Ketika Pasar Seolah menyindir ” Ini Permainan Orang Dewasa “
Ditengah kejatuhan pasar saham akhir-akhir ini khususnya IHSG kita sangat sering melihat angka-angka dilayar berubah merah pekat dari yang sebelumnya hijau merekah, group percakapan mendadak ramai, banyak orang mulai bertanya-tanya, ini kita harus jual sekarang atau hold sampai pasar kembali naik ? dimomen seperti ini kejatuhan pasar saham seolah menyindir kita pelan namun begitu tajam, ” ini gamenya orang dewasa bro “. Bukan karena hanya orang dewasa yang boleh ikut, tapi karena permainan ini menuntut kedewasaan berpikir, bukan sekadar keberanian mencoba. Dalam waktu kurang dari 2 pekan IHSG ( Indeks harga saham gabungan mengalami penurunan lebih dari 10 persen setelah MSCI tangguhkan saham indonesia Beberapa waktu lalu, penyedia indeks saham global MSCI membuat kebijakan yang mengejutkan pasar saham Indonesia. MSCI memutuskan untuk membekukan sementara proses rebalancing indeks saham Indonesia pada Februari 2026, artinya tidak ada saham baru yang bisa masuk ke dalam daftar indeks MSCI dan tidak ada perubahan bobot saham yang sudah ada. Keputusan ini otomatis membuat strategi investasi yang tergantung pada masuknya saham Indonesia ke MSCI menjadi tidak berlaku. Imbasnya langsung terasa panas di pasar lokal. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) langsung anjlok lebih dari 6% pada pembukaan perdagangan, dan banyak saham dari grup konglomerat yang harganya turun sampai batas auto reject bawah (ARB). Semua sektor hampir seluruhnya bergerak di zona merah. Alasan di balik keputusan MSCI bukan masalah ekonomi besar seperti krisis global, tapi lebih terkait dengan isu transparansi pasar saham Indonesia. Tapi kita tidak akan menyinggung terkait penyebab kejatuhan pasar, tapi kita akan sedikit menyenggol kenapa orang-orang bisa teriak keras ketika pasar jatuh tapi lupa akan risiko ketika pasar baik baik saja ? Pasar saham berbeda dengan judi atau permainan keberuntungan. Setiap keputusan punya konsekuensi yang nyata. Misalnya, saat pandemi atau krisis global, banyak saham anjlok tajam. Ada investor yang langsung menjual semua sahamnya karena takut rugi lebih besar. Beberapa bulan kemudian, pasar perlahan pulih dan harga saham naik kembali. Mereka yang panik menjual kehilangan kesempatan, sementara yang bertahan dengan perhitungan matang justru bisa memulihkan bahkan menambah nilai investasinya. Sindiran pasar juga terlihat dari cara emosi bekerja. Ketika harga naik, banyak orang merasa pintar dan ingin menambah modal tanpa pikir panjang. Sebaliknya, saat harga turun, rasa takut mengambil alih dan logika sering ditinggalkan. Contoh sederhana, membeli saham di harga tinggi karena takut ketinggalan, lalu menjual di harga rendah karena takut rugi lebih dalam. Pola ini sering terjadi dan menjadi pelajaran mahal bagi banyak orang. Pada akhirnya, kejatuhan pasar saham bukanlah musuh, melainkan guru yang keras tapi jujur. Facebook X WhatsApp Telegram
