Author name: Tim Edukator

Artikel, Investasi, Psikologi

Kenapa Uang Selalu Datang ke Orang yang Tenang ? Ini Alasannya

Pernah nggak sih kamu lihat orang yang hidupnya kayak adem banget, nggak panikan, tapi rezekinya lancar terus? Kadang kita mikir, “Kok bisa ya dia segampang itu dapet duit?” Padahal ada juga orang yang kerja banting tulang tiap hari tapi hasilnya gitu-gitu aja. Nah, ternyata rahasianya ada disatu hal simpel tapi susah dilakukan, yaitu tenang.   Orang yang tenang tuh biasanya bisa mikir jernih. Pas ada masalah, mereka nggak langsung panik atau nyalahin keadaan. Karena pikirannya nggak kusut, mereka bisa nemuin solusi dan peluang yang nggak kelihatan sama orang lain. Di dunia kerja atau bisnis, ini penting banget. Orang yang tenang lebih gampang ngambil keputusan tepat, nggak asal ambil langkah cuma karena emosi atau panik. Baca juga : https://investhink.id/jebakan-psikologi-bagi-trader-di-balik-broker-summary/ Selain itu, orang yang santai tuh kelihatan lebih pede dan nggak needy banget sama uang. Mereka nggak gampang iri, nggak ngebandingin hidupnya sama orang lain. Energi kayak gini tuh magnet banget buat hal-hal baik datang. Orang lain juga lebih nyaman kerja bareng mereka, karena auranya positif dan nggak toxic. Ujung-ujungnya, banyak peluang datang — entah itu kerjaan baru, proyek, atau bahkan orang yang mau bantu. Ketenangan juga bikin seseorang lebih konsisten. Mereka nggak gampang nyerah pas lagi susah, karena tahu semua butuh waktu. Jadi, rezeki yang datang ke orang tenang itu bukan cuma karena hoki, tapi karena mereka tahu cara ngejaga energi dan fokus di jalan yang benar. Intinya, uang tuh suka sama vibe yang tenang. Kalau kamu panik, bingung, atau stres terus, pikiranmu jadi sumpek dan susah nangkep peluang. Tapi kalau kamu chill, jalan rezeki malah kebuka lebar. Jadi mulai sekarang, coba deh belajar tenang. Nggak harus cuek, tapi lebih ke stay cool aja dalam segala situasi. Karena percaya deh, uang bakal lebih gampang datang ke orang yang pikirannya adem dan nggak keburu-buru ngejar semuanya. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Uzzairon Ardiansyah

Artikel, Investasi, Saham

Jebakan Psikologi bagi Trader di Balik Broker Summary

Banyak trader, terutama ritel yang baru belajar trading saham masih percaya kalau data broker summary bisa kasih petunjuk pasti soal arah harga. Padahal, di balik angka dan nama sekuritas itu, ada permainan psikologi yang sering banget bikin trader kejebak. Kadang, yang bikin rugi bukan karena salah analisa, tapi karena pikiran kita digiring buat ngambil keputusan yang salah. Broker Summary atau Money Flow sering digunakan di Indonesia untuk analisa tambahan   Ceritanya gini, saat lo buka broker summary dan liat nama-nama sekuritas ritel kayak XL, XA, atau MG lagi banyak beli, otak lo langsung refleks mikir, “Wah, ini ritel pada borong, siap-siap harga mau dibanting nih.” Nah, di situlah jebakan mulai jalan. Banyak trader langsung panik dan buru-buru jualan, padahal belum tentu harga beneran turun. Sementara itu, algoritma atau pemain besar justru lagi nyedot barang murah dari trader yang takut. Baca juga : https://investhink.id/jebakan-psikologi-pasar-buka-chart-tiap-5-menit-malah-bikin-boncos/ Kebalikannya, kalau lo liat sekuritas asing kayak AK atau BK lagi banyak beli, pikiran lo langsung ngerasa aman. “Asing masuk, berarti harga bakal naik.” Padahal belum tentu juga. Bisa aja itu cuma rotasi akun, robot trading, atau sekadar trik buat munculin ilusi seolah-olah big player lagi akumulasi. Faktanya, broker summary gak selalu nunjukin kebenaran. Kadang justru jadi panggung ilusi yang dipakai buat ngatur emosi massa. Algoritma modern sekarang udah canggih banget. Mereka bisa atur siapa yang keliatan beli, siapa yang keliatan jual, bahkan sampai waktu transaksi per detiknya. Semua itu punya satu tujuan, ngontrol psikologi pasar biar harga bisa digerakkin tanpa banyak perlawanan. Jadi jangan heran kalau kadang harga malah jalan berlawanan sama apa yang lo pikir setelah liat broker summary. Trader yang udah paham permainan ini biasanya gak fokus ke “siapa yang beli” tapi lebih ke “apa yang dilakukan harga”. Mereka ngeliat momentum, volume, dan arah energi pasar, bukan sekadar nama broker. Karena pada akhirnya, yang penting bukan siapa yang keliatan aktif, tapi arah sebenarnya dari pergerakan uang besar. Intinya, broker summary itu bukan kebenaran mutlak. Kadang cuma cermin dari strategi yang sengaja dipajang buat ngibulin persepsi ritel. Jadi, sebelum buru-buru ambil keputusan gara-gara data itu, coba tenangin dulu pikiran dan liat pola harga dengan jernih. Ingat, di pasar saham yang penuh trik ini, bukan cuma angka yang bergerak, tapi juga emosi manusia yang dimainkan. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Uzzairon Ardiansyah

Artikel, Investasi, Psikologi

Jebakan Psikologi Pasar : Buka Chart Tiap 5 Menit Malah Bikin Boncos

Pernah nggak sih kamu ngerasa jadi trader super sibuk, buka chart tiap 5 menit, pantengin candle warna hijau-merah kayak lagi nonton pertandingan bola? Awalnya niatnya sih bagus, biar “nggak ketinggalan momen”. Tapi kenyataannya, makin sering buka chart, justru makin sering salah langkah. Ujung-ujungnya? Boncos. Intensitas trading yang terlalu tinggi justru tidak baik Masalahnya bukan di chart-nya, tapi di otak kita sendiri. Setiap kali liat harga gerak dikit aja — naik 0,5% langsung FOMO, turun dikit langsung panik. Otak kita bereaksi kayak roller coaster. Padahal pergerakan kecil itu belum tentu berarti apa-apa secara tren besar. Tapi karena kita terlalu sering mantengin, akhirnya sinyal palsu kita anggap serius. Dari situ mulai deh, beli-jual tanpa arah, overtrading, dan ujungnya rugi bukan karena pasar, tapi karena diri sendiri. Trading itu kayak mancing. Kalau kamu terus bolak-balik tarik pancing tiap 5 menit, ya ikannya kabur. Sama halnya di saham atau crypto — makin sering kamu utak-atik posisi tanpa strategi jelas, makin tinggi peluang salah. Trader yang sabar biasanya justru lebih cuan, karena mereka fokus ke arah jangka menengah dan besar, bukan gerakan receh yang bikin stres. Baca Juga : https://investhink.id/ilusi-likuiditas-kaya-di-atas-kertas-belum-tentu-bisa-dicairin-cepat/ Selain itu, terlalu sering buka chart juga bikin emosi gampang meledak. Kamu jadi nggak bisa objektif. Setiap candle merah terasa kayak bencana, padahal cuma retrace kecil. Akibatnya, rencana awal dilupakan, strategi jangka panjang berantakan. Banyak yang tadinya niat swing trading malah berubah jadi scalper dadakan gara-gara nggak tahan liat harga gerak sedikit. Jadi, kalau kamu pengen trading lebih tenang dan hasil lebih konsisten, coba kurangi intensitas liat chart. Tentuin waktu khusus — misal pagi buat analisa, malam buat evaluasi. Di luar itu, biarkan pasar bergerak sesukanya. Ingat, uang besar datang bukan dari yang paling sibuk, tapi dari yang paling sabar. Karena kadang, cara terbaik buat cuan itu bukan buka chart tiap 5 menit, tapi justru tutup layar dan sabar nunggu timing yang pas. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Orryza Sativa  

Artikel, Investasi, Saham

Ilusi Likuiditas : Kaya di Atas Kertas, Belum Tentu Bisa Dicairin Cepat

Pernah ngerasa udah aman secara finansial karena punya banyak aset? Rumah ada, tanah ada, saham juga segudang. Tapi hati-hati, bro — belum tentu semua itu bisa langsung jadi duit cash kalau lo butuh cepat. Nah, di sinilah yang namanya ilusi likuiditas aset sering bikin orang kejebak.   Coba bayangin, lo punya rumah 2 miliar. Keliatannya keren banget, kan? Tapi pas butuh uang darurat, nggak bisa dong langsung jual rumah hari ini terus besok duitnya udah di rekening. Bisa-bisa nunggu berbulan-bulan, bahkan tahunan, baru laku. Jadi ya, kaya sih kaya… tapi cuma di atas kertas. Baca juga : https://investhink.id/dampak-free-float-30-niat-baik-yang-bisa-jadi-bumerang/ Hal yang sama juga kejadian di saham. Waktu market lagi rame, semua orang beli-jual, rasanya gampang banget cairin uang. Tapi giliran pasar lagi ambyar, yang mau beli saham lo mendadak hilang entah ke mana. Mau jual cepat? Siap-siap rugi gede karena harga udah jeblok. Itu tuh yang sering bikin investor panik. Masalahnya, banyak orang terlalu pede. Mereka mikir, “Ah, gampang, nanti kalau butuh tinggal jual aset.” Padahal nggak semudah itu, Ferguso! Kadang lo harus banting harga biar laku. Nah, kalau udah kayak gini, yang namanya “nilai aset” jadi nggak berarti banyak. Makanya, penting banget buat punya aset yang bener-bener likuid. Misalnya tabungan, deposito jangka pendek, atau instrumen keuangan yang gampang dicairin tanpa drama. Jadi kalau ada kebutuhan mendadak, lo nggak perlu jual rumah atau saham di waktu yang salah. Intinya sih gini: jangan gampang puas cuma karena total kekayaan lo keliatan gede. Percuma punya aset banyak tapi susah cair. Kaya beneran itu kalau lo bisa pakai uangnya kapan aja, tanpa harus panik, jual rugi, atau nunggu pembeli yang nggak dateng-dateng. Jangan sampai lo cuma “kaya di Excel”, tapi miskin di rekening Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Orryza Sativa

Artikel, Investasi, Saham

Dampak Free Float 30%: Niat Baik yang Bisa Jadi Bumerang?

Belakangan ini, DPR dan OJK lagi rame banget ngomongin aturan baru: semua perusahaan yang udah listing di bursa harus punya free float minimal 30%. Buat yang belum ngeh, free float itu gampangnya bagian saham yang bisa bebas diperdagangkan publik di pasar. Jadi kalau free float-nya kecil, artinya saham itu kebanyakan masih dipegang oleh pemilik utamanya, dan yang beredar di pasar cuma sedikit. Shareholder atau pemegang saham punya peran penting disebuah perusahaan.   Sekilas sih, idenya keren. Dengan free float yang lebih besar, likuiditas saham bisa naik, transaksi jadi rame, harga saham lebih fair, dan nggak gampang digoreng sama pemain besar. Investor asing juga biasanya suka saham yang likuid, jadi aturan ini bisa bikin pasar modal Indonesia makin seksi di mata dunia. Tapi, jangan buru-buru tepuk tangan dulu. Kalau aturan ini dipaksain tanpa transisi yang smooth, bisa bikin banyak emiten kelimpungan. Bayangin aja, perusahaan yang masih dikuasai keluarga atau BUMN harus tiba-tiba jual 30% sahamnya ke publik. Tekanan jual bisa gede banget, dan harga saham bisa jeblok gara-gara banyak yang lepas bareng-bareng. Pasar bisa goyang, investor panik, dan malah bikin chaos. Baca juga : https://investhink.id/2025-bak-hujan-uang-ihsg-bitcoin-dan-emas-cetak-rekor/ Belum lagi, buat perusahaan kecil, nambah free float sampai 30% bisa berarti kehilangan kendali. Mereka bisa takut keputusan di RUPS jadi susah diatur, atau muncul investor baru yang terlalu vokal. Kalau timing-nya lagi nggak pas — misal harga saham lagi lesu — mereka malah rugi karena harus jual di harga murah. Intinya, niat OJK dan DPR ini sebenernya bagus, tapi eksekusinya harus hati-hati banget. Kalau mau diterapin, kasih waktu yang cukup dan mungkin insentif buat perusahaan biar bisa adaptasi pelan-pelan. Karena di dunia saham, niat baik doang nggak cukup — kalau timing-nya salah, hasilnya bisa berantakan. Jadi ya, semoga kebijakan ini bukan cuma keren di atas kertas, tapi juga realistis buat diterapin di dunia nyata. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Orryza Sativa

Artikel, Investasi, Saham

2025 Bak Hujan Uang: IHSG, Bitcoin, dan Emas Cetak Rekor!

Tahun 2025 bisa dibilang kayak mimpi jadi nyata buat para investor. Gimana nggak? IHSG, Bitcoin, sampe emas — tiga-tiganya kompak terbang tinggi dan tembus all time high. Rasanya kayak lagi hujan duit, semua orang happy, portofolio hijau, dan timeline media sosial penuh pamer cuan. Tapi, di balik euforia ini, ada cerita menarik kenapa semuanya bisa naik segila ini. Pada hari selasa 07 Oktober 2025 IHSG mengalami all time high dilevel poin 8217,0460 Pada hari senin 06 Oktober 2025 Bitcoin mengalami all time high dilevel harga 125,762 Pada hari selasa 07 Oktober 2025 Emas mengalami all time high dilevel harga 3,977   Pertama, dunia mulai adem lagi setelah drama inflasi dan perang geopolitik beberapa tahun terakhir. Bank sentral udah nggak seketat dulu, bunga mulai stabil, dan duit investor balik ngalir ke pasar modal. Akibatnya? IHSG langsung ngegas! Duit asing masuk, investor lokal makin pede, saham-saham big cap pada menggila. Yang dulu sabar nabung saham, sekarang senyumnya udah kayak abis gajian tiga kali lipat. Terus, si raja kripto — Bitcoin — juga nggak mau kalah eksis. Dulu sempet diremehkan dan dibilang “udah tamat”, eh sekarang malah bangkit jadi primadona lagi. Narasinya berubah, sekarang orang ngeliat Bitcoin bukan cuma alat spekulasi, tapi juga “emas digital”. Banyak perusahaan gede dan institusi mulai masuk, bikin permintaan naik gila-gilaan. Dan karena supply-nya terbatas, harganya pun terbang sampai ke level yang dulu cuma jadi bahan bercandaan di forum. Baca juga : https://investhink.id/analysis-paralysis-kebanyakan-mikir-nggak-jadi-jadi-investasi/ Sementara emas? Si senior ini tetap kalem tapi berkelas. Di tengah dunia yang masih penuh ketidakpastian, orang-orang balik lagi cari aman. Permintaan naik, harga pun melesat. Jadinya, emas juga ikut ngerasain manisnya rekor baru. Tapi ya, meskipun sekarang semua serba hijau dan cuan bertebaran, jangan sampai lupa: pasar tuh kayak ombak. Kadang tenang, kadang tiba-tiba nyungsep. Jadi, nikmatin cuan boleh, tapi tetep waspada. Jangan keburu FOMO, jangan mikir semua bakal naik selamanya. 2025 emang kayak tahun penuh rezeki nomplok. Tapi yang bisa bertahan bukan yang paling cepat ngejar untung, melainkan yang paling pinter jaga ritme. Jadi, selamat menikmati hujan uang, tapi siap-siap juga payungnya—siapa tahu badai koreksi datang tanpa undangan! Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Uzzairon Ardiansyah

Artikel, Investasi, Saham

Analysis Paralysis: Kebanyakan Mikir, Nggak Jadi-Jadi Investasi

Lo pernah nggak sih udah niat mau beli saham, tapi ujung-ujungnya malah nggak jadi? Padahal udah riset, baca laporan, nonton analisa YouTube, scrolling berita, bahkan nanya di forum—tapi tetep aja ragu. Nah, itu namanya analysis paralysis, alias kebanyakan mikir sampai akhirnya nggak gerak sama sekali. Analysis paralysis itu kondisi di mana seseorang terlalu banyak mikir, terlalu banyak analisa, sampai akhirnya nggak ngelakuin apa-apa.   Di dunia saham, hal ini sering banget kejadian, terutama buat yang baru terjun. Wajar sih, karena semua orang pengen keputusan pertamanya nggak salah. Masalahnya, pasar nggak peduli kita udah mikir seberapa keras. Saham bisa terbang duluan, atau malah anjlok pas kita masih sibuk bandingin data. Akhirnya, kesempatan lewat begitu aja. Bukan berarti analisa itu jelek ya. Analisa itu penting, biar nggak asal tebak-tebakan. Tapi kalau kebanyakan, jadinya malah bikin kepala mumet. Ingat, informasi soal saham tuh nggak ada habisnya. Selalu ada indikator baru, berita heboh, atau rekomendasi “pakar” yang kadang bikin tambah bingung. Kalau semua mau ditelan, ya siap-siap stuck. Baca juga: https://investhink.id/kamu-bangga-setahun-dapat-return-50-persen-justru-hedge-fund-malah-takut/ Trik biar nggak kejebak? Pertama, tentuin dulu tujuan lo main saham. Mau jangka panjang jadi investor santai, atau jangka pendek jadi trader yang mantengin chart? Kedua, jangan kebanyakan sumber. Pilih 2–3 referensi yang lo percaya, udah cukup. Ketiga, bikin aturan main yang jelas. Misalnya: kalau valuasi oke dan sesuai kriteria, ya langsung beli. Kalau harga turun sampe level tertentu, stop loss tanpa mikir lagi. Simple. Intinya gini, di pasar saham nggak ada yang bisa selalu benar. Bahkan investor legendaris pun pernah salah. Bedanya, mereka berani ambil keputusan dan disiplin sama sistemnya. Jadi daripada terjebak di fase overthinking, mending eksekusi aja. Keputusan yang “lumayan tepat” jauh lebih berharga daripada analisa super detail yang nggak pernah diwujudkan. Ingat bro, saham itu bukan lomba siapa yang paling banyak hafal indikator. Tapi siapa yang berani konsisten jalanin strateginya. Jadi, jangan kebanyakan mikir, keburu sahamnya kabur. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Uzzairon Ardiansyah

Artikel, Investasi, Management, Saham

Kamu Bangga Setahun Dapat Return 50 Persen? Justru Hedge Fund Malah Takut

Banyak investor ritel suka pamer kalau portofolionya bisa cuan 50% dalam setahun. Rasanya kayak jadi jagoan, apalagi kalau dibandingin sama deposito atau obligasi yang mungkin cuma kasih 5–7% per tahun. Tapi menariknya, di dunia hedge fund yang ngelola dana miliaran dolar, return segede itu malah bikin mereka takut. Kenapa bisa begitu?   Rata-rata return hedge fund terhadap indeks S&P 500 antara tahun 2011 – 2020 ( Search Barclay Hedge Fund ) Logikanya gini, return tinggi biasanya datang barengan dengan risiko tinggi juga. Kalau dalam setahun bisa cetak 50%, pertanyaannya adalah “Berarti lo ambil risiko seberapa gede sampai bisa dapat segitu?” Hedge fund bukan cuma mikirin untung besar di satu tahun, tapi gimana caranya supaya mereka bisa bertahan konsisten selama 10, 20 bahkan 30 tahun. Jadi yang mereka kejar itu bukan hasil spektakuler sesaat, tapi kestabilan. Kalau kamu terlalu agresif ngejar return, ibaratnya kayak naik mobil balap terus gas pol di jalan berliku. Mungkin bisa sampai finish duluan, tapi peluang nabrak juga makin besar. Hedge fund lebih pilih jadi supir yang hati-hati, tetap kencang tapi punya kontrol penuh. Mereka lebih suka dapat 10–15% stabil setiap tahun daripada 50% sekali lalu tahun berikutnya minus 80%. Selain itu, investor besar yang nitip duit ke hedge fund nggak pengen drama. Bayangin kalau kamu investor institusi—kayak dana pensiun atau asuransi—pasti butuh kepastian supaya bisa bayar kewajiban jangka panjang. Kalau kinerja hedge fund naik-turun ekstrem, reputasi mereka hancur dan investor kabur. Jadi buat mereka, konsistensi jauh lebih seksi daripada return tinggi tapi penuh roller coaster. Makanya hedge fund banyak main di strategi “risk management”. Mereka pakai diversifikasi, hedging, sampai algoritma canggih buat ngatur portofolio. Tujuannya cuma satu: ngontrol volatilitas. Jadi kalau pasar lagi gonjang-ganjing, mereka masih bisa senyum tenang, bukan panik karena portonya turun drastis. Baca juga : Artikel terkait https://investhink.id/diversifikasi-bukan-soal-jumlah-aset-tapi-soal-beda-karakter/ Kesimpulannya, jangan gampang terbuai angka return gede dalam waktu singkat. Buat investor ritel mungkin kelihatan keren, tapi dalam dunia profesional justru bikin tanda tanya besar. Return tinggi tanpa kontrol risiko ibarat bom waktu—tinggal nunggu meledak. Hedge fund paham betul bahwa dalam investasi, yang paling penting bukan siapa yang paling cepat cuan, tapi siapa yang bisa konsisten survive dalam jangka panjang. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Uzzairon Ardiansyah

Artikel, Investasi, Saham

Diversifikasi Bukan Soal Jumlah Aset, Tapi Soal Beda Karakter

Banyak orang mikir kalau investasi aman itu kuncinya cuma satu: punya aset sebanyak-banyaknya. Jadi, ada yang semangat beli saham A, saham B, saham C, sampai penuh portofolionya. Tapi masalahnya, kalau semua saham itu karakternya mirip, ya percuma. Pas sektor itu kena badai, ya jatuhnya barengan. Jadi jangan salah kaprah, diversifikasi itu bukan soal banyaknya aset, tapi seberapa beda karakter aset yang kita punya. Contoh alokasi diversifikasi yang baik Coba bayangin gini. Kamu punya 10 saham, tapi semuanya dari sektor yang sama, misalnya perbankan. Begitu ekonomi lesu, bank kena imbas, semua sahammu kompak turun. Sakitnya double! Nah, lain cerita kalau kamu punya saham di sektor berbeda, terus ditambah obligasi, emas, atau reksa dana pasar uang. Pas saham turun, bisa jadi emas atau obligasi justru naik, jadi ada penyeimbang. Baca juga : https://investhink.id/greater-fool-game-main-saham-kok-kayak-main-tebak-tebakan/ Diversifikasi itu intinya nyebar risiko. Kalau semua asetmu jalannya sama, ya risikonya nggak benar-benar terbagi. Tapi kalau karakter asetnya beda, portofoliomu jadi lebih tahan banting. Saham bisa kasih pertumbuhan, emas jadi “tameng” pas inflasi, dan obligasi kasih rasa aman karena stabil. Kayak tim sepak bola, nggak mungkin semua pemain jadi striker. Harus ada kiper, bek, gelandang—biar balance dan bisa menang. Hal lain yang sering dilupain orang: diversifikasi itu personal banget. Nggak ada rumus saklek. Kalau kamu masih muda dan ngejar pertumbuhan, ya boleh saham lebih dominan. Tapi kalau butuh stabil karena ada rencana jangka pendek, obligasi atau deposito bisa lebih pas. Intinya, sesuaikan sama tujuan, jangan cuma ikut-ikutan tren. Jadi, kalau ada yang bilang “semakin banyak aset semakin aman,” jangan langsung percaya. Yang penting bukan banyaknya, tapi seberapa beda karakternya. Diversifikasi yang bener itu bikin kamu tetap bisa tidur nyenyak meski pasar lagi roller coaster. Ingat, tujuan investasi bukan keliatan keren punya banyak instrumen, tapi bikin keuanganmu sehat, stabil, dan sesuai impianmu. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Orryza Sativa

Artikel, Investasi, Saham

Greater Fool Game: Main Saham Kok Kayak Main Tebak-tebakan?

Pernah dengar istilah greater fool game dalam dunia saham? Tenang, ini bukan berarti yang main saham itu “bodoh”. Maksudnya begini, orang beli saham bukan karena perusahaannya bagus atau untung besar, tapi cuma berharap nanti ada orang lain yang mau beli saham itu dengan harga lebih tinggi. Jadi, logikanya sederhana “Saya beli mahal, nanti ada yang lebih bodoh yang beli lebih mahal lagi.” Analogi bagaimana greater fool game terjadi Kedengarannya lucu, tapi kenyataannya sering banget terjadi. Bayangin lagi main kursi musik. Selama musik jalan, semua orang masih bisa duduk. Tapi begitu musik berhenti, ada yang nggak kebagian kursi. Nah, dalam saham, selama harganya naik, semua happy. Tapi kalau tiba-tiba harga nyungsep, ya ada yang jadi korban terakhir alias si “greatest fool”. Contohnya gampang. Ada saham perusahaan yang bisnisnya belum jelas, belum untung, tapi harganya bisa melesat gila-gilaan. Kenapa? Karena orang-orang FOMO, takut ketinggalan. Mereka mikir, “Ah nggak apa-apa beli sekarang, nanti ada yang beli lagi lebih mahal.” Masalahnya, siapa yang jamin bakal ada yang mau beli lebih tinggi lagi? Kalau tiba-tiba tren berhenti, ya siap-siap nyangkut. Pertanyaannya, salah nggak main greater fool game? Jawabannya tergantung. Buat yang jago timing dan berani ambil risiko, kadang bisa cuan cepat. Tapi untuk kebanyakan orang, ini ibarat main judi. Kadang untung, tapi seringnya buntung. Karena kita nggak pernah tahu kapan “musik berhenti” dan siapa yang jadi korban terakhir. Baca juga : https://investhink.id/pasar-saham-apakah-harga-naik-selamanya-atau-ada-batasnya/ Kalau tujuanmu investasi jangka panjang, sebaiknya jangan terlalu ikut-ikutan main game ini. Ingat, saham itu seharusnya dibeli karena perusahaannya punya prospek, untungnya stabil, dan bisnisnya masuk akal. Bukan cuma karena harga lagi naik dan semua orang pada heboh. Singkatnya, greater fool game bisa bikin kaya cepat, tapi juga bisa bikin bangkrut lebih cepat. Jadi sebelum ikut-ikutan beli saham yang lagi “digoreng”, coba tanya ke diri sendiri “Saya lagi investasi atau cuma berharap ada orang lain yang mau beli lebih mahal dari saya?” Kalau jawabannya yang kedua, hati-hati. Bisa jadi kamu lagi ikut main kursi musik, dan jangan sampai jadi orang terakhir yang nggak kebagian kursi. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Uzzairon Ardiansyah

Scroll to Top