Author name: Tim Edukator

Investasi, Psikologi, Saham

Mengapa Anda Tidak Boleh Mencoba Meramalkan Masa Depan

Dalam dunia pasar modal, keinginan untuk memprediksi masa depan hampir selalu muncul, terutama saat kondisi pasar tidak menentu. Banyak investor mencoba menebak berbagai arah pasar, kapan IHSG akan jatuh, kapan saham tertentu mencapai puncak, atau kapan krisis akan berakhir. Sayangnya, sejarah menunjukkan bahwa prediksi jarang benar secara konsisten.   Contoh pertama adalah market timing. Banyak investor ritel menunggu “harga paling bawah” sebelum membeli saham. Ketika pasar mulai turun, mereka menahan diri karena yakin harga akan turun lebih dalam. Namun saat pasar justru berbalik naik, mereka tertinggal dan akhirnya membeli di harga yang lebih mahal. Upaya memprediksi titik terendah justru membuat peluang hilang begitu saja. Contoh kedua bisa dilihat saat krisis besar, seperti pandemi atau krisis keuangan global. Pada awal krisis, banyak analis memprediksi pasar akan jatuh lebih dalam dan butuh waktu sangat lama untuk pulih. Akibatnya, banyak investor menjual saham berkualitas karena takut kerugian semakin besar. Baca juga artikel terkait : https://investhink.id/ketika-pasar-seolah-menyindir-ini-permainan-orang-dewasa/ Beberapa bulan kemudian, pasar justru pulih lebih cepat dari perkiraan. Mereka yang terlalu percaya pada prediksi akhirnya keluar di harga bawah dan kehilangan momentum ketika sahamnya kembali naik. Contoh lainnya adalah prediksi saham “pasti naik” berdasarkan isu atau rumor. Misalnya, saham tertentu diprediksi akan meroket karena proyek besar atau aksi korporasi. Investor membeli tanpa mempertimbangkan risiko, valuasi, atau kondisi pasar secara keseluruhan. Ketika realisasi tidak sesuai ekspektasi, harga saham justru turun tajam. Prediksi memberi rasa percaya diri palsu, padahal realitas pasar jauh lebih kompleks. Di pasar modal, pendekatan yang lebih dewasa bukanlah menebak masa depan, melainkan menyiapkan diri untuk berbagai kemungkinan. Investor yang matang fokus pada diversifikasi, manajemen risiko, dan kualitas aset. Mereka sadar bahwa masa depan tidak bisa ditebak, tetapi dampaknya bisa dikelola. Intinya, pasar modal membuktikan satu hal penting: yang konsisten bukanlah prediksi, melainkan ketidakpastian itu sendiri. Daripada sibuk menebak apa yang akan terjadi besok, investor yang rasional memilih untuk memahami kondisi hari ini dan membangun strategi yang tetap bertahan dalam berbagai skenario. Di situlah letak kebijaksanaan dalam “permainan orang dewasa” di pasar modal. Facebook X WhatsApp Telegram

Artikel, Investasi, Psikologi, Saham

Ketika Pasar Seolah menyindir ” Ini Permainan Orang Dewasa “

Ditengah kejatuhan pasar saham akhir-akhir ini khususnya IHSG kita sangat sering melihat angka-angka dilayar berubah merah pekat dari yang sebelumnya hijau merekah, group percakapan mendadak ramai, banyak orang mulai bertanya-tanya, ini kita harus jual sekarang atau hold sampai pasar kembali naik ? dimomen seperti ini kejatuhan pasar saham seolah menyindir kita pelan namun begitu tajam, ” ini gamenya orang dewasa bro “. Bukan karena hanya orang dewasa yang boleh ikut, tapi karena permainan ini menuntut kedewasaan berpikir, bukan sekadar keberanian mencoba. Dalam waktu kurang dari 2 pekan IHSG ( Indeks harga saham gabungan mengalami penurunan lebih dari 10 persen setelah MSCI tangguhkan saham indonesia   Beberapa waktu lalu, penyedia indeks saham global MSCI membuat kebijakan yang mengejutkan pasar saham Indonesia. MSCI memutuskan untuk membekukan sementara proses rebalancing indeks saham Indonesia pada Februari 2026, artinya tidak ada saham baru yang bisa masuk ke dalam daftar indeks MSCI dan tidak ada perubahan bobot saham yang sudah ada. Keputusan ini otomatis membuat strategi investasi yang tergantung pada masuknya saham Indonesia ke MSCI menjadi tidak berlaku. Imbasnya langsung terasa panas di pasar lokal. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) langsung anjlok lebih dari 6% pada pembukaan perdagangan, dan banyak saham dari grup konglomerat yang harganya turun sampai batas auto reject bawah (ARB). Semua sektor hampir seluruhnya bergerak di zona merah. Alasan di balik keputusan MSCI bukan masalah ekonomi besar seperti krisis global, tapi lebih terkait dengan isu transparansi pasar saham Indonesia. Tapi kita tidak akan menyinggung terkait penyebab kejatuhan pasar, tapi kita akan sedikit menyenggol kenapa orang-orang bisa teriak keras ketika pasar jatuh tapi lupa akan risiko ketika pasar baik baik saja ?  Pasar saham berbeda dengan judi atau permainan keberuntungan. Setiap keputusan punya konsekuensi yang nyata. Misalnya, saat pandemi atau krisis global, banyak saham anjlok tajam. Ada investor yang langsung menjual semua sahamnya karena takut rugi lebih besar. Beberapa bulan kemudian, pasar perlahan pulih dan harga saham naik kembali. Mereka yang panik menjual kehilangan kesempatan, sementara yang bertahan dengan perhitungan matang justru bisa memulihkan bahkan menambah nilai investasinya. Sindiran pasar juga terlihat dari cara emosi bekerja. Ketika harga naik, banyak orang merasa pintar dan ingin menambah modal tanpa pikir panjang. Sebaliknya, saat harga turun, rasa takut mengambil alih dan logika sering ditinggalkan. Contoh sederhana, membeli saham di harga tinggi karena takut ketinggalan, lalu menjual di harga rendah karena takut rugi lebih dalam. Pola ini sering terjadi dan menjadi pelajaran mahal bagi banyak orang. Pada akhirnya, kejatuhan pasar saham bukanlah musuh, melainkan guru yang keras tapi jujur. Facebook X WhatsApp Telegram

Investasi, Psikologi, Saham

Kenapa kehilangan 1 juta lebih sakit daripada kesenangan mendapatkan 1 juta

Banyak orang pernah mengalami situasi ini: kehilangan uang satu juta rupiah terasa sangat menyakitkan, bahkan bisa kepikiran berhari-hari. Sebaliknya, saat mendapatkan uang satu juta rupiah, rasa senangnya sering kali cepat hilang dan terasa biasa saja. Fenomena ini bukan sekadar perasaan berlebihan, tetapi ada penjelasan psikologis yang cukup jelas di baliknya.   Dalam ilmu ekonomi perilaku, kondisi ini dikenal dengan istilah loss aversion atau keengganan terhadap kerugian. Secara sederhana, otak manusia memandang kerugian sebagai sesuatu yang jauh lebih berat dibandingkan keuntungan dengan nilai yang sama. Kehilangan satu juta rupiah bisa terasa dua kali lebih menyakitkan dibandingkan kebahagiaan saat mendapatkan satu juta rupiah. Otak kita memang “dirancang” untuk lebih peka terhadap ancaman daripada hadiah. Alasan utamanya berkaitan dengan naluri bertahan hidup. Sejak zaman dahulu, manusia harus sangat waspada terhadap kehilangan sumber daya, karena bisa mengancam kelangsungan hidup. Kehilangan makanan, tempat tinggal, atau alat berburu bisa berakibat fatal. Naluri ini terbawa hingga sekarang, meskipun konteksnya sudah berubah. Akibatnya, kehilangan uang memicu rasa takut, cemas, dan stres yang lebih kuat dibandingkan rasa senang saat mendapatkan uang. Selain itu, uang yang kita miliki sering kali sudah diberi “label” secara mental. Misalnya, satu juta rupiah dianggap sebagai tabungan, uang kebutuhan, atau hasil kerja keras. Ketika uang itu hilang, otak tidak hanya merasakan kehilangan nominalnya, tetapi juga kehilangan rasa aman, rencana masa depan, dan usaha yang sudah dikeluarkan. Sebaliknya, uang yang baru didapat sering dianggap sebagai bonus atau tambahan, sehingga dampak emosinya tidak sebesar kehilangan. Faktor ekspektasi juga berperan besar. Banyak orang secara tidak sadar menganggap uang yang dimiliki sebagai sesuatu yang “sudah pasti ada”. Saat uang itu hilang, realitas tidak sesuai dengan harapan, sehingga menimbulkan rasa kecewa yang mendalam. Namun ketika mendapatkan uang, hal tersebut sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar atau memang pantas diterima, sehingga rasa senangnya tidak bertahan lama. Baca juga : https://investhink.id/risk-everything-or-win-nothing-jangan-sampai-lengah/ Pemahaman ini penting, terutama dalam mengelola keuangan dan mengambil keputusan finansial. Rasa takut kehilangan sering membuat orang terlalu berhati-hati, enggan berinvestasi, atau sulit menerima risiko, meskipun peluang keuntungannya masuk akal. Di sisi lain, menyadari bahwa perasaan ini bersifat alami dapat membantu kita bersikap lebih rasional dan tidak terlalu dikendalikan oleh emosi. Pada akhirnya, kehilangan satu juta memang terasa lebih sakit daripada senangnya mendapatkan satu juta, bukan karena kita lemah, tetapi karena otak manusia bekerja seperti itu. Dengan memahami mekanismenya, kita bisa belajar mengelola emosi, membuat keputusan keuangan yang lebih sehat, dan tidak terjebak oleh rasa takut berlebihan terhadap kerugian. Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Investasi, Psikologi, Saham

Risk Everything or win nothing, Jangan sampai Lengah

Emosional kita sebagai trader apalagi seorang pemula terikat kuat dengan rasa greedy dan fomo. Takut kehilangan satu bungkus tanpa disadar bisa kehilangan satu keranjang. Market bergerak sangat dinamis, pagi-pagi ARB sore bisa ARA, begitupun sebaliknya. Tapi ada satu fakta menarik bahwasanya kita semua tidak bisa memprediksi harga saham dengan akurat.   Kita hanya merespon apa yang sedang terjadi dipasar. Itulah alasan kenapa ada money management, karena apa ? karena satu dua candle bisa merubah nasib hidup kita. Baca Juga : https://investhink.id/kenapa-pasar-bisa-begitu-nggak-rasional-ini-garis-besarnya/ Kontrol diri di pasar sangat dibutuhkan untuk semua orang. Itulah kenapa ada risk & reward. tidak semua set up harus kita eksekusi, tidak semua potensi up-down harus bisa kita ambil. Tapi dengan adanya aturan main seperti ini setidaknya kita bisa tahu apa yang sedang kita hadapi dan kita dapatkan kedepan. Yuk kita belajar bareng – bareng. jangan buru buru pengen kaya, nanti kalo wadahnya siap tinggal kita isi sebanyak mungkin. Yang terakhir jika kalian nanti berhasil jangan over – hype-in, belum tentu mereka siap di level result yang kalian punya. Dorong mereka semua buat jadi pelari hebat seperti kalian. Gak ada yang instan, usaha selalu berbanding lurus dengan hasil. Fokus di Long-term dibanding short term. Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Investasi, Psikologi, Saham

Kenapa Pasar Bisa Begitu Nggak Rasional ? Ini Garis Besarnya

Pasar keuangan itu kadang kelihatan kayak orang lagi labil—naik turun tanpa alasan jelas, drama tiba-tiba, dan sering banget nggak pakai logika. Salah satu penyebab utamanya adalah emosi manusia yang gampang kebawa suasana. Misalnya, ada rumor kecil soal ekonomi melemah, belum jelas benar atau nggaknya, tapi banyak orang langsung panik dan jual saham rame-rame. Akhirnya harga turun bukan karena masalah besar, tapi karena ketakutan massal. Sebaliknya, kalau ada saham lagi viral dan semua orang ngomong “ini bakal to the moon”, banyak yang ikut beli hanya karena FOMO, padahal nggak ngerti fundamental perusahaannya. Contohnya, saham yang tiba-tiba trending di TikTok bisa naik gila-gilaan cuma karena hype, bukan karena perusahaannya beneran berkembang. Selain emosi, efek ikut-ikutan juga bikin pasar makin nggak rasional. Banyak investor lebih percaya gerombolan daripada logika sendiri. Jadi kalau orang-orang pada beli saham tertentu, yang lain juga ikut masuk tanpa riset. Lalu ada juga masalah informasi yang sering setengah matang. Baca juga : https://investhink.id/nudge-theory-ketika-pikiran-bias-bisa-bikin-investasi-ambyar/ Di era medsos, berita nyebar cepat banget, tapi banyak yang cuma baca judul tanpa cari tahu isi lengkapnya. Misalnya ada berita “Perusahaan ABC merugi!”, padahal kalau dibaca sampai habis, ternyata ruginya cuma sementara karena lagi ekspansi. Tapi yang baca judul doang udah panik duluan, bikin harga saham goyang tanpa alasan kuat. Belum lagi kehadiran robot trading yang bikin pasar makin heboh. Algoritma ini bekerja super cepat dan langsung eksekusi jual atau beli tanpa mikir panjang. Kadang harga turun sedikit saja karena faktor kecil, robot nangkep sebagai sinyal bahaya, lalu memicu jual otomatis besar-besaran. Contohnya, harga anjlok 1–2% karena isu ringan, tapi karena robot ikut jual massal, turunnya jadi berlipat-lipat. Terakhir, ketidakpastian masa depan juga bikin pasar sering berpikir “overthinking”. Ada rumor teknologi baru bakal mengguncang industri tertentu, lalu investor buru-buru keluar dari saham sektor itu. Padahal teknologinya masih konsep di atas kertas. Jadi, pasar itu kelihatannya nggak rasional karena campuran emosi, ikut-ikutan, info simpang siur, robot trading, dan tebak-tebakan masa depan. Kalau kita ngerti pola “drama” ini, kita bisa lebih santai menghadapi naik-turunnya harga dan nggak gampang ikut panik atau terbawa euforia.     Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Uzzairon Ardiansyah

Cryptocurrency, Investasi, Psikologi

Nudge Theory : Ketika Pikiran Bias Bisa Bikin Investasi Ambyar

Pernah nggak sih kamu beli saham atau crypto cuma karena semua orang di media sosial lagi rame ngomongin itu? Atau tetap pegang investasi yang udah jelas rugi, cuma karena kamu yakin “nanti juga bakal balik lagi”? Nah, kalau iya, bisa jadi kamu lagi kena bias berpikir — alias cara berpikir yang menipu diri sendiri. Di sinilah Nudge Theory mulai berperan.     Jadi gini, Nudge Theory itu teori dari dua orang ahli, Richard Thaler dan Cass Sunstein. Mereka bilang, manusia tuh nggak selalu logis waktu ngambil keputusan, apalagi soal duit. Kita sering banget kejebak sama emosi, kebiasaan, atau bahkan tren yang lagi viral. Akibatnya, keputusan investasi bisa jadi berantakan tanpa kita sadari. Contohnya, ada yang namanya bias konfirmasi. Ini tuh kayak saat kamu udah yakin banget sama satu saham, terus kamu cuma cari berita yang mendukung keyakinanmu itu — sementara info negatifnya di-skip. Padahal bisa aja itu tanda bahaya. Ada juga herding bias, yaitu ikut-ikutan orang lain. Misalnya semua orang pada beli saham A, kamu ikut beli biar nggak ketinggalan. Tapi ujung-ujungnya harga malah anjlok bareng-bareng. Baca juga : https://investhink.id/kenapa-fomo-selalu-membuat-investasi-kita-boncos/ Nah, lewat Nudge Theory, para ahli pengen bantu kita ngambil keputusan keuangan yang lebih pintar tanpa harus “dipaksa.” Misalnya, aplikasi investasi bisa diatur biar lebih transparan soal risiko, bukan cuma nunjukin potensi cuannya aja. Atau bikin fitur reminder otomatis buat ngecek portofolio tiap beberapa bulan. Hal-hal kecil kayak gini bisa jadi “nudge” atau dorongan halus biar kita nggak gegabah. Kesimpulannya, lawan terbesar investor bukan pasar, tapi diri sendiri. Kadang yang bikin rugi itu bukan sahamnya, tapi keputusan kita yang terlalu cepat, emosional, atau cuma ikut tren. Jadi sebelum klik “beli” atau “jual,” coba tarik napas dulu, pikir pakai logika, bukan panik. Karena dalam dunia investasi, satu keputusan impulsif bisa bikin semuanya berantakan. Sedikit dorongan buat berpikir lebih jernih bisa jadi penyelamat portofoliomu. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Uzzairon Ardiansyah

Artikel, Investasi, Saham

Kenapa FOMO Selalu Membuat Investasi Kita Boncos ?

Pernah nggak sih lo ngerasa tiba-tiba pengen banget beli saham, kripto, atau aset lain cuma gara-gara semua orang lagi ngomongin itu? Nah, itu dia yang disebut FOMO (Fear of Missing Out) — rasa takut ketinggalan momen cuan. Tapi sayangnya, FOMO ini sering banget jadi penyebab utama kenapa banyak orang malah boncos alias rugi besar dalam investasi.   FOMO tuh muncul karena emosi, bukan logika. Otak kita kebawa suasana euforia pasar, ngerasa semua orang lagi untung, dan kalau kita nggak ikut, kita bakal ketinggalan. Padahal, pasar itu kayak roller coaster — yang naik pasti bisa turun. Sayangnya, pas FOMO udah nyerang, banyak orang lupa analisa, lupa risk management, bahkan lupa tujuan investasinya. Pokoknya asal ikut biar nggak ketinggalan. Yang bikin parah, FOMO sering banget muncul gara-gara media sosial. Liat orang pamer profit, capture portonya hijau semua, langsung deh ngerasa minder. Padahal, yang ditampilin cuma bagian manisnya doang. Jarang ada yang upload pas lagi nyangkut. Akhirnya, kita termakan ilusi seolah-olah semua orang lagi cuan, padahal realitanya nggak gitu. Baca juga : https://investhink.id/kenapa-mencapai-1-miliar-pertama-itu-lebih-sulit-dari-10-miliar/ Masalahnya, ketika lo masuk karena FOMO, biasanya timing-nya udah salah. Lo beli di harga atas karena ngikut tren, bukan karena ngerti valuasi atau momentum pasar. Dan pas harga mulai turun, lo panik, akhirnya jual rugi. Pola kayak gini terus berulang, dan hasilnya jelas: boncos. Cara ngatasin FOMO sebenernya simpel tapi nggak gampang. Lo harus punya plan yang jelas sebelum investasi: kapan masuk, kapan keluar, dan kenapa lo pilih aset itu. Kalau belum ngerti, mending belajar dulu daripada asal ikut-ikutan. Ingat, investasi bukan lomba siapa yang paling cepat cuan, tapi siapa yang bisa bertahan paling lama. Jadi, sebelum jari lo gatel buat buy now, coba tarik napas dulu. Tanya diri sendiri: “Gue beli karena analisa atau cuma takut ketinggalan?” Kalau jawabannya yang kedua, ya siap-siap aja — boncos tinggal nunggu waktu. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Uzzairon Ardiansyah

Artikel, Investasi, Saham

Kenapa Mencapai 1 Miliar Pertama Itu Lebih Sulit dari 10 Miliar ?

Pernah dengar kalimat, “Mencapai 1 miliar pertama itu paling susah, setelah itu lebih mudah menuju 10 miliar”? Sekilas terdengar kayak motivasi para pebisnis atau investor sukses. Tapi sebenarnya, kalimat ini ada benarnya. Bukan soal sombong atau pamer, tapi soal proses dan mentalitas.   Coba bayangin gini: waktu kamu mulai dari nol, semuanya terasa berat. Kamu harus belajar dari awal, salah sana-sini, jatuh bangun, bahkan kadang harus mulai lagi dari nol. Membangun 1 miliar pertama seperti nanjak bukit—pelan, lelah, dan terasa jauh banget. Kenapa? Karena di fase ini, kamu belum punya pengalaman, belum punya sistem, belum punya jaringan, dan modal juga terbatas. Baca juga : https://investhink.id/saham-naik-bukan-karena-fundamental-atau-teknikal-tapi-karena-emosi/ Saat mengejar angka pertama, kamu lebih sering debat dengan diri sendiri harus hemat, harus berani ambil risiko, harus nahan gengsi. Teman nongkrong beli ini-itu, kamu harus bilang, “Nggak dulu.” Itu bukan hal yang mudah. Mental bertahan hidup dan disiplin jadi tantangan utama. Tapi ketika sudah berhasil sampai 1 miliar, momentum mulai kebentuk. Kamu udah punya pengalaman jatuh-bangun, tahu mana yang menghasilkan, mana yang buang waktu. Modal bertambah, koneksi lebih luas, dan kamu udah mengerti cara kerja uang. Di titik ini, uang mulai “bekerja” buat kamu, bukan cuma kamu yang kerja mati-matian buat uang. Dari 1 miliar ke 10 miliar, biasanya bukan lagi soal bertahan hidup, tapi gimana kamu mengelola, membesarkan, dan menduplikasi strategi yang sudah terbukti. Di sinilah kekuatan compound growth terasa. Bisnis bisa berkembang lebih cepat, investasi mulai menghasilkan signifikan, dan peluang jadi lebih besar. Intinya? Yang paling berat itu fase awal: membangun fondasi. Bukan hanya modal uang, tapi juga modal mental, habit, dan pola pikir. Begitu fondasinya kuat, perjalanan berikutnya jauh lebih smooth—bukan tanpa tantangan, tapi kamu sudah jauh lebih siap menghadapinya. Jadi, kalau hari ini kamu masih dalam perjalanan menuju angka pertama itu, jangan patah semangat. Semua orang sukses juga mulai dari titik yang sama: nol. Fokus aja sama progress, bukan hasil instan. Ingat, 1% lebih baik setiap hari itu lebih kuat daripada usaha besar tapi cuma sebentar. Pelan-pelan, konsisten, dan biarkan waktu bekerja. Karena begitu kamu tembus 1 miliar pertama itu, jalan menuju 10 miliar nggak terasa mustahil lagi. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Uzzairon Ardiansyah

Artikel, Investasi, Psikologi, Saham

Saham Naik Bukan Karena Fundamental atau Teknikal, Tapi Karena Emosi

Jujur aja, banyak orang ngira pasar saham itu digerakin sama data — kayak laporan keuangan yang kinclong atau analisis teknikal yang rapi. Padahal kenyataannya, yang bikin harga saham naik-turun itu sering kali bukan logika, tapi emosi manusia. Yup, pasar saham tuh isinya bukan cuma angka, tapi juga rasa — mulai dari serakah, takut, sampe FOMO berjamaah.   Coba deh liat, begitu ada kabar bagus dikit, misalnya ekonomi katanya membaik atau ada rumor perusahaan mau ekspansi, orang-orang langsung rame beli saham. Nggak peduli beneran berdampak atau nggak, yang penting ikut cuan. Tapi giliran ada berita jelek dikit aja, langsung panik, jualan rame-rame, harga pun ambruk. Jadi ya, bukan grafik yang jalan duluan, tapi emosi massa yang ngatur ritme pasar. Yang kayak gini biasa disebut “sentimen pasar”. Kadang, saham yang secara fundamental masih biasa aja bisa terbang tinggi gara-gara banyak orang “percaya” sama ceritanya. Contohnya? Startup yang masih rugi tapi dibilang bakal jadi “the next big thing”. Orang beli bukan karena laporan keuangannya bagus, tapi karena ikut vibe optimisme. Makanya, main saham tuh bukan cuma soal bisa baca data, tapi juga bisa baca suasana hati pasar. Investor yang kuat itu bukan yang paling pinter analisis, tapi yang paling bisa nahan diri pas pasar lagi gila. Karena jujur, banyak yang nyangkut bukan karena salah pilih saham, tapi karena nggak bisa kalem waktu harga goyang. Baca juga : https://investhink.id/ternyata-investasi-saham-tidak-semudah-ucapan-influencer/ Intinya, pasar saham itu bukan tempat buat yang baperan. Kadang harga naik bukan karena perusahaannya makin keren, tapi karena orang-orang lagi euforia. Dan bisa jeblok cuma gara-gara semua lagi takut bareng-bareng. Jadi kalau mau survive di dunia saham, bukan cuma otak yang kudu nyala — tapi mental juga harus baja. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Orryza Sativa

Artikel, Cryptocurrency, Investasi, Reksadana, Saham

Ternyata Investasi Saham Tidak Semudah Ucapan Influencer

Belakangan ini, dunia investasi saham makin ramai dibicarakan. Banyak influencer keuangan di media sosial yang terlihat santai bilang, “Yuk investasi saham, biar uangmu kerja buat kamu.” Kalimatnya terdengar keren dan meyakinkan, tapi sayangnya, kenyataannya nggak sesederhana itu. Investasi saham memang bisa jadi cara efektif untuk menumbuhkan kekayaan, tapi prosesnya nggak semudah klik beli, tunggu, dan langsung cuan.   Banyak yang baru mulai investasi karena ngeliat influencer pamer portofolio hijau atau bilang udah profit jutaan. Akhirnya, banyak orang langsung FOMO — buru-buru beli saham tanpa mikir panjang. Padahal, yang nggak mereka tunjukin tuh sisi gelapnya: rugi, cut loss, stres liat harga anjlok, dan begadang mikirin market. Asli, saham tuh bukan dunia yang isinya cuma “cuan dan bahagia”, tapi juga “sabarlah dan tahan banting”. Masalahnya, influencer sering banget nunjukin hasil akhirnya doang — profitnya doang yang di-post, perjuangannya nggak. Mereka jarang ngomongin soal risiko, analisis, atau gimana caranya nyari saham bagus. Padahal harga saham bisa turun kapan aja, bahkan perusahaan besar pun bisa anjlok kalau kinerjanya lagi jelek. Jadi kalau cuma ikut-ikutan tanpa ngerti apa-apa, siap-siap aja jadi korban tren pasar. Baca juga : https://investhink.id/jebakan-psikologi-pasar-buka-chart-tiap-5-menit-malah-bikin-boncos/ Yang perlu diinget, investasi saham itu bukan ikut siapa yang paling viral, tapi siapa yang paling ngerti. Boleh banget belajar dari influencer, tapi jangan percaya 100% sama kata-kata mereka. Lo harus punya riset sendiri, ngerti risiko, dan siap mental kalau ternyata pasar lagi nggak bersahabat. Karena di dunia saham, yang sukses bukan yang paling cepat cuan, tapi yang paling sabar dan tahan tekanan. Intinya, jangan gampang tergoda sama omongan manis di media sosial. Belajar dulu, pahami caranya, dan siapin strategi lo sendiri. Karena investasi saham emang bisa bikin lo kaya — tapi bukan karena ikut influencer, melainkan karena lo paham apa yang lo lakuin. Dunia saham tuh bukan tempat buat yang pengen instan, tapi buat yang siap proses panjang. Facebook Twitter WhatsApp Telegram   Penulis : Orryza Sativa

Scroll to Top