar’ apakah sekarang ini masih menjadi waktu yang tepat untuk membeli ketika harga dirasa sudah mahal. Bagaimana bila ke depan harga emas malah berbalik turun?  Sejatinya, harga emas hampir selalu naik ketika ketidakpastian di konteks perekonomian global membesar. Emas diburu sebagai aset aman alias safe haven, semacam tempat parkir dana sementara, karena pergerakannya relatif lebih stabil dalam jangka panjang. Namun, karena emas tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) sebagaimana obligasi, misalnya, emas akan cenderung ditinggalkan begitu prospek ekonomi kembali cerah. Dana-dana investor yang semula ditempatkan di emas akan berangsur keluar kembali menyerbu aset-aset agresif yang lebih berisiko dengan peluang return lebih besar pula, seperti saham atau paper investment lain. Grafik pergerakan harga emas dalam 15 tahun terakhir. Emas pernah beberapa kali mengalami penurunan harga ( Image Tradingview ) Kejatuhan harga emas hampir pasti mempengaruhi pula penurunan harga emas di pasar lokal, seperti emas Antam. Meski seringkali kurs dolar AS menahan penurunannya jadi lebih terbatas.  Banyak orang fomo terhadap emas saat ini. Sampai lupa jika disiklus sebelumnya emas rally dimulai tahun 2007, 2008, 2009, 2010 dan peak 2011 waktu harga $1,896/oz. Total 5 tahun dan gold kembali turun ke harga $1,050 pada tahun 2015 atau mengalami koreksi dari puncaknya sebesar 45%. Di siklus saat ini, emas mulai rally dari jaman covid 2021, 2022, 2023, 2024 dan masuk 2025 atau masuk tahun ke 5. 

Scroll to Top