Author name: Tim Edukator

Artikel, Investasi, Psikologi, Saham

Dijual Malah Naik di Beli Malah Turun, Pernah Mengalaminnya ?

Bayangkan pasar seperti sebuah roller coaster penuh dengan naik-turun yang tajam dan begitu mendadak. Tapi pergerakan ini bukan semata karena berita atau data ekonomi. Ada faktor terbesar yang sering kali datang dari psikologi manusia itu sendiri yaitu emosi massal. Ya, emosi kita, terutama para investor ritel, punya andil besar dalam menciptakan pergerakan dan volatilitas pasar. Mayoritas investor ritel cenderung membeli saat pasar sedang ramai dan naik, lalu panik menjual saat harganya turun tajam. Kenapa bisa begitu? Karena manusia pada dasarnya suka berada di tengah keramaian. Karena secara naluri dalam keramaian mereka merasa ada rasa aman. Ketika sebuah saham atau crypto sedang naik dan jadi bahan pembicaraan di mana-mana, orang merasa tenang dan ikut-ikutan beli. Tapi saat harga mulai turun dan atmosfer menjadi sepi, kepanikan muncul. Di momen inilah banyak yang buru-buru menjual, takut makin terjebak lebih dalam. Baca Juga : https://investhink.id/teori-kuda-mati-dalam-investasi-pernah-mengalaminya/ Ironisnya, perilaku seperti ini justru membuat investor ritel terjebak dalam pola beli di atas dan jual di bawah. Padahal, strategi ideal seharusnya sebaliknya. Ini bukan sekadar opini. Menurut data dari Dalbar, selama 20 tahun terakhir, investor ritel rata-rata hanya mencetak return sekitar 4% per tahun. Jika kita bandingkan dengan pasar saham itu sendiri yang tumbuh antara 9% hingga 10% per tahun. Perbedaannya begitu besar, dan penyebab utamanya adalah keputusan emosional bukan karena kurang informasi. Hal yang samapun terjadi di dunia crypto. Banyak orang melepas aset mereka ketika  justru saat harga mulai naik. Mereka merasa senang karena akhirnya “balik modal” atau “sudah untung sedikit”, padahal pada saat itulah para investor besar (smart money) sedang membeli aset kalian. Artinya, kamu bukan sedang kena prank. Kamu sedang bermain di sebuah permainan, dan jika kamu hanya mengikuti emosi, kamu hanya akan jadi pion di papan catur mereka. Inilah sebabnya kenapa pasar bisa bergerak irasional, karena emosi justru bergerak lebih dulu ketimbang sebagaimana mestinya. Pasar bukan soal perasaan. Pasar adalah soal logika, data, dan disiplin. Jika kamu ingin menang dalam jangka panjang, belajarlah untuk menahan emosi dan berpikir seperti pemain besar—bukan sekadar mengikuti keramaian.

Artikel, Investasi, Psikologi, Saham

Teori Kuda Mati Dalam Investasi, Pernah Mengalaminya ?

Dalam dunia investasi, kita sering kali dihadapkan pada situasi sulit, apakah harus bertahan dengan investasi yang kita miliki, atau justru melepaskannya? Di sinilah “Teori Kuda Mati” menjadi sangat relevan. Teori ini berasal dari pepatah suku Indian Dakota yang mengatakan, “Jika kamu menemukan bahwa kamu sedang menunggangi kuda mati, sebaiknya kamu turun.” Maksudnya sederhana, jika sesuatu sudah jelas-jelas tidak memberikan hasil lagi, maka berhentilah dan jangan buang tenaga untuk mempertahankannya. Dalam konteks investasi, kuda mati bisa diartikan sebagai investasi yang sudah tidak lagi menguntungkan, bahkan cenderung merugikan, namun tetap dipertahankan karena berbagai alasan emosional atau harapan semu. Hand Drawn image Banyak investor terjebak dalam situasi ini. Mereka enggan melepaskan investasinya karena sudah telanjur mengeluarkan banyak uang, atau merasa bahwa jika mereka sabar sedikit lagi, harga akan naik kembali. Ada juga yang tidak mau mengakui bahwa keputusan mereka salah, dan berharap kondisi akan membaik meski tidak ada tanda-tanda nyata. Ini adalah bentuk bias psikologis yang sering menjebak investor. Sayangnya, bertahan pada “kuda mati” justru bisa memperbesar kerugian. Padahal, keputusan cerdas dalam berinvestasi bukan hanya soal kapan membeli, tapi juga kapan harus berhenti. Baca juga : https://investhink.id/anchoring-effect-dalam-investasi-saham-ketika-angka-pertama-menentukan-segalanya/ Sebagai contoh, bayangkan seseorang membeli saham perusahaan teknologi yang dulu sempat naik daun, seharga Rp1.000 per lembar. Namun, kini harga saham itu turun menjadi Rp200 dan tidak menunjukkan perbaikan selama dua tahun terakhir. Perusahaan tersebut juga sudah tidak berinovasi, keuangannya terus merugi, dan manajemennya mulai mundur satu per satu. Dalam kasus seperti ini, bisa jadi investor tersebut sedang “menunggangi kuda mati”. Daripada terus berharap tanpa dasar yang jelas, lebih bijak jika ia mempertimbangkan untuk menjual saham tersebut dan memindahkan dananya ke instrumen investasi lain yang lebih sehat. Untuk mengenali apakah kita sedang terjebak dalam “kuda mati”, ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan. Misalnya, nilai investasi yang terus menurun tanpa tanda-tanda pemulihan, tidak ada perkembangan positif dari perusahaan, laporan keuangan menunjukkan kerugian terus-menerus, serta tidak adanya kejelasan strategi atau arah masa depan atau mungkin secara teknikal sudah menunjukan perubahan trend. Jika sebagian besar tanda ini muncul, besar kemungkinan investasi tersebut sudah tidak layak dipertahankan. Kesimpulannya, dalam investasi, mundur bukan berarti kalah. Justru, mengetahui kapan harus berhenti adalah bentuk kebijaksanaan. Jangan biarkan ego atau harapan palsu menguasai keputusan. Jika sudah jelas-jelas menunggangi kuda mati, maka sebaiknya turun, dan cari kuda lain yang masih sehat dan kuat berlari. Karena dalam investasi, menjaga modal dan berpikir rasional adalah kunci utama menuju keberhasilan.

Investasi, Korporasi, Saham

Cerita Saham Prima Multi Usaha Indonesia Tbk. menjelang IPO

Saham PMUI atau Prima Multi Usaha Indonesia Tbk. Pada hajatan IPO kali ini tidak mencatatkan oversubscribe penawaran dari pelaku pasar sehingga memberikan penjatahan 100 persen untuk pooling allotmentnya.  Lantas sebenarnya apa yang sedang terjadi ?    Respon pasar waktu PMUI listing  Ada beberapa hal yang menyebabkan minat pasar terhadap saham PMUI berbeda dengan saham lain, hal ini terjadi ketika satu hari menjelang listing banyak beredar rumor kabar PMUI batal IPO, tentu hal ini langsung dibantah oleh BEI. Selang beberapa waktu muncul pernyataan dari Komisaris Independen PMUI Theo Lekatompessy yang mengungkapkan hanya 25 persen saham baru yang terserap. Padahal, skema yang digunakan dalam IPO ini adalah full comitment, yang artinya penjamin emisi menyerap seluruh sisa saham yang tidak laku di pasar. “Kalau full komitmen, itu bukan urusan saya (sebagai pihak PMUI). Mau laku atau tidak, harusnya penjamin emisi ambil semua, tapi mereka gagal menyerap,” ujarnya.  Dengan adanya hal ini tentu mau tidak mau pihak emiten harus menanggung kekurangan dana yang seharusnya menjadi tanggung jawab underwriter (UW). Baca juga : https://investhink.id/bagaimana-peran-dan-efek-psikologi-pasar-adanya-smart-money/ Jika melihat bookbuilding pada sepekan terakhir PMUI menawarkan harga batas atas Rp180 per lembar. Sehingga target total dana yang diraup senilai Rp208 miliar.  Namun yang laris hanya 25 persen dari alokasi, atau berarti dana IPO yang masuk hanya Rp52 miliar.  Ada dua hal kenapa IPO PMUI sedikit mendapat antusias dari pasar karena ada rencana hasil dana dari IPO akan digunakan untuk membeli tanah dan bangunan milik Direktur Utama senila Rp55 miliar, hal ini tentu menjadi katalis negatif untuk pelaku pasar.  Yang kedua periode penawaran umum PMUI dilakukan bersamaan dengan BLOG, MERI, dan CHEK, serta sebelumnya ada IPO jumbo CDIA dan COIN. Artinya, dari deretan IPO itu ada emiten baru yang jadi korban kekurangan permintaan beli saham baru dalam hal ini apesnya ada di saham PMUI. Pasalnya, sisa dana IPO yang tidak terserap di penawaran umum CDIA dan COIN tidak bisa digunakan langsung untuk masuk ke IPO pada periode selanjutnya karena ada jeda waktu pencairan dana. Jadi bisa dibilang PMUI saat ini kehilangan momentum untuk mengaet para pelaku pasar karena adanya marathon IPO bulan juli ini.  

Artikel, Investasi, Psikologi, Saham

Bagaimana Peran dan Efek Psikologi Pasar adanya Smart Money

Uang dibursa tidak hilang tapi cuma berotasi !!!pernah dengar orang bilang begitu ?? yaps saham naik bukan karena doa banyak orang maupun takdir belaka melainkan ada uang besar yang masuk dari tempat lain. lantas siapa yang punya uang besar itu ? tidak lain tidak bukan adalah institusi atau smart money. Cara mereka main biasanya loncat-loncat antar sektor karena mereka gak bisa angkat semua sektor sekaligus. Contoh nih, disaat kondisi pasar lagi gak bagus, pasti ada satu sektor yang sedang hijau. Nha, bisa dibilang smart money ada disitu. Cara mereka main pun berbeda dengan ritel, merekalah yang men triger gerak pasarsupaya ritel masuk. makanya tidak heran kenapa ritel selalu beli diatas ataupun di penghujung pesta akan selesai mereka akan cenderung melakukan akumulasi terlebih dahulu sebelum aksi mark up harga dimulai, bisa berhari – hari bahkan sampai berbulan bulan. satu hal yang membendakan mereka dengan ritel adalah. mereka mempunyai infra yang kuat dan nafas yang panjang. iya ” NAFAS YANG PANJANG “ Yang kedua yang jarang disadari oleh ritel adalah mereka paham akan psikologi pasar, mereka tidak pakai fundamental dan merekalah yang membentuk garis chart. Mereka paham narasi apa yang pas buat mereka nanti jualan, karena mereka menganggap saham hanya sebatas kertas yang dibeli murah lalu dijual lebih mahal. Ini kenapa setiap fase saham selalu ada gejolak emosional yang begitu kuat. Karena psikologi inilah yang mereka butuhkan. Contoh harga emas global tembus USD 3,500/oz di April 2025, langsung bikin sektor emas $IHSG naik tinggi. Smart money pasti gerak duluan, jika kita perhatikan $ANTM, BRMS, sama PSAB volumenya tiba-tiba meledak pas harga emas baru mulai naik dikit? itu tanda classic money moves. Kalau kita ingat $ANTM dan $BRMS pernah naik 5 persen lebih disaat $IHSG jatuh ini artinya ada uang besar yang sedang parkir . Jadi jika buat kesimpulan kecil ini bukan soal fundamental, ini bukan soal teknikal tapi ini sebuah momentum. Lihat pergerakan dana besar & volume yang jalan lebih dulu. Kabar emas naik dan baru rame belakangan murapakan bahwa uang di bursa sebenarnya tidak hilang tapi berotasi. Sebenarnya ini tidak hanya berlaku dipasar saham saja ini juga berlaku di sektor rill yang bisa kita lihat setiap hari.  

Artikel, Investasi, Korporasi, Saham

8 Emiten Siap IPO Edisi Juli 2025, Ini Profil Singkatnya

Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali akan diramaikan dengan gelombang baru Initial Public Offering (IPO) pada bulan Juli 2025. Ada 8 emiten yang siap meramaikan pasar saham dengan menawarkan saham kepada publik. Nah, bagi kamu yang tertarik dengan investasi saham, berikut ini adalah daftar emiten yang siap IPO di bulan Juli mendatang. 1. PT Pancaran Samudera Transport Tbk (PSAT) Sektor transportasi selalu menjadi sektor yang menarik. PT Pancaran Samudera Transport Tbk, yang bergerak di bidang logistik dan transportasi laut, siap melantai di bursa dengan harga bookbuilding Rp 850 – 900 per saham. Perusahaan ini berencana menawarkan sekitar 2,2 juta lot saham kepada publik. 2. PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) Emiten ini hadir dari sektor bahan dasar atau basic materials. PT Asia Pramulia Tbk menawarkan harga bookbuilding di kisaran Rp 118 – 124 per saham dan berencana menawarkan 8,1 juta lot saham. Sektor bahan dasar ini selalu menarik perhatian investor karena dibutuhkan di berbagai sektor industri. 3. PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk (PMUI) Beroperasi di sektor konsumer siklikal, PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk hadir dengan harga bookbuilding antara Rp 160 hingga 180 per saham. Perusahaan ini akan menawarkan sekitar 11,6 juta lot saham kepada publik, yang pastinya akan menjadi pilihan menarik bagi para investor yang tertarik dengan saham sektor konsumer. 4. PT Merry Riana Edukasi Tbk (MERI) Siapa yang tidak kenal dengan Merry Riana? Perusahaan yang fokus pada pendidikan dan pelatihan ini siap menawarkan sahamnya kepada publik dengan harga bookbuilding Rp 110 – 150 per saham. Dengan sekitar 2,7 juta lot saham yang ditawarkan, Merry Riana Edukasi diharapkan dapat menarik minat investor yang peduli pada sektor pendidikan. 5. PT Diastika Biotekindo Tbk (CHEK) Bagi investor yang tertarik dengan sektor kesehatan, PT Diastika Biotekindo Tbk yang bergerak di bidang bioteknologi menawarkan harga bookbuilding Rp 120 – 140 per saham. Perusahaan ini akan menawarkan sekitar 8,15 juta lot saham kepada publik. 6. PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG) Emiten dari sektor transportasi & logistik ini menawarkan harga bookbuilding antara Rp 240 hingga 270 per saham. PT Trimitra Trans Persada Tbk berencana menawarkan sekitar 5,6 juta lot saham kepada publik. Jika kamu tertarik dengan sektor logistik, saham ini bisa jadi pilihan menarik. 7. PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) Sektor kripto tengah berkembang pesat di Indonesia, dan PT Indokripto Koin Semesta Tbk adalah salah satu pemain yang akan segera IPO. Dengan harga bookbuilding Rp 100 – 105 per saham, emiten ini akan menawarkan sekitar 22,1 juta lot saham. Saham ini bisa jadi pilihan yang menarik bagi kamu yang tertarik dengan sektor keuangan digital dan kripto. 8. PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) Terakhir, ada PT Chandra Daya Investasi Tbk yang bergerak di sektor infrastruktur dan energi. Dengan harga bookbuilding antara Rp 170 hingga 190 per saham, PT Chandra Daya Investasi Tbk berencana menawarkan sekitar 124,8 juta lot saham kepada publik, dengan potensi IPO jumbo yang diperkirakan akan mencapai Rp 2,37 triliun. Kesimpulan Dengan hadirnya 8 emiten baru yang siap melakukan IPO di bulan Juli 2025, para investor akan memiliki banyak pilihan untuk berinvestasi. Dari sektor logistik, bahan dasar, konsumer, hingga kripto dan infrastruktur, peluang untuk mendapatkan keuntungan semakin terbuka lebar. Namun, sebelum memutuskan untuk membeli saham, pastikan kamu sudah melakukan riset dan mempertimbangkan segala risiko yang ada.

Artikel, Investasi, Korporasi, Saham

Mengenal Strategi ‘Poison Pill’ dalam Dunia Bisnis

Dalam dunia bisnis, istilah “poison pill” terdengar seperti sesuatu dari film aksi—padahal ini adalah strategi serius yang digunakan perusahaan untuk melindungi diri dari pengambilalihan paksa (hostile takeover). Strategi ini cukup pintar, karena intinya adalah membuat perusahaan menjadi tidak menarik atau terlalu mahal untuk diambil alih oleh pihak luar. Ibaratnya seperti pasang jebakan agar si “penyerang” berpikir dua kali sebelum melanjutkan niatnya. Cara kerjanya sederhana tapi efektif. Ketika ada pihak luar mencoba membeli saham dalam jumlah besar—biasanya lebih dari ambang tertentu seperti 10%—perusahaan akan memberi hak khusus kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru dengan harga lebih murah. Akibatnya, kepemilikan si penyerang jadi terencerkan, dan biaya untuk menguasai perusahaan melonjak drastis. Ini seperti membanjiri pasar dengan saham baru agar pengambilalihan jadi makin sulit. Baca juga : https://investhink.id/private-placement-jalan-cepat-perusahaan-cari-modal/ Salah satu contoh terkenal datang dari perusahaan raksasa hiburan, Netflix. Pada tahun 2012, investor agresif Carl Icahn membeli saham Netflix dalam jumlah besar, memicu kekhawatiran akan adanya pengambilalihan. Untuk melindungi diri, Netflix segera menerapkan poison pill dengan menetapkan aturan bahwa jika ada pemegang saham yang memiliki lebih dari 10%, maka pemegang saham lain bisa membeli saham tambahan dengan harga diskon. Strategi ini sukses membuat Icahn mundur, dan Netflix tetap berdiri sendiri hingga sekarang. Di Indonesia, strategi poison pill belum terlalu umum atau eksplisit digunakan karena aturan pasar modal yang berbeda. Namun, perusahaan-perusahaan lokal tetap bisa memakai pendekatan serupa, seperti struktur saham ganda, peningkatan kepemilikan oleh manajemen, atau kesepakatan internal dengan investor strategis untuk menjaga kendali perusahaan tetap di tangan yang diinginkan. Pada dasarnya, poison pill adalah strategi pertahanan. Di satu sisi, ini bisa melindungi visi jangka panjang perusahaan, mencegah manuver pengambilalihan yang bisa merusak nilai. Namun di sisi lain, kalau disalahgunakan, poison pill bisa menghalangi kesempatan investor untuk mendapat keuntungan dari akuisisi yang sah dan menguntungkan. Jadi, meskipun terdengar seperti taktik licik, poison pill sebenarnya adalah salah satu “senjata rahasia” di dunia korporasi. Buat investor, penting juga mengenal strategi ini agar tidak kaget jika suatu hari nilai saham berubah karena aksi pertahanan diam-diam dari manajemen.

Artikel, Investasi, Korporasi, Saham

Private Placement: Jalan Cepat Perusahaan Cari Modal

Pernah dengar istilah private placement? Buat kamu yang mulai belajar soal saham dan dunia pasar modal, ini salah satu aksi korporasi yang penting untuk dipahami. Singkatnya, private placement adalah saat perusahaan menerbitkan saham baru dan menjualnya langsung ke investor tertentu, bukan ke publik umum. Jadi, nggak semua orang bisa ikut beli. Biasanya, yang diajak ikut adalah investor besar, lembaga keuangan, atau pihak yang dianggap bisa bantu perkembangan bisnis perusahaan. Kenapa perusahaan memilih private placement? Alasannya macam-macam. Kadang perusahaan butuh tambahan modal dengan cepat, tapi nggak mau ribet seperti saat IPO (menjual saham ke publik). Ada juga yang pakai private placement untuk mengubah utang jadi saham, artinya utangnya dibayar pakai saham, bukan uang. Baca juga : https://investhink.id/pasar-nego-saham-tempat-transaksi-saham-melalui-negosiasi-langsung/ Atau, bisa juga karena perusahaan ingin masukin investor strategis yang bisa kasih nilai tambah — entah pengalaman, jaringan bisnis, atau dukungan finansial jangka panjang. Contohnya bisa kita lihat dari PT Garuda Indonesia (GIAA). Di tahun 2022, Garuda melakukan private placement sebagai bagian dari cara menyelamatkan keuangan mereka. Para kreditur (pemberi utang) diberi saham sebagai pengganti pembayaran utang. Jadi, Garuda nggak perlu bayar uang, tapi tetap mengurangi beban utang mereka. Contoh lain, PT Bumi Resources (BUMI) juga pernah lakukan private placement ke investor strategis demi memperkuat modal dan menyusun ulang keuangannya. Tapi, ada satu hal penting yang perlu diingat: private placement bisa menyebabkan dilusi saham. Artinya, karena jumlah saham beredar bertambah, kepemilikan investor lama bisa jadi berkurang persentasenya. Tapi kalau dana dari private placement digunakan dengan baik, misalnya untuk ekspansi atau memperbaiki kondisi keuangan perusahaan, dampaknya bisa positif untuk nilai saham ke depannya. Jadi kesimpulannya, private placement itu ibarat jalan cepat bagi perusahaan untuk cari dana tanpa ribet, tapi tetap harus dilakukan dengan perhitungan matang supaya semua pihak — termasuk investor lama — bisa tetap diuntungkan.

Artikel, Investasi, Korporasi, Saham

Pasar Nego Saham: Tempat Transaksi Saham Melalui Negosiasi Langsung

Dalam dunia saham, ada tiga jenis pasar utama yang digunakan untuk transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu pasar reguler, pasar tunai, dan pasar negosiasi atau lebih dikenal sebagai pasar nego. Jika pasar reguler adalah tempat jual beli saham yang terjadi secara otomatis dan terbuka setiap hari berdasarkan harga pasar, maka pasar nego adalah tempat di mana transaksi saham dilakukan melalui proses negosiasi langsung antara pembeli dan penjual. Artinya, harga dan jumlah saham tidak ditentukan oleh sistem, melainkan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Pasar nego biasanya digunakan dalam situasi tertentu, terutama untuk transaksi dalam jumlah besar atau yang melibatkan kepentingan khusus. Misalnya, ketika investor institusi ingin membeli atau menjual saham dalam jumlah jutaan lembar, mereka cenderung menggunakan pasar nego agar tidak menyebabkan fluktuasi harga di pasar reguler. Selain itu, pasar nego juga digunakan untuk transaksi antar pemilik perusahaan, pembagian warisan, hibah saham, atau pelepasan saham oleh pemegang saham pengendali sebagai bagian dari restrukturisasi internal. Sebagai contoh, bayangkan sebuah perusahaan investasi besar ingin membeli 10 juta lembar saham PT ABC Tbk dari investor lain. Jika transaksi ini dilakukan di pasar reguler, bisa memicu lonjakan atau penurunan harga saham karena volume yang sangat besar. Oleh karena itu, kedua belah pihak memilih pasar nego dan bersepakat menjual saham di harga Rp1.000 per lembar, meskipun harga di pasar reguler saat itu Rp950. Setelah disetujui, transaksi dicatat secara resmi oleh bursa sebagai transaksi pasar negosiasi. Baca juga : https://investhink.id/mandatory-tender-offer-ketika-investor-wajib-menawar-saham-publik/ Contoh nyata juga pernah terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), di mana pemilik saham dalam jumlah besar melakukan transaksi blok antar grup usaha melalui pasar nego. Secara umum, investor ritel sebenarnya bisa mengakses pasar nego, namun tidak umum dilakukan karena prosesnya lebih kompleks dan biasanya memerlukan bantuan broker (perantara sekuritas). Selain itu, transaksi pasar nego memerlukan kesepakatan lebih dulu, baik dari sisi harga maupun volume, serta siapa lawan transaksinya. Oleh karena itu, pasar nego lebih banyak digunakan oleh investor institusi atau pemegang saham besar. Kesimpulannya, pasar nego saham adalah bagian penting dari mekanisme pasar modal yang memungkinkan fleksibilitas dalam jual-beli saham, terutama dalam skala besar. Memahami cara kerja pasar nego dapat membantu investor lebih bijak dalam menganalisis pergerakan saham dan membaca transaksi besar yang mungkin terjadi di balik layar pasar reguler.

Artikel, Investasi, Korporasi, Saham

Mandatory Tender Offer : Ketika Investor Wajib Menawar Saham Publik

MTO saham atau Mandatory Tender Offer adalah istilah di dunia pasar modal yang mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tapi sebenarnya cukup penting dipahami, terutama bagi investor ritel. MTO merupakan kewajiban bagi pihak yang mengakuisisi mayoritas saham suatu perusahaan publik untuk memberikan penawaran kepada pemegang saham lainnya agar bisa ikut menjual saham mereka dengan harga yang adil. Secara sederhana, MTO terjadi ketika sebuah perusahaan atau investor membeli lebih dari 50% saham suatu perusahaan terbuka (Tbk). Karena sudah menjadi pemegang saham pengendali, mereka wajib menawarkan pembelian (tender offer) kepada pemegang saham publik lainnya. Tujuannya adalah melindungi investor kecil agar punya kesempatan yang sama untuk melepas sahamnya di harga wajar, terutama jika arah atau kepemilikan perusahaan akan berubah. Baca juga : https://investhink.id/treasury-stock-buyback-ketika-perusahaan-membeli-sahamnya-sendiri/ Sebagai contoh, bayangkan Perusahaan A (non-publik) membeli 60% saham PT XYZ Tbk di Bursa Efek Indonesia. Setelah transaksi itu selesai, Perusahaan A menjadi pemegang saham pengendali. Maka sesuai aturan OJK (Otoritas Jasa Keuangan), Perusahaan A wajib melakukan MTO kepada sisa pemegang saham minoritas — yaitu menawarkan untuk membeli saham mereka dengan harga minimal sama dengan harga akuisisi sebelumnya. Contoh nyata dari MTO pernah terjadi pada PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA). Pada tahun 2009, perusahaan rokok asal Inggris, British American Tobacco (BAT), mengakuisisi mayoritas saham Bentoel. Setelah menjadi pemilik pengendali, BAT wajib melakukan Mandatory Tender Offer kepada pemegang saham publik lainnya. Investor publik yang tidak ingin ikut dalam kepemilikan baru dapat menjual sahamnya ke BAT sesuai harga yang ditentukan dalam MTO. Dari sisi investor, MTO bisa menjadi kesempatan emas untuk menjual saham di harga premium (lebih tinggi dari pasar), terutama jika terjadi perubahan besar di manajemen atau arah bisnis perusahaan. Namun, tidak semua investor diwajibkan menjual; MTO hanya bersifat penawaran, bukan pemaksaan. Investor bebas memilih apakah ingin menjual atau tetap memegang saham. Secara keseluruhan, MTO adalah bentuk perlindungan dan keadilan dalam pasar modal. Dengan adanya MTO, investor kecil tidak merasa “ditinggal” atau dirugikan saat terjadi perubahan pengendali perusahaan. Memahami konsep ini sangat penting bagi siapa pun yang terlibat dalam investasi saham, terutama di perusahaan-perusahaan terbuka yang berpotensi mengalami akuisisi.

Artikel, Investasi, Korporasi, Saham

Treasury Stock Buyback? Ketika Perusahaan Membeli Sahamnya Sendiri

Treasury stock buyback adalah sebuah aksi korporasi di mana perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri yang sebelumnya telah dijual kepada publik. Saham yang telah dibeli kembali ini disebut sebagai saham treasuri (treasury stock). Setelah dibeli kembali, saham tersebut tidak lagi beredar di pasar, tidak memiliki hak suara, dan tidak menerima dividen. Tujuan dari buyback ini bisa bermacam-macam, tergantung strategi masing-masing perusahaan. Salah satu alasan utama perusahaan melakukan buyback adalah untuk meningkatkan nilai saham yang tersisa di pasar. Ketika jumlah saham beredar berkurang, maka laba per saham (EPS) akan meningkat. Hal ini seringkali membuat harga saham ikut naik karena investor melihat kinerja perusahaan menjadi lebih baik secara angka. Selain itu, buyback juga merupakan sinyal positif dari manajemen bahwa mereka percaya saham perusahaan sedang berada di bawah nilai sebenarnya (undervalued), sehingga layak dibeli kembali. Perusahaan juga dapat menggunakan saham hasil buyback untuk program insentif karyawan, seperti bonus saham atau opsi saham (stock option). Di sisi lain, buyback juga dapat membantu perusahaan mengelola struktur modal, misalnya menyeimbangkan antara utang dan ekuitas agar neraca keuangan terlihat lebih sehat. Bagi investor, buyback umumnya dianggap sebagai kabar baik. Dengan jumlah saham yang lebih sedikit di pasar, kepemilikan setiap saham menjadi lebih bernilai. Namun, buyback juga bisa disalahgunakan, misalnya jika dilakukan hanya untuk mempercantik laporan keuangan atau menutupi masalah internal perusahaan. Oleh karena itu, investor tetap perlu mencermati alasan di balik aksi buyback tersebut. Salah satu contoh nyata di Indonesia adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang pada tahun 2020 mengumumkan buyback saham dengan dana maksimal Rp1,5 triliun. Aksi ini dilakukan saat pasar saham sedang lesu akibat pandemi COVID-19. Baca juga : https://investhink.id/perusahaan-melakukan-right-issue-ini-alasannya/ Tujuannya adalah untuk menjaga kepercayaan investor dan menunjukkan bahwa manajemen yakin dengan prospek jangka panjang perusahaan. Hasil dari aksi buyback ini membantu menstabilkan harga saham Unilever di tengah gejolak pasar saat itu. Secara keseluruhan, treasury stock buyback adalah strategi yang bisa menguntungkan jika dilakukan dengan alasan yang kuat dan transparan. Investor yang memahami konsep ini bisa mengambil keputusan yang lebih baik dalam menilai kesehatan dan arah strategi perusahaan di masa depan.

Scroll to Top