Author name: Tim Edukator

Artikel, Investasi, Saham

Pasar Saham : Apakah Harga Naik Selamanya atau Ada Batasnya?

Banyak orang yang baru mengenal dunia saham sering bertanya-tanya: apakah harga saham bisa terus naik selamanya? Atau ada titik tertentu di mana harga akan berhenti dan bahkan turun? Pertanyaan ini wajar muncul karena pasar saham sering digambarkan sebagai “mesin penghasil kekayaan” yang seolah-olah tak ada habisnya. Namun, kenyataannya sedikit lebih kompleks. Kenaikan indeks S&P 500 Amerika selama lebih dari 15 Tahun Pertama, penting untuk memahami bahwa harga saham mencerminkan nilai perusahaan. Jika sebuah perusahaan terus tumbuh, menghasilkan laba besar, serta mampu memperluas bisnisnya, maka harga saham cenderung naik. Contohnya perusahaan teknologi besar seperti Apple atau Microsoft, yang harga sahamnya melonjak karena inovasi dan keuntungan yang konsisten. Jadi, secara teori, selama perusahaan bertumbuh, harga saham bisa terus meningkat. Namun, tidak berarti harga naik tanpa batas. Pasar saham juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti kondisi ekonomi global, suku bunga, inflasi, bahkan sentimen investor. Ada kalanya harga saham naik terlalu cepat karena euforia pasar, lalu terkoreksi tajam ketika ekspektasi tidak sesuai kenyataan. Peristiwa seperti “dot-com bubble” di tahun 2000 menjadi contoh jelas bahwa kenaikan harga tanpa dasar kuat bisa berakhir dengan kejatuhan besar. Selain itu, perusahaan juga memiliki keterbatasan. Tidak ada bisnis yang bisa tumbuh 100% selamanya. Akan ada masa di mana pertumbuhan melambat, pasar mulai jenuh, atau muncul pesaing baru. Pada titik itu, harga saham bisa stabil, naik lebih lambat, atau bahkan turun. Di sisi lain, kita juga perlu memahami bahwa dalam jangka panjang, pasar saham secara keseluruhan cenderung naik. Hal ini karena ekonomi dunia secara umum tumbuh, teknologi berkembang, dan populasi bertambah. Grafik indeks saham besar seperti S&P 500 menunjukkan tren naik selama puluhan tahun, meski di tengah perjalanan ada banyak “turun-naik” yang tajam. Jadi, apakah harga saham bisa naik selamanya? Jawabannya: untuk satu perusahaan, kemungkinan besar ada batasnya. Tapi untuk pasar saham secara keseluruhan, tren jangka panjang memang cenderung naik. Itulah mengapa para investor bijak lebih fokus pada investasi jangka panjang ketimbang mengejar kenaikan instan. Baca Juga : https://investhink.id/dua-orang-pengubah-ekonomi-thatcher-reagan-effect/ Kesimpulannya, harga saham bukanlah garis lurus ke atas. Ada naik, ada turun, bahkan ada gejolak besar. Tetapi dengan pemahaman yang benar, kesabaran, dan strategi tepat, pasar saham tetap bisa menjadi sarana membangun kekayaan yang solid bagi siapa saja.   Facebook Twitter WhatsApp Telegram Penulis : Orryza Sativa

Artikel, Investasi, Saham

Dua Orang Pengubah Ekonomi: Thatcher & Reagan Effect

Ketika berbicara tentang perubahan besar dalam ekonomi dunia pada akhir abad ke-20, dua nama sering muncul yaitu Margaret Thatcher dan Ronald Reagan. Keduanya dikenal sebagai pasangan pemimpin yang, meski berasal dari negara berbeda, punya pandangan mirip soal bagaimana ekonomi seharusnya berjalan. Thatcher adalah Perdana Menteri Inggris, sementara Reagan adalah Presiden Amerika Serikat. Gaya kepemimpinan mereka tegas, kadang kontroversial, tapi dampaknya terasa hingga kini. Sebelum era keduanya, baik Inggris maupun Amerika mengalami masalah ekonomi serius. Inflasi tinggi, pengangguran meningkat, dan peran pemerintah yang terlalu besar dianggap menghambat pertumbuhan. Thatcher dan Reagan datang dengan ide baru: ekonomi harus lebih bebas, peran pasar harus lebih dominan. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Thatcherism di Inggris dan Reaganomics di Amerika. Di bawah kepemimpinan Thatcher, Inggris melakukan privatisasi besar-besaran terhadap perusahaan milik negara. Perusahaan-perusahaan listrik, telekomunikasi, hingga penerbangan diserahkan ke sektor swasta. Tujuannya jelas: membuat bisnis lebih efisien dan kompetitif. Thatcher juga berani mengambil langkah tidak populer, seperti mengurangi kekuatan serikat pekerja yang selama ini sangat dominan. Banyak pihak marah, tapi di sisi lain, kebijakan itu berhasil menurunkan inflasi dan menarik investasi baru. Sementara itu, di Amerika, Reagan menjalankan kebijakan pemotongan pajak besar-besaran, terutama untuk kalangan bisnis. Filosofinya sederhana: kalau perusahaan diberi ruang bernapas, mereka akan tumbuh, merekrut lebih banyak pekerja, dan pada akhirnya ekonomi ikut berkembang. Reagan juga mendorong deregulasi di sektor perbankan, energi, hingga transportasi. Walau sempat memicu defisit anggaran karena belanja negara tidak langsung turun, banyak pengamat menilai kebijakan ini membuat ekonomi AS keluar dari keterpurukan 1970-an. Baca Juga : https://investhink.id/mengenal-financial-repression-apa-dan-bagaimana-dampaknya/ Efek Thatcher & Reagan ini bukan tanpa kritik. Lawan politik menilai kebijakan mereka memperlebar kesenjangan sosial: yang kaya semakin kaya, sementara kelompok menengah bawah sering kali tertinggal. Meski begitu, pengaruh keduanya masih terasa hingga sekarang. Banyak negara, termasuk di Asia, mengadopsi kebijakan serupa dengan harapan bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi. Pada akhirnya, Thatcher dan Reagan membuktikan bahwa keberanian mengambil keputusan tidak populer bisa mengubah arah ekonomi sebuah negara. Mereka tidak hanya menjadi pemimpin, tetapi juga simbol perubahan era—dari ekonomi yang serba dikontrol pemerintah menuju ekonomi yang lebih terbuka. Dan meski pro-kontra tetap ada, Thatcher & Reagan Effect menjadi salah satu titik balik penting dalam sejarah ekonomi modern. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Uzzairon Ardiansyah

Artikel, Investasi, Saham

Mengenal Financial Repression: Apa dan Bagaimana Dampaknya?

Kalau mendengar istilah financial repression, mungkin terdengar rumit dan teknis. Padahal sebenarnya konsep ini cukup sederhana. Secara singkat, financial repression adalah kebijakan pemerintah untuk “mengendalikan” sistem keuangan agar bisa membiayai kebutuhan negara, biasanya utang atau pembangunan, dengan cara yang tidak sepenuhnya bebas pasar.   Dalam kondisi normal, bunga tabungan, obligasi, atau instrumen keuangan lain ditentukan oleh pasar. Namun ketika ada financial repression, pemerintah atau bank sentral ikut campur sehingga bunga menjadi lebih rendah dari yang seharusnya. Dengan begitu, pemerintah bisa meminjam uang dengan biaya murah, sementara masyarakat yang menabung menerima imbal hasil yang relatif kecil. Contoh sederhananya bisa kita lihat dari suku bunga tabungan di bank. Misalnya, inflasi di suatu negara mencapai 5% per tahun. Seharusnya, bunga tabungan idealnya lebih tinggi dari inflasi agar nilai uang masyarakat tidak tergerus. Tapi dalam kondisi financial repression, bunga tabungan mungkin hanya 2–3%. Artinya, masyarakat yang menyimpan uang di bank justru kehilangan daya beli karena nilai uang mereka berkurang oleh inflasi. Sementara itu, pemerintah atau sektor tertentu bisa meminjam dana dengan bunga rendah. Baca Juga : https://investhink.id/bagaimana-cara-ekonomi-negara-berjalan-menurut-ray-dalio/ Bentuk lain financial repression juga bisa berupa aturan ketat yang “mengarahkan” dana masyarakat untuk membeli surat utang negara. Misalnya, bank diwajibkan menempatkan sebagian besar dana nasabah dalam obligasi pemerintah. Dengan cara ini, pemerintah bisa lebih mudah mendapatkan pembiayaan, meskipun tidak menarik bagi investor swasta. Lalu, kenapa kebijakan seperti ini dilakukan? Biasanya financial repression muncul saat negara menghadapi utang besar atau krisis ekonomi. Dengan menekan bunga dan mengarahkan aliran dana, pemerintah bisa mengurangi beban pembayaran utang. Dari sisi negara, ini memang membantu stabilitas jangka pendek. Namun, bagi masyarakat, ada kerugian karena tabungan mereka tidak berkembang optimal, bahkan bisa tergerus inflasi. Meski begitu, tidak semua efek financial repression buruk. Dalam beberapa kasus, dana murah dari masyarakat bisa digunakan pemerintah untuk membangun infrastruktur, pendidikan, atau layanan publik yang pada akhirnya menguntungkan masyarakat luas. Namun tetap saja, ada trade-off antara kepentingan negara dan kepentingan individu. Jadi, financial repression adalah situasi ketika pemerintah secara halus “memanfaatkan” dana masyarakat melalui suku bunga rendah atau aturan tertentu demi membiayaikebutuhan negara. Sebagai individu, memahami konsep ini penting agar kita bisa lebih bijak dalam mengelola keuangan. Jangan hanya mengandalkan tabungan, tapi pertimbangkan juga instrumen investasi lain yang mampu mengalahkan inflasi. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Orryza Sativa

Artikel, Investasi, Saham

Bagaimana Cara Ekonomi Negara Berjalan Menurut Ray Dalio

Ray Dalio, seorang investor dan pendiri Bridgewater Associates, dikenal karena cara uniknya dalam menjelaskan bagaimana ekonomi bekerja. Ia sering menggunakan bahasa yang sederhana agar orang awam pun bisa memahami hal-hal yang biasanya rumit. Menurut Ray Dalio, ekonomi pada dasarnya adalah sebuah “mesin” yang terdiri dari banyak bagian yang saling terhubung. Mesin ini digerakkan oleh transaksi, utang, produktivitas, serta kebijakan pemerintah.   Ray Dalio menjelaskan bahwa setiap kali seseorang membeli barang atau jasa, itu adalah sebuah transaksi. Jika transaksi terjadi dalam jumlah besar, maka roda ekonomi berputar lebih cepat.  Transaksi bisa menggunakan uang tunai maupun utang. Inilah mengapa utang punya peran besar dalam pergerakan ekonomi sebuah negara.  Saat orang atau perusahaan mudah mendapatkan pinjaman, mereka cenderung belanja dan berinvestasi lebih banyak. Hal itu mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, jika utang terlalu banyak dan sulit dibayar kembali, maka akan ada masalah baru  Baca Juga : https://investhink.id/mengenal-neuronomic-behavioral-finance/ Selain utang, Ray Dalio menekankan pentingnya produktivitas. Produktivitas berarti bagaimana orang bisa menghasilkan lebih banyak barang atau jasa dengan cara yang lebih efisien.  Semakin tinggi produktivitas, semakin kuat perekonomian sebuah negara dalam jangka panjang. Utang bisa membantu pertumbuhan dalam waktu singkat, tetapi produktivitaslah yang menentukan kekuatan ekonomi dalam jangka panjang. Ray Dalio juga membagi siklus ekonomi ke dalam pola naik turun. Ada masa ekonomi tumbuh pesat, lalu ada masa perlambatan atau resesi. Pemerintah dan bank sentral biasanya berperan penting di sini.  Mereka bisa menurunkan suku bunga agar pinjaman lebih murah, atau sebaliknya, menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi. Dengan kata lain, kebijakan moneter dan fiskal ibarat “alat kontrol” untuk menjaga agar mesin ekonomi tidak terlalu panas atau justru berhenti berputar. Menurut Ray Dalio, penting bagi sebuah negara untuk memahami bahwa krisis bukanlah sesuatu yang bisa dihindari sepenuhnya. Siklus naik turun adalah hal yang alami. Yang terpenting adalah bagaimana sebuah negara mengelola krisis tersebut dan mempersiapkan fondasi ekonomi yang sehat melalui produktivitas, inovasi, dan manajemen utang yang bijak. Dengan penjelasan sederhana itu, Ray Dalio ingin menunjukkan bahwa ekonomi bukanlah sesuatu yang mistis.  Semua orang bisa memahami bagaimana ia berjalan jika melihatnya seperti mesin dengan roda gigi yang saling berhubungan. Jika satu bagian rusak atau berlebihan, dampaknya akan terasa pada seluruh sistem. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Uzairon Ardiansyah

Artikel, Investasi, Psikologi, Saham

Mengenal Neuronomic Behavioral Finance

Dalam dunia keuangan, keputusan investasi sering kali dianggap hanya berdasarkan logika, data, dan analisis rasional. Namun, kenyataannya manusia tidak selalu berpikir secara objektif. Emosi, kebiasaan, dan cara otak bekerja punya peran besar dalam menentukan keputusan finansial seseorang. Dari sinilah lahir konsep behavioral finance yang mempelajari bagaimana psikologi memengaruhi keputusan keuangan. Lebih jauh lagi, muncul pendekatan baru yang disebut neuronomic behavioral finance, yaitu gabungan antara ilmu keuangan, psikologi perilaku, dan neurosains. Neuro Finance dalam Behavioral Finance mempelajari bagaimana otak kita memengaruhi keputusan keuangan. Secara sederhana, neuronomic behavioral finance mencoba menjelaskan bagaimana otak manusia bekerja saat mengambil keputusan finansial. Misalnya, ketika seseorang melihat harga saham naik drastis, bagian otak yang memicu rasa takut ketinggalan (FOMO) akan aktif. Hal ini sering membuat investor membeli tanpa analisis matang. Sebaliknya, saat harga turun tajam, bagian otak yang memicu rasa takut rugi akan membuat orang cepat menjual, meski terkadang keputusan itu merugikan dirinya sendiri. Penelitian dalam bidang ini menggunakan teknologi seperti brain imaging untuk memahami bagian otak mana yang aktif saat seseorang mengambil keputusan investasi. Hasilnya menunjukkan bahwa bias kognitif—seperti terlalu percaya diri, takut rugi, atau ikut-ikutan—sebenarnya berkaitan langsung dengan aktivitas saraf di otak. Dengan memahami hal ini, para ahli berharap investor bisa belajar mengendalikan emosinya dan membuat keputusan lebih rasional. Baca juga : https://investhink.id/dijual-malah-naik-di-beli-malah-turun-pernah-mengalaminnya/ Mengapa hal ini penting? Karena pasar keuangan tidak hanya digerakkan oleh data dan angka, tetapi juga oleh perilaku massa. Krisis finansial, gelembung harga saham, hingga tren investasi tertentu sering dipicu oleh keputusan emosional yang dilakukan banyak orang secara bersamaan. Jika kita mampu mengenali bagaimana otak bekerja dalam situasi tersebut, kita bisa lebih waspada terhadap jebakan psikologis yang membuat keputusan finansial menjadi tidak bijak. Dalam praktiknya, neuronomic behavioral finance bisa membantu investor memahami diri sendiri sebelum menaruh uang di instrumen tertentu. Dengan mengenali pola pikir dan emosi pribadi, seseorang dapat menyiapkan strategi yang lebih disiplin, misalnya dengan menetapkan batas kerugian (stop loss) atau membatasi jumlah modal yang dipakai untuk spekulasi. Singkatnya, neuronomic behavioral finance mengajarkan bahwa berinvestasi bukan hanya soal angka, tetapi juga soal memahami cara kerja otak dan emosi kita. Dengan wawasan ini, setiap orang dapat belajar menjadi investor yang lebih bijak, rasional, dan siap menghadapi dinamika pasar yang penuh ketidakpastian. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Uzairon Ardiansyah  

Artikel, Investasi, Management, Psikologi, Saham

Purbaya Yudhi Sadewa tebar 200 T untuk stimulus pasar bagaimana efeknya ?

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana memindahkan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun dari rekening di Bank Indonesia ke bank-bank Himbara, yaitu bank-bank milik negara. Tujuan utama langkah ini adalah supaya bank punya modal lebih banyak untuk menyalurkan kredit ke pelaku usaha dan masyarakat. Dengan begitu, roda ekonomi yang sempat melambat sejak Maret bisa kembali bergerak lebih cepat. Ibaratnya, bank diberi bahan bakar tambahan agar bisa menyalurkan pinjaman lebih luas, mulai dari UMKM, perusahaan besar, hingga kredit konsumsi untuk masyarakat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Pradita Utama Namun, rencana ini juga menuai catatan dari sejumlah ekonom. Ada kekhawatiran kalau dana jumbo tersebut tidak benar-benar masuk ke sektor riil, melainkan hanya “diparkir” di instrumen aman seperti Surat Berharga Negara (SBN) atau surat berharga yang diterbitkan Bank Indonesia (SRBI). Kalau begitu, efeknya ke pertumbuhan kredit bisa terbatas, dan tujuan awal untuk mendorong ekonomi jadi kurang tercapai. Dari sisi pasar modal, kebijakan ini tentu membawa sentimen positif, terutama untuk saham perbankan. Bank-bank BUMN jelas jadi pihak yang paling diuntungkan karena modalnya bertambah besar. Kalau mereka benar-benar agresif menyalurkan kredit, prospek keuntungan bank ikut meningkat, sehingga investor bisa lebih optimis terhadap kinerja saham-saham perbankan. Tidak hanya bank, sektor properti dan konstruksi juga berpotensi kecipratan. Dengan akses kredit yang lebih mudah, masyarakat bisa lebih leluasa mengambil KPR atau pinjaman pembangunan rumah. Hal ini bisa mendorong penjualan developer sekaligus membuka peluang proyek baru bagi kontraktor. Di sisi lain, sektor konsumsi dan ritel juga bisa ikut naik, karena dengan kredit lancar, UMKM lebih mudah berkembang dan daya beli masyarakat pun meningkat. Pasar obligasi juga bisa mendapat efek samping. Jika dana besar itu malah lebih banyak ditempatkan di SBN atau SRBI, maka permintaan terhadap obligasi pemerintah bisa naik dan yield turun. Bagi investor obligasi, hal ini bisa jadi menarik, tapi bagi ekonomi riil, dampaknya tidak sebesar bila uang benar-benar diputar untuk kredit produktif. Singkatnya, langkah pemindahan dana Rp200 triliun ini bisa jadi dorongan kuat bagi pasar modal, terutama di sektor perbankan, properti, konstruksi, dan konsumsi. Namun, hasil akhirnya sangat bergantung pada bagaimana dana itu benar-benar dikelola. Kalau tersalurkan dengan baik, efeknya bisa mendorong optimisme dan menghidupkan kembali aktivitas ekonomi. Tapi kalau hanya berhenti di instrumen aman, pasar mungkin hanya akan merespons datar. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Uzairon Ardiansyah

Artikel, Cryptocurrency, Investasi, Psikologi

The Valley of Despair dalam Trading: Jebakan Emosi yang Harus Diwaspadai

Dalam dunia trading, istilah “The Valley of Despair” sering muncul, terutama saat membahas perjalanan psikologis seorang trader. Tapi apa sih sebenarnya artinya? The Valley of Despair adalah titik terendah dalam perjalanan emosi seseorang ketika mempelajari atau menjalani sesuatu yang baru—termasuk trading. Biasanya, ini terjadi setelah seorang trader baru merasa percaya diri karena sempat untung, lalu tiba-tiba mengalami kerugian besar. Rasa percaya diri yang semula tinggi mendadak berubah jadi kebingungan, frustrasi, bahkan keputusasaan. Inilah yang disebut “lembah keputusasaan”. Bayangkan kamu belajar trading, lalu di awal kamu cuan terus. Rasanya hebat banget, kan? Tapi tiba-tiba market berubah arah. Kamu panik, strategi nggak jalan, dan modal mulai menipis. Di sinilah kamu merasa, “Mungkin ini bukan untukku…”. Itulah Valley of Despair. Biasanya, fase ini muncul setelah seseorang mengalami apa yang disebut sebagai “peak of inflated expectations” atau puncak ekspektasi berlebihan. Ketika pertama kali masuk ke dunia trading, banyak orang merasa semangat dan optimis. Baca juga :https://investhink.id/dijual-malah-naik-di-beli-malah-turun-pernah-mengalaminnya/ Apalagi jika di awal sempat mendapatkan untung. Keuntungan awal ini sering menimbulkan rasa percaya diri yang terlalu tinggi, bahkan ada yang mulai merasa sudah ahli dan bisa “menaklukkan” pasar. Namun kenyataannya, pasar tidak selalu ramah. Ketika terjadi kerugian beruntun, mental mulai goyah. Strategi yang tadinya dianggap ampuh, tiba-tiba tidak lagi bekerja. Di titik inilah, banyak trader mulai berpikir, “Mungkin trading bukan untuk saya” atau bahkan ingin berhenti total. The Valley of Despair adalah jebakan psikologis yang bisa menghentikan perjalanan seorang trader, jika tidak disikapi dengan bijak. Namun sebenarnya, fase ini adalah bagian wajar dari proses belajar. Justru dari titik terendah inilah banyak trader mulai membangun kembali pemahaman yang lebih realistis tentang market. Mereka mulai menyadari bahwa trading bukan tentang tebak-tebakan atau keberuntungan, melainkan tentang disiplin, manajemen risiko, kesabaran, dan pengendalian emosi. The Valley of Despair bukan akhir dari perjalanan, tapi justru titik balik menuju kedewasaan dalam trading. Jadi, kalau kamu merasa sedang ada di lembah itu, ingat: kamu tidak sendiri—dan jalan naik masih terbuka lebar.

Artikel, Investasi, Saham

Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Membeli Saham Batubara ?

Saham batubara termasuk jenis saham yang sering jadi bahan perbincangan, terutama saat harga komoditas sedang naik atau ada isu energi global. Tapi karena sifatnya yang fluktuatif, banyak investor bingung kapan sih sebenarnya waktu yang tepat untuk masuk ke saham batubara ? Image By Ilmu Tambang Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa sektor batubara bersifat siklikal, artinya sangat dipengaruhi oleh siklus ekonomi dan permintaan global. Ketika dunia sedang membutuhkan banyak energi, seperti saat musim dingin atau ketika ekonomi negara besar sedang tumbuh, harga batubara biasanya ikut naik. Tapi ketika dunia mulai menekan emisi karbon atau permintaan energi turun, harga batubara bisa ikut anjlok. Jadi, penting untuk tidak terburu-buru ikut tren tanpa melihat konteks. Sebenarnya jika kita perhatikan siklus batubara bergerak selalu begitu-gitu saja. Batubara naik, produsen cuan besar, supply produksi naik lalu harga saham naik. Begitu juga sebaliknya, setelah supply melimpah, harga turun, perusahaan cuan sedikit bisa malah rugi harga sahamnya pun ikut turun juga.   Jadi kuncinya adalah kita lebih baik membeli ketika harga perusahaan sedang cuan sedikit atau bahkan rugi sekalipun.  Lantas dimanakah posisi batubara sekarang berada ?  Hal pertama yang bisa kita perhatikan adalah bottom dari harga batubara itu sendiri, jika kita tarik selama 5 tahun kebelakang harga bottom batubara berada diharga $50/ton tepatnya di tahun 2020.  Yang kedua kita bisa melihat cash cost beberapa perusahaan di Australia dan China, kenapa dua negara tersebut ? Karena bisa dibilang kedua negara ini adalah supplyr batubara dunia.  Lantas berapa cash cost kedua negara tersebut ? jika kita search perusahaan di Australia memiliki cash cost berkisar antara $65/ton sampai $102/ton. Berdasarkan data jika rata-rata perusahaan Australia memiliki cash cost setara $92/ton. Artinya jika turun dibawah itu perusahaan akan mengalami kerugian, dengan kata lain bottom dari harga batubara Australia adalah $92/ton.  Berbeda dengan Australia, Perusahaan China saat ini memiliki cash cost pada rentang $80/ton – $90/ton. Pertanyaannya apakah saat ini sudah waktu yang tepat untuk membeli saham batubara ?  Jika kita lihat harga chart batubara diatas, saat ini harga batubara berada pada level $110/ton. Ini artinya masih jauh dari kata bottom, atau perusahaan masih ada untung. Bisa dibilang saat ini belum waktunya kita mengoleksi saham batubara. 

Artikel, Investasi, Saham

BI Rate Turun, Kenapa Saham Jadi Naik ?

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 15-16 Juli 2025 memutuskan untuk menurunkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,00%.   Logo Bank Indonesia (BI) di kantor pusat Bank Indonesia   Penurunan BI Rate atau suku bunga acuan dari Bank Indonesia seringkali membawa angin segar bagi pasar saham. Alasannya sederhana—ketika suku bunga turun, biaya pinjaman menjadi lebih murah dan bunga simpanan seperti deposito jadi kurang menarik. Hal ini mendorong investor untuk mencari alternatif investasi yang menawarkan potensi keuntungan lebih besar, salah satunya adalah saham. Arus dana yang berpindah dari deposito ke pasar saham biasanya menyebabkan permintaan terhadap saham meningkat, yang akhirnya mendorong harga saham naik. Selain itu, penurunan suku bunga juga berdampak positif bagi perusahaan. Dengan biaya pinjaman yang lebih rendah, perusahaan memiliki peluang lebih besar untuk mengambil kredit, memperluas bisnis, atau melakukan ekspansi lainnya. Hasilnya, potensi keuntungan mereka meningkat, dan hal ini menciptakan sentimen positif di pasar saham. Beberapa sektor yang paling cepat merespons penurunan BI Rate antara lain perbankan, properti, dan sektor konsumsi. Misalnya, saham-saham seperti BBRI (Bank Rakyat Indonesia) bisa diuntungkan karena biaya dana yang lebih murah meningkatkan margin laba. Sektor properti seperti SMRA (Summarecon Agung) atau PWON (Pakuwon Jati) juga kerap terdorong naik karena penurunan bunga KPR bisa meningkatkan permintaan rumah. Baca juga : https://investhink.id/pengaruh-kenaikan-tarif-pajak-amerika-terhadap-sektor-saham-di-indonesia/ Contoh nyata bisa dilihat saat BI Rate diturunkan secara bertahap selama pandemi 2020. Penurunan ini mendorong investor untuk masuk ke pasar saham karena ekspektasi pemulihan ekonomi yang lebih cepat. IHSG pun sempat menunjukkan tren menguat setelah kebijakan tersebut. Namun tentu saja, meskipun penurunan suku bunga bisa jadi kabar baik, pasar saham tetap dipengaruhi oleh banyak faktor lain seperti kondisi global, kinerja emiten, dan stabilitas politik. Jadi, penting juga untuk tetap berhati-hati dan mempertimbangkan faktor lain sebelum mengambil keputusan investasi.

Artikel, Investasi, Saham

Pengaruh Kenaikan Tarif Pajak Amerika terhadap Sektor Saham di Indonesia

Kenaikan tarif pajak impor oleh Amerika Serikat bukan cuma bikin pusing negara mitra dagangnya, tapi juga berdampak ke pasar saham, termasuk di Indonesia. Meskipun letaknya jauh, ekonomi global saat ini saling terkoneksi, jadi apa yang terjadi di Washington bisa langsung terasa di Jakarta, bahkan di layar monitor para investor. Ketika Amerika menaikkan tarif impor, otomatis harga barang dari luar negeri (termasuk dari Indonesia) jadi lebih mahal di pasar AS. Ini bisa menyebabkan turunnya permintaan terhadap produk ekspor Indonesia, seperti tekstil, elektronik, dan sawit. Nah, kalau permintaan ekspor turun, pendapatan perusahaan juga bisa menurun. Efeknya? Harga saham perusahaan-perusahaan yang terkait ekspor bisa ikut melemah. Misalnya, saham emiten seperti SMDR (Samudera Indonesia) yang bergerak di bidang pelayaran dan logistik bisa terdampak karena volume pengiriman ke AS menurun. Begitu juga perusahaan seperti INDF (Indofood) atau GJTL (Gajah Tunggal), yang punya sebagian besar pasar ekspor ke Amerika—harga saham mereka bisa ikut tertekan. Dampaknya nggak berhenti sampai di situ. Sentimen negatif akibat kenaikan tarif bisa bikin investor asing menarik dananya dari pasar saham Indonesia dan kembali ke aset yang dianggap lebih aman seperti obligasi AS. Ketika modal asing keluar dari pasar kita, IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) bisa ikut melemah karena tekanan jual meningkat. Namun, nggak semua sektor terkena imbas negatif. Beberapa sektor seperti consumer goods dalam negeri, perbankan lokal, atau infrastruktur bisa tetap stabil karena bisnisnya lebih banyak bergantung pada konsumsi domestik. Jadi, penting juga bagi investor untuk jeli melihat peluang di tengah ketidakpastian global. Intinya, kenaikan tarif pajak oleh Amerika bisa bikin guncangan di pasar saham Indonesia, terutama bagi emiten yang berorientasi ekspor. Tapi bukan berarti semua saham bakal jatuh—selalu ada peluang di tengah tantangan, asal kita bisa membaca arah angin dengan baik.

Scroll to Top